Fenway Sports Group (FSG) mendapatkan investasi fantastis sekitar Rp35,8 triliun untuk kurang dari sepertiga saham Liverpool. Kesepakatan tersebut melibatkan konsorsium yang dipimpin Amit Bhatia, dengan nama besar seperti pendiri Amazon Jeff Bezos dan salah satu pendiri Facebook Eduardo Saverin di dalamnya.
Nilainya memang luar biasa. Namun, pertanyaan terbesar justru bukan soal berapa banyak uang yang masuk ke Liverpool, melainkan apa yang akan terjadi dengan kepemilikan FSG setelah kesepakatan tersebut berjalan.
Laporan CNBC yang muncul tak lama setelah pengumuman investasi menyebut ada klausul yang memungkinkan konsorsium tersebut meningkatkan kepemilikan menjadi mayoritas dalam waktu 12 bulan. Nilai yang disebut untuk opsi tersebut mencapai hampir Rp173,6 triliun.
FSG sendiri secara internal membantah anggapan bahwa investasi ini merupakan awal dari berakhirnya kepemilikan mereka di Liverpool. Namun, mereka mengakui kesepakatan tersebut memberikan fleksibilitas mengenai bagaimana hubungan kepemilikan itu bisa berkembang dalam beberapa bulan dan tahun mendatang.
Dari klub bermasalah menjadi aset bernilai puluhan triliun
Sulit menyangkal keberhasilan John W Henry dan FSG sejak mengambil alih Liverpool pada Oktober 2010.
Ketika Henry berdiri di depan kantor firma hukum Slaughter and May di London pada 15 Oktober 2010, Liverpool baru saja keluar dari periode kepemilikan Tom Hicks dan George Gillett yang meninggalkan klub dalam kondisi sangat buruk dan nyaris menuju administrasi.
Saat itu, Liverpool bernilai sekitar Rp6,51 triliun.
Kini, kurang dari 16 tahun kemudian, investasi sekitar Rp35,8 triliun diberikan untuk kurang dari sepertiga saham klub.
Perubahan tersebut menggambarkan betapa besar peningkatan nilai Liverpool di bawah FSG.
Pendapatan klub juga melonjak. Dari sedikit di atas Rp3,9 triliun pada 2011, angka tersebut sudah melewati Rp15,1 triliun dalam laporan terbaru yang diumumkan Januari lalu.
Kenaikan pendapatan memang ikut dipengaruhi pertumbuhan nilai komersial Premier League. Namun, FSG juga berhasil membangun Liverpool sebagai salah satu klub yang dikelola dengan sangat baik dalam sepak bola Eropa dan dunia selama 15 tahun terakhir.
Secara bisnis, hasilnya jelas.
Tetapi Liverpool bukan sekadar aset bisnis.
Bagi pendukung di kota tersebut, klub merupakan bagian dari identitas dan kebanggaan lokal. Karena itu, perubahan besar di ruang direksi selalu membawa konsekuensi yang jauh lebih luas daripada sekadar angka dalam laporan keuangan.
Jay McKenna, ketua Spirit of Shankly, menegaskan kelompok suporter tersebut akan terus meminta kejelasan mengenai arah kepemilikan Liverpool.
Mereka bahkan telah menulis kepada Independent Football Regulator untuk meminta informasi lebih jelas mengenai investasi terbaru tersebut.
Amit Bhatia membawa pengalaman sepak bola Inggris
Pembicaraan antara konsorsium yang dipimpin Amit Bhatia dan FSG disebut sudah berlangsung lebih dari setahun, jauh sebelum kabar mengenai negosiasi itu muncul ke publik.
Bhatia sendiri merupakan pengusaha Inggris-India yang kini menjadi wakil ketua Liverpool. Sebelum masuk ke struktur kepemilikan baru di Anfield, ia memiliki pengalaman hampir dua dekade bersama Queens Park Rangers.
Hubungannya dengan John W Henry disebut difasilitasi Will McDonough, pendiri sekaligus chairman Corestone Capital dan mantan perwakilan legenda NFL Tom Brady.
