Harry Kane Prioritas Pelatih Baru Tottenham Hotspur

Harry Kane Prioritas Pelatih Baru Tottenham Hotspur

Gilabola.com – Harry Kane akan jadi prioritas pelatih baru Tottenham Hotspur, siapapun orangnya. Sang manajer harus bisa mempertahankan bintang Timnas Inggris ini tetap membela the Lilywhites.

Penerus Mauricio Pochettino harus bisa meyakinkan Kane agar ia menolak tawaran dari banyak klub dan tetap bersama Hotspur. Apalagi, kapten Inggris itu sudah lama loyalnya pada Spurs, dia selalu mengatakan ‘salah satu milik kami’ kepada para pendukung setia Spurs, di samping setia kepada Poch dan manajer tim nasional Gareth Southgate.

Namun, musim panas mendatang Kane akan berusia 27 tahun. Dia secara luas diakui sebagai salah satu striker terbaik di planet ini, meskipun belum pernah memenangkan trofi. Demikian diungkapkan SunSport.

Saat ini, Kane masih terikan kontrak empat setengah tahun di Tottenham Hotspur, meski diyakini lamanya kesepakatan itu hanyalah alat tawar-menawar yang memungkinkan pimpinan klub, Daniel Levy, untuk meningkatkan biaya transfernya.

Advertisement
advertisement
advertisement
Ratu Casino 77
Ratu Casino 77

Jika Kane memutuskan untuk mencari sesuatu yang lebih besar dan lebih baik pada musim depan, maka akan sulit – bahkan bagi Levy, untuk mempertahankannya bersama Spurs.

Pochettino mencintai Kane karena suatu kesalahan. Dia memilih untuk memainkannya sebagai starter di final Liga Champions melawan Liverpool musim lalu ketika dia sedang tidak fit, setelah hampir dua bulan absen karena cedera engkel.

Namun, sejak malam final yang digelar di Madrid itu, bahkan kepandaian Kane dalam mencetak gol tetap tak bisa membuat pelatih asal Argentina itu mempertahankan pekerjaannya.

Semua orang yang dekat dengan Spurs tahu pertandingan Liga Champions yang luar biasa musim lalu, yakni saat Harry Kane dan kawan-kawan meraih hasil imbang di Barcelona, ​​menang atas Borussia Dortmund, kemenangan gila atas Manchester City dan comeback yang luar biasa di laga melawan Ajax, hanya melonggarkan celah waktu Pochettino di Spurs.

Tottenham kalah dalam 20 pertandingan musim lalu. Mereka tak menggelontorkan satu sen pun di dua jendela transfer sebelumnya, dan telah menghabiskan waktu hampir dua tahun menyewa lapangan di Wembley.

Apa yang diraih Pochettino dalam mengamankan empat kualifikasi Liga Champions berturut-turut dengan pengeluaran transfer yang negatif, sebenarnya bisa dinilai sebagai keajaiban yang terjadi di sepakbola modern.

Namun pelatih Argentina itu tahu betul, para pemainnya tidak dibayar sesuai kurs pasar, sejumlah pemain tua yang masih ia inginkan juga telah didorong Levy keluar dari Spurs, dan kualitas pasukannya telah terdilusi selama beberapa tahun sebelumnya.

Bahkan ketika Levy kembali memasuki pasar transfer musim panas lalu, Pochettino tidak terkesan. Klub datangkan Tanguy Ndombele sebagai seorang pemain yang menjanjikan, tapi Spurs terus mendesak pemain mahal itu agar tampil konsisten.

Pemain muda Ryan Sessegnon, 19 tahun, dan Jack Clarke, 18 tahun, juga bukan pemain yang diinginkan Pochettino. Hingga sejauh musim ini, Sessegnon belum pernah tampil sebagai starter untuk Spurs, sedangkan Clarke akhir harus dipinjamkan lebih dulu ke bekas klubnya, Leeds United.

Frustrasi menjadi jelas ketika Poch bersikeras, jabatannya harus diturunkan levelnya dari ‘manajer’ menjadi ‘pelatih kepala’ karena kurangnya pengaruh Pochettino dalam kebijakan rekrutmen klub.

Belakangan ini pelatih 47 tahun itu menjadi lebih murung dan terus-menerus cemberut, sejak gagal di final Madrid. Pochettino pun dinilai sangat beralasan untuk melakukannya. Walaupun selama lima tahun lebih bertugas di Spurs, Poch berhasil mengukuhkan dirinya sebagai pelatih terhebat kedua Tottenham sepanjang masa, setelah Bill Nicholson.