Tottenham Hotspur kembali terjerumus dalam krisis setelah menelan kekalahan 1-3 dari Crystal Palace dalam lanjutan Premier League pada Kamis. Hasil ini semakin memperburuk peluang Spurs untuk bertahan di kasta tertinggi sepak bola Inggris.
Klub asal London tersebut kini hanya terpaut satu poin dari zona degradasi dan belum meraih satu pun kemenangan di kompetisi domestik sepanjang tahun 2026.
Striker Tottenham, Dominic Solanke, mengakui situasi timnya sangat sulit dan jauh dari harapan.
“Kami tahu posisi kami saat ini bukanlah tempat yang kami inginkan. Kami harus menemukan cara untuk keluar dari situasi ini secepat mungkin,” ujar Solanke.
“Ada banyak kesulitan, tetapi kami tidak berada dalam posisi untuk mencari alasan. Kami harus menyelesaikan tugas kami di lapangan.”
Kekalahan Kelima Beruntun Spurs
Kekalahan dari Crystal Palace menjadi yang kelima secara beruntun bagi Tottenham di Premier League. Ini juga merupakan kekalahan ketiga sejak Igor Tudor ditunjuk sebagai pelatih baru dengan misi membalikkan situasi buruk tim.
Alih-alih bangkit, Spurs justru tampil mengecewakan di hadapan pendukung sendiri di Tottenham Hotspur Stadium. Mereka kebobolan tiga gol di babak pertama meski sempat unggul lebih dulu.
Situasi semakin memburuk setelah bek Micky van de Ven diganjar kartu merah, membuat Tottenham harus bermain dengan 10 orang.
Crystal Palace memanfaatkan keunggulan jumlah pemain dengan sangat efektif. Tim tamu mencetak tiga gol hanya dalam rentang tujuh menit sebelum turun minum.
Ismaila Sarr menjadi bintang kemenangan Palace dengan dua gol, salah satunya melalui titik penalti. Satu gol lainnya dicetak oleh Jorgen Strand Larsen.
Padahal Tottenham sempat membuka keunggulan lebih dulu melalui Dominic Solanke pada menit ke-34. Namun empat menit kemudian, Van de Ven diusir keluar lapangan setelah menjatuhkan Sarr di kotak penalti, yang kemudian mengubah jalannya pertandingan.
Igor Tudor Tetap Berusaha Optimistis
Pelatih Tottenham Igor Tudor mengaku sangat kecewa dengan hasil pertandingan tersebut, sama seperti para pendukung timnya.
“Saya sangat kecewa, sama seperti para fans,” kata Tudor.
“Kami tahu situasi yang sedang kami hadapi dan kami harus terus bekerja keras serta tetap percaya.”
Meski demikian, Tudor mengaku melihat sesuatu yang positif dari reaksi para pemainnya setelah pertandingan.
“Setelah laga ini, saya justru lebih percaya daripada sebelumnya. Saya melihat sesuatu di tim dan di ruang ganti setelah pertandingan. Ketika skuad kami kembali lengkap, saya yakin semuanya akan menjadi lebih baik,” tambahnya.
Kontras dengan Prestasi di Kompetisi Eropa
Krisis yang dialami Tottenham di liga domestik terasa kontras dengan performa mereka di kompetisi Eropa.
Musim lalu Spurs berhasil menjuarai Liga Europa. Pada musim ini, mereka juga berhasil lolos ke babak gugur Liga Champions dan dijadwalkan menghadapi Atletico Madrid di babak 16 besar pekan depan.
Namun performa buruk di Premier League sebenarnya sudah terlihat sejak musim lalu, ketika Tottenham hanya finis satu tingkat di atas zona degradasi — posisi terendah mereka sepanjang era Premier League.
Klub Kaya yang Terancam Terdepak
Situasi sulit ini juga terjadi di tengah periode penuh gejolak di kursi kepelatihan Tottenham. Dalam kurang dari tujuh tahun, klub tersebut telah berganti pelatih sebanyak tujuh kali.
Secara historis, Tottenham merupakan salah satu klub mapan di Liga Inggris. Sejak tahun 1950, mereka hanya sekali terdegradasi dari kasta tertinggi sepak bola Inggris. Spurs juga merupakan salah satu anggota pendiri Premier League sejak kompetisi tersebut dimulai pada 1992.
Tottenham pernah dua kali menjuarai liga Inggris dan menjadi finalis Liga Champions pada 2019.
Stadion kebanggaan mereka yang berkapasitas hampir 63.000 penonton juga termasuk salah satu yang paling modern di Eropa. Arena tersebut rutin menjadi tuan rumah pertandingan NFL serta konser musik berskala internasional.
Dari sisi finansial, Tottenham juga tergolong raksasa. Firma akuntansi Deloitte menempatkan Spurs di posisi kesembilan dalam daftar klub terkaya dunia pada Januari lalu, dengan pendapatan mencapai sekitar 781 juta dolar AS (sekitar Rp12,3 triliun).
Angka itu bahkan menempatkan Tottenham di atas sejumlah klub besar Eropa seperti Chelsea, Inter Milan, AC Milan, dan Juventus.
Namun di lapangan, kenyataannya kini jauh berbeda. Tottenham justru sedang berjuang keras agar tidak terjerumus ke jurang degradasi.

