Gilabola.com – Laporan keuangan terbaru Tottenham Hotspur menunjukkan bahwa klub mengalami peningkatan kerugian yang signifikan hingga mencapai sekitar Rp1,9 triliun (setara £94,7 juta) untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2025. Selain itu, total utang klub tercatat melampaui Rp16,3 triliun (lebih dari £800 juta), sebagaimana diumumkan dalam rilis finansial pada hari Selasa 31 Maret.
Besarnya kerugian ini mencerminkan kondisi sulit yang tengah dihadapi klub, terutama dengan ancaman degradasi dari Premier League yang berpotensi memperburuk situasi keuangan mereka. Meski demikian, Tottenham tetap memperoleh pemasukan besar dari keberhasilan mereka menembus babak 16 besar Liga Champions musim ini.
Performa yang kurang memuaskan dari tim putra dan putri Tottenham selama periode laporan juga berdampak langsung terhadap penurunan pendapatan dari hak siar televisi dan media.
Kerugian sebesar Rp1,9 triliun tersebut sudah mencakup berbagai faktor seperti depresiasi, amortisasi, aktivitas transfer pemain, bunga, serta pajak. Sebagai perbandingan, dua tahun sebelumnya klub hanya mencatat kerugian sekitar Rp523 miliar (£26,2 juta), yang berarti terjadi peningkatan lebih dari 260 persen.
Di sisi lain, total pendapatan klub justru mengalami kenaikan. Tottenham mencatat pemasukan sebesar Rp11,3 triliun (£565,3 juta), meningkat sekitar tujuh persen dibandingkan Rp10,6 triliun (£528,2 juta) pada tahun 2024. Kenaikan ini didorong oleh keberhasilan di Liga Europa serta performa komersial yang kuat, termasuk dari sponsor, penjualan merchandise, dan berbagai acara di stadion.
Dalam pernyataan resmi, klub juga mengungkapkan adanya peningkatan dari berbagai sumber pendapatan, termasuk tiket pertandingan, hadiah dari UEFA, serta sektor komersial.
Pendapatan dari tiket pertandingan mencapai sekitar Rp2,53 triliun (£126,5 juta), meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp2,12 triliun (£105,8 juta), berkat jumlah pertandingan yang lebih banyak di stadion. Sementara itu, pendapatan dari hadiah UEFA melonjak menjadi sekitar Rp694 miliar (£34,7 juta), dibandingkan hanya Rp26 miliar (£1,3 juta) pada 2024.
Namun, pendapatan dari hak siar televisi dan media justru turun menjadi sekitar Rp2,54 triliun (£127 juta), dari sebelumnya Rp3,32 triliun (£165,9 juta), seiring posisi klub yang finis di peringkat ke-17 Premier League. Penurunan ini setara dengan sekitar 23 persen.
Pendapatan komersial dan sumber lainnya meningkat menjadi sekitar Rp5,54 triliun (£277,1 juta), naik dari Rp5,10 triliun (£255,2 juta). Peningkatan ini berasal dari sponsor, penjualan merchandise, acara stadion, tur pramusim, serta kegiatan konferensi dan event lainnya.
Meski pendapatan meningkat, beban operasional klub (sebelum aktivitas transfer pemain) juga naik sebesar 15 persen menjadi sekitar Rp10,42 triliun (£521,5 juta), dibandingkan Rp9,07 triliun (£453,6 juta) pada tahun sebelumnya.
Keuntungan operasional sebelum depresiasi dan faktor lainnya mengalami penurunan 22 persen, dari sekitar Rp2,90 triliun (£144,9 juta) menjadi Rp2,25 triliun (£112,3 juta).
Dari sisi utang, kondisi Tottenham juga cukup mengkhawatirkan. Hingga 30 Juni 2025, total utang bersih klub mencapai sekitar Rp16,95 triliun (£831,2 juta), meningkat dari Rp15,77 triliun (£772,5 juta) pada tahun sebelumnya. Lebih dari 90 persen dari total pinjaman sebesar Rp17,37 triliun (£851,7 juta) memiliki suku bunga tetap, dengan rata-rata bunga 3,07 persen.
Jangka waktu rata-rata utang tersebut mencapai 17,6 tahun, dengan sebagian jatuh tempo hingga tahun 2051, yang dinilai membantu menjaga stabilitas finansial jangka panjang klub. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Tottenham juga tidak membagikan dividen.
Saat ini, Tottenham berada di posisi ke-17 klasemen Premier League, hanya unggul satu poin dari zona degradasi, meskipun telah mengeluarkan dana transfer bersih sekitar Rp3,06 triliun (£150 juta) pada musim panas lalu. Jika gagal bertahan di liga, dampak finansialnya diperkirakan akan sangat besar bagi klub yang masih dianggap bagian dari “Big Six”.
Tottenham masih memiliki peluang untuk memperbaiki situasi. Mereka dijadwalkan menghadapi Sunderland pada 12 April 2026 WIB di Stadium of Light. Di sisi lain, manajemen klub juga tengah berupaya menunjuk pelatih baru dalam waktu dekat agar tim memiliki waktu untuk beradaptasi.
Nama Roberto De Zerbi disebut sebagai kandidat terkuat setelah pembicaraan dilakukan pada hari Senin. Pelatih baru nantinya hanya akan memiliki tujuh pertandingan tersisa untuk mengubah nasib tim.
Nah jika dikaitkan dengan hutang Tottenham, tentunya De Zerbi harus berpikir ulang, apakah mungkin memperbaiki kondisi klub tanpa belanja pemain? Kalau pun belanja di bursa transfer, uangnya pasti tak banyak.

