Formasi Sama Hasil Kok Beda? Ruben Amorim Harus Contek Cara Oliver Glasner di Crystal Palace

Gilabola.com – Ruben Amorim sempat melontarkan keluhan bahwa setiap kali Manchester United kalah, formasi 3-4-3 langsung dijadikan kambing hitam, sementara ketika mereka menang, taktiknya jarang dipuji. Formasi itu menjadi topik terpanas sejak ia mendarat di Old Trafford, terutama karena banyak yang menilai sistem tersebut sulit hidup di Premier League. Namun, Oliver Glasner bersama Crystal Palace justru membuktikan hal sebaliknya.

Sejak menggantikan Roy Hodgson pada Februari 2024, Glasner menerapkan struktur 3-4-3 yang sama, tetapi dengan hasil yang kontras dibandingkan United. Datang ketika Palace duduk di posisi ke-15, ia kemudian membawa klub meraih salah satu periode paling sukses dalam sejarah mereka.

Palace memenangkan FA Cup — trofi mayor pertama mereka — sekaligus lolos ke Eropa untuk pertama kalinya. Mereka mencatatkan rekor tak terkalahkan terpanjang klub (19 pertandingan selama enam bulan) dan mengangkat Community Shield musim ini. Kini mereka bertengger di peringkat lima Premier League, menjalani musim terbaik sejak finis ketiga di First Division pada 1990.

United di sisi lain mengalami arah sebaliknya. Amorim mengakhiri musim lalu dengan peringkat terburuk klub dalam 51 tahun. Bahkan melawan Everton yang bermain dengan 10 orang, United tetap gagal menang meski unggul jumlah pemain selama 77 menit. Menjelang laga tandang ke selatan London akhir pekan ini, berikut enam pelajaran penting yang bisa ia petik dari Glasner untuk membuat 3-4-3 benar-benar bekerja.

Menentukan Formasi Berdasarkan Karakter Skuad

Meski Amorim dan Glasner sama-sama dikenal sebagai pengguna setia 3-4-3, cara keduanya menerapkannya sangat berbeda. Amorim datang ke United dengan niat bulat memainkan sistem tersebut sejak hari pertama, meski skuad yang ia warisi penuh pemain sayap tradisional dan minim bek sayap alami.

Glasner sebaliknya lebih fleksibel. Ia hanya memakai 3-4-3 di Eintracht Frankfurt karena cocok dengan materi pemain. Ia pernah menjalani promosi dengan 4-4-2 dan lolos Liga Champions bersama Wolfsburg menggunakan 4-2-3-1. Prinsipnya sederhana: sistem mengikuti pemain, bukan sebaliknya.

Sebaliknya, rigiditas Amorim terlihat jelas melawan Everton ketika ia menolak menyesuaikan taktik meski momentum laga berubah. Di titik inilah pragmatisme Glasner terasa jauh lebih efektif.

Tak Harus Selalu Mendominasi Penguasaan Bola

Era dominasi Barcelona membuat banyak tim terobsesi menguasai bola. Namun Premier League modern telah bergeser. Kekalahan United dari Everton menjadi contoh paling telak bahwa penguasaan bola bukan segalanya — 70% ball possession tak menghasilkan apa pun.

Palace justru menjadi bukti keberhasilan pendekatan berbeda. Mereka berada di posisi ketiga terbawah soal penguasaan bola, namun duduk di posisi lima klasemen. Sementara United berada di posisi kedelapan penguasaan tetapi peringkat 10 liga.

Musim ini United justru tampil lebih efektif ketika tidak memegang bola. Kemenangan atas Liverpool, Brighton, dan Chelsea semuanya diraih dengan penguasaan bola lebih rendah. Hanya saat melawan Burnley — tim dengan penguasaan bola terendah di liga — United menang saat dominan.

Ketika Amorim mengatakan Sporting CP “tidak bisa bermain se-defensif itu” setelah mengalahkan Manchester City, ia mungkin belum melihat kondisi United sekarang. Yang dibutuhkan fans hanyalah hasil, bukan persentase possession.

Pentingnya Memiliki Penyerang Tengah yang Teruji

Pertemuan terakhir United dengan Palace adalah gambaran jelas betapa pentingnya striker murni. Jean-Philippe Mateta tampil klinis, sedangkan United justru memulai laga dengan Kobbie Mainoo sebagai false-nine.

