Keputusan Transfer Liverpool Jadi Taruhan Besar Untuk Posisi Liga Champions

Liverpool memilih untuk tidak menambah pemain baru pada detik-detik terakhir bursa transfer musim dingin, meski tengah dilanda krisis cedera di lini belakang. Keputusan tersebut membuat The Reds mengambil risiko besar, terutama ketika mereka sedang berjuang untuk kembali ke zona Liga Champions.

Pada hari terakhir bursa transfer, suasana di internal klub terasa tegang. Liverpool sempat mencoba mengambil alih kesepakatan peminjaman Lutsharel Geertruida dari RB Leipzig ke Sunderland demi menambah opsi pertahanan bagi pelatih Arne Slot. Namun, rencana itu tidak pernah benar-benar terwujud.

Situasi ini terjadi di tengah cedera yang menimpa Conor Bradley, Joe Gomez, dan Jeremie Frimpong. Padahal, sebelumnya Slot sempat menyatakan bahwa klub kemungkinan besar tidak akan aktif di pasar transfer.

Upaya Mendatangkan Geertruida yang Gagal

Geertruida, yang pernah menjadi kapten Slot di Feyenoord, menjadi target utama Liverpool di hari-hari terakhir bursa. Namun, statusnya yang sedang dipinjamkan ke Sunderland membuat negosiasi menjadi rumit.

Pihak Sunderland memahami peluang yang muncul, tetapi mereka juga membutuhkan pengganti jika harus melepas bek asal Belanda tersebut. Karena proses yang terlalu kompleks, Liverpool akhirnya mundur dari kesepakatan tersebut pada Minggu malam.

Dalam periode yang sama, Liverpool justru berhasil mencapai kesepakatan senilai 60 juta pound sterling dengan Rennes untuk mendatangkan Jeremy Jacquet pada musim panas. Jika dikonversikan, nilai transfer itu setara sekitar Rp1,2 triliun.

Langkah ini mencerminkan pola lama Liverpool: lebih memilih investasi jangka panjang ketimbang solusi darurat.

Filosofi Transfer Jangka Panjang Liverpool

Selama satu dekade terakhir, Liverpool dikenal konsisten dengan pendekatan transfer yang berhati-hati. Mereka jarang mengambil keputusan panik, bahkan dalam situasi mendesak.

Pendekatan ini terbukti membawa hasil. Dibandingkan klub besar lain di Premier League, Liverpool memiliki catatan rekrutmen yang relatif bersih dari kegagalan besar. Pemain yang didatangkan mungkin masih bisa diperdebatkan kualitasnya, tetapi kesalahan mahal jarang terjadi.

Slot sendiri menegaskan bahwa setiap keputusan selalu mempertimbangkan kepentingan jangka pendek dan jangka panjang klub.

Ia menyebut bahwa Jeremy Jacquet memang tidak tersedia untuk musim dingin, tetapi Liverpool tetap memilih merekrutnya karena dianggap penting untuk masa depan tim. Slot juga menegaskan bahwa ia puas dengan skuad yang ada, meski mengakui adanya tiga cedera jangka panjang pada Bradley, Giovanni Leoni, dan Alexander Isak.

Pelajaran dari Masa Lalu

Keengganan Liverpool untuk panik di bursa transfer tidak lepas dari pengalaman buruk di masa lalu. Pada musim dingin 2021, mereka merekrut Ben Davies dan meminjam Ozan Kabak sebagai solusi darurat.

Hasilnya tidak memuaskan. Kabak dinilai tidak sesuai standar dan akhirnya tidak dipermanenkan, sementara Davies tidak pernah tampil untuk tim utama. Sejak saat itu, Liverpool semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan mendadak.

Pendekatan ini memang terlihat bijak, tetapi dalam kondisi tertentu, sikap tersebut juga membawa risiko.

Taruhan Besar di Tengah Persaingan Liga

Dengan tidak adanya tambahan pemain baru, Liverpool kini sepenuhnya bergantung pada kemampuan tim pelatih untuk memulihkan para pemain cedera dan menjaga kebugaran skuad yang terbatas.

Masalahnya, posisi Liverpool saat ini berada di peringkat keenam klasemen Premier League, di luar zona aman untuk lolos ke Liga Champions. Dalam situasi seperti ini, mengandalkan kembalinya Gomez dan Frimpong tanpa jaminan kebugaran jangka panjang menjadi pertaruhan besar.

Keputusan ini bukan berarti peluang Liverpool di Eropa sepenuhnya bergantung pada satu transfer. Namun, ketika klub mampu dengan cepat menyepakati pembelian Jacquet senilai Rp1,2 triliun untuk masa depan, memilih untuk “diam di tempat” pada saat ini tetap mengandung risiko besar.

Slot sendiri menyadari hal tersebut. Perencanaan jangka panjang memang penting, tetapi membiarkan skuad tetap tipis di tengah persaingan ketat harus dipandang sebagai perjudian oleh manajemen Anfield.

Kini, hasil dari keputusan tersebut akan sangat bergantung pada satu hal: apakah para pemain yang cedera mampu kembali tepat waktu dan bertahan dalam kondisi fit hingga akhir musim. Jika tidak, ambisi Liverpool untuk kembali ke Liga Champions bisa terancam.

Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!