Pengalaman panjang Bhatia di sepak bola Inggris menjadi salah satu faktor penting dalam menarik perhatian FSG. Apalagi, kelompok pemilik Liverpool memang sudah lama terbuka terhadap kemungkinan masuknya investor eksternal.
Pada 2022, FSG bahkan sempat menjajaki kemungkinan penjualan Liverpool secara penuh.
Kini mereka memilih jalur berbeda dengan menghadirkan investor baru.
Dan bukan investor sembarangan.
Jeff Bezos, pendiri Amazon sekaligus salah satu orang terkaya di dunia, diperkirakan memiliki kekayaan sekitar Rp4.427 triliun. Sementara Eduardo Saverin, salah satu pendiri Facebook, disebut memiliki kekayaan sekitar Rp521 triliun.
Bagi FSG, bukan cuma kekuatan finansial yang menjadi pertimbangan.
Keahlian, jaringan bisnis, serta kemampuan membuka pasar baru juga menjadi daya tarik.
Mantan managing director Liverpool, Christian Purslow, menilai kombinasi tersebut kemungkinan cocok dengan karakter investasi yang selama ini diinginkan FSG. Investor baru memiliki modal besar, tetapi tidak datang dengan keinginan untuk ikut menentukan susunan pemain, transfer atau keputusan teknis tim.
Itu penting bagi FSG.
Mereka tampaknya ingin mendapatkan tambahan kekuatan finansial dan bisnis tanpa kehilangan kendali operasional klub dalam waktu dekat.
India dan Asia menjadi pasar yang ingin digarap
Kehadiran Bhatia juga membuka kemungkinan Liverpool memperluas jangkauan ke India dan kawasan Asia.
Ia merupakan menantu Lakshmi Mittal, executive chairman ArcelorMittal, perusahaan pembuat baja terbesar di dunia.
Dengan kombinasi Bhatia, keluarga Mittal, Bezos dan Saverin, Liverpool memiliki akses ke jaringan bisnis dengan kekuatan yang sangat besar.
Namun, sampai sekarang rencana tersebut masih belum jelas di tingkat praktis.
Belum ada gambaran konkret mengenai bagaimana Liverpool akan memperluas aktivitasnya di Asia ataupun memperkuat jejak komersial di Amerika Utara melalui kelompok investor baru tersebut.
Justru bagian inilah yang membuat suporter meminta transparansi.
McKenna menilai perubahan kepemilikan sebesar ini memunculkan terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab. Apakah konsorsium hanya akan mempertahankan saham minoritas, atau pada akhirnya mengambil alih klub?
Jika laporan mengenai opsi membeli saham mayoritas dalam 12 bulan benar, pertanyaannya menjadi lebih besar lagi.
Sebab, para pendukung Liverpool perlu tahu siapa yang berpotensi memegang kendali klub dalam jangka panjang.
Apakah ini awal berakhirnya era FSG?
Inilah bagian paling sensitif dari kesepakatan tersebut.
FSG menyatakan investasi ini bukan tanda bahwa mereka sedang bersiap meninggalkan Liverpool. Namun, klausul yang dilaporkan CNBC membuat kemungkinan perubahan tersebut tetap terbuka.
Jika konsorsium Bhatia, Bezos dan Saverin benar-benar memiliki opsi untuk mengambil posisi mayoritas tahun depan, maka struktur kekuasaan di Anfield bisa berubah jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.
Spirit of Shankly juga mempertanyakan apakah perubahan kepemilikan tersebut benar-benar sudah final dalam bentuk seperti yang disampaikan kepada publik.
Bagi suporter, persoalannya sederhana: mereka ingin tahu siapa yang akan menjalankan Liverpool dalam jangka panjang.
McKenna bahkan mengingatkan bahwa FSG mungkin tidak langsung menjual seluruh sahamnya. Namun, kepemilikan mereka bisa saja berkurang secara bertahap.
Ini bukan lagi sekadar soal investasi. Ini soal arah Liverpool Football Club.