Padahal Mateta sempat disebut-sebut sebagai opsi yang masuk akal untuk United, tetapi klub justru mengeluarkan £74 juta untuk Benjamin Sesko — seorang striker dengan kekurangan serupa Rasmus Hojlund. Sesko baru mencetak dua gol musim ini dan kini absen enam pekan karena cedera lutut. Amorim bahkan tidak memainkannya sejak awal melawan Liverpool dan Tottenham.

Joshua Zirkzee gagal memanfaatkan kesempatannya melawan Everton, sementara Mateta menjadi contoh kebalikannya. Enam gol musim ini menempatkannya di posisi empat daftar top skor liga, dan total 30 gol dalam dua musim terakhir menunjukkan konsistensi yang tidak dimiliki penyerang United mana pun.

Wing-Back Harus Bermain di Sisi yang Tepat

Dalam 3-4-3, wing-back adalah nyawa sistem. Namun Amorim sering kali salah menempatkan pemain di posisi ini. Amad Diallo menjadi pengecualian karena performanya tetap stabil, tetapi bermain lebih dalam sebagai wing-back tidak benar-benar memaksimalkan kemampuannya sebagai winger.

Kesalahan serupa terjadi pada Diogo Dalot yang sering dimainkan sebagai left wing-back. Karena kaki kanannya dominan, ia kesulitan melewati pemain dan nyaris selalu memotong ke dalam. Kritik Gary Neville dan Jamie Carragher mengenai perannya sebagai wing-back kiri adalah gambaran nyata ketidaktepatan tersebut.

Glasner justru memilih pendekatan paling sederhana: pemain kanan di kanan, pemain kiri di kiri. Daniel Munoz dan Tyrick Mitchell bermain alami di flank masing-masing dan menghasilkan kontribusi nyata — 17 kontribusi gol untuk Munoz sejak Januari 2024 dan 11 kontribusi gol untuk Mitchell sejak 2023-24.

Selain statistik, energi dan volume lari mereka membuat Palace sangat mematikan saat transisi. Keduanya masuk lima besar pemain dengan jarak lari terjauh versi OPTA.

Membangun Tim di Sekitar Gelandang Pengatur Tempo

Kedatangan Adam Wharton pada Februari 2024 menjadi titik balik besar bagi Palace. Setelah menjalani masa adaptasi dari Championship, ia membantu klub memenangkan enam dari tujuh laga terakhir musim tersebut — termasuk kemenangan 4-0 atas United yang hampir membuat Erik ten Hag dipecat.

Wharton kemudian menjadi poros dalam rekor 19 laga tak terkalahkan Palace serta sukses mereka menjuarai FA Cup dan menumbangkan Manchester City di final.
Ia bukan gelandang yang mengejar gol atau assist, tetapi pengatur ritme yang membuat seluruh tim berjalan stabil.

United telah lama membutuhkan gelandang muda tipe pengatur tempo seperti ini. Casemiro terlalu banyak menguras tenaga, sementara Bruno Fernandes kurang cocok bermain lebih dalam. Wharton menjadi contoh profil ideal yang United butuhkan: sederhana, efisien, tetapi berpengaruh.

Tunjukkan Keyakinan pada Strategi

Amorim dikenal lugas, tetapi sering kali terlalu blak-blakan hingga meruntuhkan mental tim. Pernyataan seperti “kita adalah Manchester United terburuk sepanjang sejarah” atau aksi memecahkan televisi mungkin menarik untuk media, tetapi berbahaya bagi ruang ganti.

Glasner mengambil jalan berbeda. Setelah kalah 5-2 dari Manchester City musim lalu, ia menyatakan kepada Pep Guardiola bahwa jika mereka bertemu lagi, City tidak akan bisa memakai sistem yang sama karena Palace akan menemukan solusinya. Sebuah klaim percaya diri yang terbukti sebulan kemudian ketika mereka mengalahkan City di final FA Cup.

Ia juga membangun keyakinan bahwa Palace mampu mengalahkan tim-tim besar. Tiga kemenangan atas Liverpool musim ini adalah bukti, dan hanya Arsenal yang kalah lebih sedikit dari Palace.

Seperti diungkap Adam Wharton: Glasner selalu memberi solusi untuk mengalahkan tim besar — dan para pemain mempercayainya.

SebelumnyaUsia 52 Tahun, Ryan Giggs Jalani Babak Baru Bersama Pasangan yang 15 Tahun Lebih Muda
SelanjutnyaHasil Malut United vs Arema FC 1-1: Kie Raha Harus Puas Berbagi Poin