Jurgen Klopp, dari Pecundang Black Forest ke Pahlawan Liverpool

Jurgen Klopp, dari Pecundang Black Forest ke Pahlawan Liverpool

Gilabola.com – Jurgen Klopp ternyata pernah diramal akan jadi pelatih sepakbola sukses, bahkan sejak dia masih di sekolah dasar.

Jens Haas – teman masa kecil Klopp, ingat betul bagaimana dia berpikir bahwa Klopp akan menjadi seorang manajer sepakbola suatu hari nanti. Saat itu, keduanya masih berusia 11 tahun, dan sama-sama bermain untuk tim muda klub sepakbola Glatten SV. Suatu hari, Klopp dan Haas asik dengarkan siaran langsung pertandingan Bundesliga klub kesayangan mereka, Stuttgart, dari radio.

Klopp muda mulai menganalisa taktik yang akan dimainkan Stuttgart dalam laga tersebut, dan ia menyarankan klub itu untuk lakukan beberapa pergantian pemain untuk bisa mengubah arah permainan.

Benar saja apa yang dikatakan Klopp. Karena beberapa saat kemudian, sang komentator mengonfirmasikan Stuttgart lakukan pergantian pemain dan sejumlah nama pemain yang baru saja disebutkan Klopp langsung saling bergantian keluar-masuk lapangan.

Advertisement
RatuCasino77
RatuCasino77
SBOTOP
SBOTOP

“Saya kagum dengan pengetahuan dan pemahamannya pada sebuah pertandingan. Kadang-kadang saya pikir, saat itu, dia bahkan sudah menjadi seorang pelatih,” ujar Haas, seperti dilansir BBC Sport.

Saat mengasuh Mainz, Jurgen Klopp sangat dihormati di klub yang kini bertengger di peringkat 12 klasemen sementara Bundesliga itu. Ia menangani klub tersebut di tahun yang sama, tahun 2001, setelah ia bermain dalam 325 laga dan bukukan 52 gol.

Klopp saat akan tinggalkan Dortmund di tahun 2015, setelah persembahkan dua gelar liga, satu Piala Jerman dan melaju ke final Liga Champions pada 2013.

Klopp yang kerap bermain sebagai striker dan bek kanan itu, Mainz, ikut membawa Mainz naik ke Bundesliga untuk pertama kalinya. Lalu, ia juga berprestasi di Borussia Dortmund, di mana Die Borussen berhasil menghancurkan dominasi Bayern Munchen, dan sekarang bersama Liverpool, di mana ia membawa klubnya itu menjadi juara Liga Champions dan mengangkat trofi European Cup ke enam mereka. Kini, the Reds pun tinggal selangkah lagi meraih gelar juara liga yang ke-19 dalam sejarah mereka, namun tengah terhambat akibat wabah pandemi coronavirus saat ini.

Sama-sama nyaman bergaul dengan para pemain, suporter, eksekutif klub dan para jurnalis, pelatih yang ternama dengan senyum lebarnya, gayanya menggerakkan tangan saat di pinggris lapangan dan pelukan hangatnya terhadap sesama, ini tampaknya telah menjadi andalan klub-klub ini dalam memenuhi impian mereka.

Klopp kecil dan sang ayah, Norbert (kiri).

Masih ada banyak cerita tentang kepribadian dan metode Klopp, ketika kita berbicara dengan beberapa tokoh kunci dalam perjalanannya ke Anfield. Seluruh cerita pelatih yang memiliki dua kakak perempuan ini dimulai di Glatten, sebuah desa di perbukitan Black Forest di barat daya Jerman yang sangat indah, tempat di mana ia menghabiskan masa kecil dan tahun-tahun pembentukan pribadinya.

Dipaparkan bagaimana BBC Sport bertemu Haas di seberang sebuah toko roti, di samping air mancur yang mengalir ke Sungai Glatt – desa yang memiliki nama serupa. Di sinilah Jurgen, Jens dan rekan-rekan satu tim mereka di SV Glatten biasa berkumpul, sebelum lakukan pertandingan tandang.

Berjalan-jalan di sepanjang tepi sungai yang berumput, tempat anak-anak lelaki biasa mengendarai sepeda motor mereka, membawa Anda ke rumah masa kecil Klopp, sebuah rumah besar berpinggiran putih – tempat di mana ibunya masih tinggal di sana. Rumahnya terletak di seberang balai kota baru yang berkilau, dan kurang dari satu blok saja terdapat sekolah dasar tempat Klopp dan Jens menimba ilmu.

Di sinilah, di antara perbukitan Swabia – negeri jam kukuk, kostum tradisional dan makanan lezat di kawasan Jerman barat daya, Jurgen Klopp mengembangkan rasa kebebasannya, jauh dari industri dan intensitas Mainz, Dortmund maupun Liverpool.

“Orang-orang di sini sangat tenang dan kompak. Mereka sangat berhati-hati dengan uang. Mereka suka bekerja dan menilai orang lain atas apa yang mereka lakukan,” ujar Jens.

“Orang-orang Swab perlu waktu untuk bisa akrab, tapi begitu Anda berteman, Anda akan menjadi teman seumur hidup. Itu tempat yang sangat bagus untuk tumbuh dan berkembang. Anda punya waktu untuk diri sendiri dan bisa fokus pada apa yang ingin Anda lakukan,” tambahnya.

Jurgen Klopp dan tim sepak bola masa kecilnya.

Dua kakak perempuan Klopp, diakui pelatih the Reds itu seperti ibu kedua baginya. Tapi, sang ayah, Norbert, bekerja sebagai pedagang keliling dan mantan kiper klub amatir – yang mendorongnya untuk aktif di dunia olahraga.

Jurgen Klopp dulu merupakan seorang gelandang dan kapten untuk tim muda SV Glatten, sampai ia akhirnya pindah ke TuS Ergenzingen saat usianya masih remaja – tim yang lebih besar di kota yang berjarak 15 mil. Bahkan pelatih pertamanya pernah menyebutnya sebagai ‘pecundang buruk’, tapi merupakan punya bakat besar sebagai pemimpin.

“Dia selalu benar di garis depan dan dia berbicara ketika ada sesuatu yang tidak benar,” ujar pelatih itu, Ulrich Rath, yang kini telah berusia 79 tahun.

“Kami punya hubungan yang baik. Dia ambisius, dan akan selalu memberi tahu rekan satu timnya ‘Ayo, semangat’ dan mendorong mereka,” tambahnya.