Liverpool masih punya pekerjaan rumah besar di lini tengah meski persiapan menuju musim baru terus berjalan. Salah satu nama yang mulai muncul sebagai solusi adalah gelandang Monaco, Lamine Camara.
Liverpool diyakini ingin kembali merebut gelar Premier League setelah kehilangan mahkota tersebut secara drastis musim lalu. Namun, skuad Andoni Iraola masih memiliki sejumlah titik yang perlu diperbaiki.
Salah satunya berada di posisi lini tengah.
Performa Alexis Mac Allister menjadi perhatian setelah pemain asal Argentina itu mengalami penurunan yang cukup tajam musim lalu. Situasinya makin menarik setelah Curtis Jones, yang sempat disebut Jamie Carragher layak menggantikannya sebagai starter, justru telah dijual ke Inter Milan dengan nilai £35 juta.
Mac Allister memang sempat menunjukkan tanda-tanda kebangkitan pada awal era Iraola. Tetapi, mempertahankan pemain berusia 27 tahun itu sebagai solusi utama tetap mengandung risiko jika performa terbaiknya tidak kembali.
Liverpool pun membutuhkan tambahan kualitas.
Lamine Camara Masuk Radar Liverpool
Menurut jurnalis Foot Mercato, Lamine Camara merupakan salah satu pemain yang bisa mengisi kebutuhan tersebut.
Chelsea disebut memiliki minat besar terhadap gelandang Monaco itu. Liverpool juga ikut masuk dalam persaingan setelah melakukan pendekatan baru-baru ini, meski belum mengajukan tawaran resmi.
Monaco kabarnya memasang harga £65 juta untuk Camara.
Gelandang asal Senegal tersebut juga dikatakan antusias dengan kemungkinan pindah ke Liverpool dan bermain di Anfield.
Camara baru berusia 22 tahun, tetapi sudah mencatatkan 74 penampilan bersama Monaco sejak bergabung dari Metz. Dia mengoleksi enam gol dan 11 assist dalam periode tersebut.
Angka itu menjadi salah satu alasan mengapa Camara dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh.
Di Ligue 1 musim lalu, Camara bahkan mengungguli Mac Allister dalam hampir setiap metrik yang dibandingkan. Data tersebut memberikan gambaran mengenai mengapa Liverpool melihatnya sebagai kandidat peningkatan kualitas di lini tengah.
Filipe Luis, pelatih kepala Monaco, bahkan menyebut Camara sebagai “salah satu gelandang terbaik di dunia.”
Profil Camara Sesuai Kebutuhan Liverpool
Camara menawarkan paket yang cukup lengkap.
Dia memiliki kemampuan teknis yang baik, mampu memberikan umpan kreatif, memiliki stamina kuat, sekaligus agresif ketika menjalankan tugas bertahan. Kombinasi tersebut membuatnya terlihat cocok dengan kebutuhan Liverpool yang membutuhkan gelandang serba bisa.
Masalahnya, Liverpool belum juga memiliki spesialis nomor 6 setelah transfer Martin Zubimendi batal.
Ryan Gravenberch memang tampil bagus ketika tim asuhan Slot memenangkan gelar. Namun, dia akhirnya mengisi posisi tersebut setelah kesepakatan untuk Zubimendi gagal terealisasi.
Kondisi itu membuat kebutuhan terhadap gelandang dengan karakter berbeda semakin terasa.
Camara bisa menjadi jawabannya.
Liverpool tidak sekadar membutuhkan pemain yang mampu menguasai bola. Mereka membutuhkan gelandang yang bisa memberi energi, kualitas teknis, kreativitas, dan kekuatan dalam bertahan secara bersamaan.
Itulah yang membuat Camara menarik.
Statistik Lamine Camara vs Mac Allister
| Stats (* per 90) | Camara | Mac Allister |
|---|---|---|
| Main (Starter) | 24 (22) | 36 (30) |
| Gol + Assists | 3 + 4 | 2 + 4 |
| Sentuhan* | 70.9 | 50.1 |
| Umpan Akurat* | 43.5 (86%) | 33.6 (87%) |
| Peluang Diciptakan | 8 | 4 |
| Umpan Kunci* | 1.5 | 0.9 |
| Kehilangan Bola* | 14.1 | 7.8 |
| Dribel Sukses* | 0.7 (53%) | 0.3 (40%) |
| Pemulihan Bola* | 6.6 | 3.1 |
| Kontribusi Pertahanan* | 4.6 | 2.9 |
| Duel Dimenangkan* | 5.6 (53%) | 3.0 (45%) |
Mac Allister Masih Bisa Bangkit, Liverpool Tak Bisa Tunggu
Mac Allister tetap memiliki kualitas yang pernah membuatnya dianggap sebagai salah satu gelandang terbaik di Premier League. Namun, masalahnya adalah performa tersebut belum kembali ke level sebelumnya.
Bahkan, seorang pembuat konten pernah menggambarkan penampilan Mac Allister musim lalu seperti “Fabinho di musim terakhirnya” karena kemampuan fisiknya disebut mengalami penurunan drastis.
Liverpool juga masih memiliki kemungkinan mempertahankan pemain Argentina tersebut. Minat terhadap Mac Allister memang terus muncul sepanjang musim panas, tetapi kecil kemungkinan dia akan dijual.
Kontraknya yang memasuki tahun penjelang akhir juga membuat musim ini berpotensi menjadi periode penting bagi masa depannya di Merseyside.
Jika Mac Allister mampu kembali ke performa terbaik, situasinya tentu berbeda. Tetapi Liverpool tidak bisa hanya mengandalkan harapan tersebut ketika target mereka adalah kembali ke puncak Premier League.
Camara menawarkan sesuatu yang berbeda. Usianya lebih muda, masih memiliki ruang perkembangan besar, dan statistik musim lalu memberikan indikasi bahwa dia sudah mampu menghasilkan level permainan yang kompetitif.
Opini
Mac Allister bukan pemain tanpa kualitas. Masalahnya adalah Liverpool membutuhkan konsistensi performa semua pemainnya, bukan sekadar berharap sang pemain kembali seperti sebelumnya.
Camara juga belum pernah bermain di Liga Inggris Premier League. Jadi, menyebutnya sebagai pengganti yang pasti lebih baik dari Mac Allister masih terlalu dini. Namun, profilnya memberikan sesuatu yang cukup jelas: usia muda, kemampuan teknis, kreativitas, stamina, dan kontribusi bertahan.
Yang paling berisiko justru jika Liverpool menutup bursa tanpa menyelesaikan masalah pemain nomor 6. Gravenberch sudah menunjukkan kualitas, tetapi kebutuhan akan gelandang spesialis masih belum benar-benar terjawab.
Waktu semakin sempit. Dan untuk tim yang ingin kembali merebut gelar, lini tengah bukan area yang ideal untuk diabaikan.

