Fans Manchester United Juara Satu Paling Rasis

Fans Manchester United Juara Satu Paling Rasis

Gilabola.com – Fans Manchester United jadi juara satu paling rasis hingga ditangkap polisi. Fans klub Liga Inggris itu bahkan kalahkan 9 fans klub lainnya.

Fans Manchester United telah terlibat dalam penangkapan terkait dengan sepak bola di mana rasisme merupakan faktor yang menjengkelkan dalam empat musim hingga 2017-18. Mereka memuncaki daftar fans klub paling rasis dalam data yang dilaporkan Home Office.

Data yang dirilis berdasarkan permintaan soal kebebasan informasi oleh Asosiasi Pers itu menunjukkan bahwa ada 27 orang yang tercatat sebagai fans United oleh polisi ditahan selama musim 2014-15 hingga 2017-18. Klub Championship Leeds dan Millwall masing-masing memiliki 15 pendukung saja yang ditangkap, sementara Leicester memiliki 14 fans dan Chelsea 13 fans.

Musim 2018-19 di Inggris telah dirusak oleh serangkaian insiden dan penangkapan yang berkaitan dengan rasisme. Di mana rasisme telah dicatat sebagai pendorong terjadinya sebuah insiden. Petugas yang melakukan penangkapan diminta untuk mencentang kotak pengumpulan data, yang menjadi alasan pihak Home Office mengatakan jika akurasi keseluruhan data tidak dapat dijamin.

Advertisement
advertisement
advertisement
DepoToto
DepoToto

The Red Devisl menyatakan soal kenyataan kehadiran fans mereka yang besar membuat persentase pendukung mereka yang terlibat tidak sedikit juga. Seorang juru bicara klub mengatakan melalui BT Sport: “Tidak ada tempat untuk rasisme dalam permainan kami, atau dalam masyarakat secara keseluruhan.”

“Kami berkomitmen untuk bekerja untuk membuat Sepakbola bebas dari segala bentuk diskriminasi, baik melalui kampanye ‘ semua merah semua sama ‘ kami atau untuk mendukung pengusiran fans rasis dan organisasinya.”

“Statistik ini berlaku untuk 0,0004 persen dari fanbase kami yang datang ke pertandingan. Saya yakin hasil ini tidak mencerminkan pandangan atau perilaku fans kami secara keseluruhan dengan cara apapun.”

“Kami akan meneruskan pengawasan dan kerjasama dengan pihak berwenang untuk mencoba mengidentifikasi dan membasmi segala bentuk perilaku diskriminatif. Kami akan mengambil tindakan yang tepat jika hal ini masih terus terjadi.”

Hal ini dipahami ada 69.000 penggemar laga kandang di antara 72.000 pendukung untuk setiap pertandingan di Old Trafford, dengan minimal 3.000 penggemar Setan Merah di setiap laga tandang. Klub ini pertama kali mengembangkan kampanye #allredallequal, melawan segala bentuk diskriminasi, selama musim 2016-17.

Manchester United tidak mendukung aksi rasisme

United juga memiliki aplikasi proses pesan teks ‘Virtual Steward’ untuk memungkinkan penggemar melaporkan pelanggaran seperti aksi-aksi rasisme. Data menunjukkan total keseluruhan dari 107 penangkapan di mana rasisme dicatat sebagai dasar pemicunya selama musim 2014-15, naik ke 114 di 2015-16. Angka kemudian turun selama dua musim, dengan 94 penangkapan tercatat di 2016-17 dan hanya 75 di 2017-18.

Klub lain dengan penangkapan dalam angka ganda adalah West Ham (11), dengan Barnsley, Manchester City, Middlesbrough dan Sunderland semuanya 10 kali penangkapan.

Pada 2018-19 pemain Inggris, Raheem Sterling, menyatakan jika dirinya tersiksa secara ras selama pertandingan untuk klubnya Manchester City di Chelsea. Pemain berkulit hitam Inggris mengalami pelecehan selama kualifikasi Euro 2020 saat pergi ke Montenegro pada bulan Maret, sementara seorang pendukung Tottenham dikenakan larangan menonton laga sepak bola selama empat tahun dan £500 denda setelah melemparkan kulit pisang terhadap pemain Arsenal, Pierre-Emerick Aubameyang, pada bulan Desember tahun lalu.

Organinasi Anti-diskriminasi kick it out melaporkan bulan November lalu bahwa ada 520 laporan pelecehan diskriminatif selama musim 2017-18, atau terjadi peningkatan 11 persen pada musim sebelumnya dan tahun keenam berturut-turut. 53 persen dari laporan tersebut terkait dugaan pelecehan rasis.

Angka ini menunjukkan jika rasisme adalah masalah nasional yang tersebar merata diantara klub dari semua ukuran yang berbeda di semua bagian negara. Sebagai tanggapan terhadap data yang dirilis tersebut, kick it out menyatakan: “Angka ini menunjukkan rasisme adalah masalah nasional yang dilakukan secara merata oleh fans klub dengan semua ukuran yang berbeda di semua bagian negara.”

“Kami mendukung semua pihak yang menantang segala aksi rasisme dan bentuk diskriminasi lainnya, dan akan melanjutkan program pendidikan (sosialisasi anti rasisme) kita dalam pertandingan untuk membantu mengurangi masalah ini.”