Liverpool mulai mematangkan rencana jangka panjang untuk sektor pertahanan mereka. Setelah memastikan kedatangan Jeremy Jacquet dari Rennes dengan nilai transfer 60 juta pound atau sekitar Rp1,14 triliun, klub kini dikaitkan dengan bek Borussia Dortmund, Nico Schlotterbeck, yang masa depannya tengah memasuki fase penentuan.
Pelatih Arne Slot secara terbuka menyatakan optimismenya terhadap masa depan Liverpool. Namun, di balik itu, manajemen klub juga menyadari perlunya membangun fondasi pertahanan baru seiring bertambahnya usia dan menipisnya kontrak sejumlah pemain inti.
Investasi Besar dan Proyek Regenerasi Bek
Kepindahan Jacquet akan menjadikannya sebagai bek termahal kedua dalam sejarah Liverpool, hanya kalah dari Virgil van Dijk yang diboyong pada Januari 2018 dengan nilai 75 juta pound atau sekitar Rp1,43 triliun. Investasi besar ini menunjukkan keyakinan klub terhadap potensi jangka panjang pemain berusia muda tersebut.
Meski begitu, perekrutan Jacquet bukan satu-satunya langkah yang disiapkan. Posisi bek tengah masih membutuhkan perhatian tambahan, terutama jika Ibrahima Konate memilih hengkang saat kontraknya berakhir. Sementara itu, Joe Gomez juga memasuki fase akhir kontraknya yang berakhir pada 2027 dan berpeluang mencari menit bermain lebih reguler di klub lain.
Liverpool juga telah merekrut Mor Talla Ndiaye pada bursa transfer Januari dengan biaya 1 juta pound atau sekitar Rp19 miliar, serta akan menyambut kedatangan Ifeanyi Ndukwe pada pramusim. Namun, keduanya masih berusia 18 tahun dan membutuhkan proses pembinaan sebelum siap bersaing di level utama.
Di sisi lain, Giovanni Leoni yang direkrut dengan nilai 26 juta pound atau sekitar Rp494 miliar musim panas lalu masih menjalani pemulihan cedera ACL. Bek berusia 19 tahun itu bahkan belum mencatatkan debut di Liga Inggris, sehingga kesabaran menjadi kunci dalam perkembangannya.
Situasi Kontrak dan Usia Van Dijk
Perencanaan Liverpool untuk era setelah Virgil van Dijk juga mulai terlihat jelas. Meski Arne Slot menyebut sang kapten berpeluang bertahan melewati kontraknya yang berakhir pada 2027, Van Dijk akan berusia 35 tahun pada Juli mendatang.
Jika bek asal Belanda itu memperpanjang masa baktinya, opsi rotasi kemungkinan akan diterapkan untuk menjaga kebugarannya. Situasi ini semakin memperkuat alasan Liverpool untuk mulai menyiapkan penerus di jantung pertahanan.
Pengalaman dari adaptasi pemain baru seperti Florian Wirtz, Milos Kerkez, dan Jeremie Frimpong juga menjadi pelajaran penting. Ketiganya membutuhkan waktu sebelum tampil konsisten, sesuatu yang juga mungkin terjadi pada Jacquet dan pemain muda lainnya.
Nico Schlotterbeck, Kandidat Pengganti Konate
Dalam konteks inilah, nama Nico Schlotterbeck muncul sebagai salah satu kandidat utama. Bek Borussia Dortmund berusia 26 tahun tersebut sedang memasuki fase puncak kariernya dan memiliki sisa kontrak kurang dari 18 bulan.
Setelah kemenangan 3-0 atas Union Berlin bulan lalu, Schlotterbeck mengungkapkan bahwa ia telah menetapkan tenggat pribadi untuk menentukan masa depannya sebelum musim panas. Dortmund pun berpotensi melepasnya lebih awal demi menghindari risiko kehilangan secara gratis pada 2027.
Berdasarkan data WhoScored, Schlotterbeck menjadi bek tengah dengan performa terbaik di lima liga top Eropa musim ini. Ia mencatatkan rating rata-rata 7,38, lebih tinggi dibandingkan Van Dijk dengan 7,00 dan Konate dengan 6,96.
Di Bundesliga, Schlotterbeck telah tampil dalam 16 pertandingan, mencetak tiga gol, dan menciptakan dua peluang. Ia juga mencatatkan rata-rata 2,1 tekel dan 4,5 intersep per laga, unggul dari dua bek Liverpool tersebut. Performa tersebut turut membantu Dortmund tetap bersaing dalam perburuan gelar, dengan selisih enam poin dari Bayern Munich.
Meski kontraknya mendekati akhir, Dortmund diperkirakan tetap akan mematok harga yang cukup tinggi. Klub Jerman itu bisa menjadikan contoh situasi Marc Guehi, yang musim panas lalu dibanderol Crystal Palace sebesar 35 juta pound atau sekitar Rp665 miliar.
Pertimbangan Finansial dan Kebutuhan Skuad
Jika Liverpool benar-benar tertarik, mereka harus mempertimbangkan alokasi dana secara matang. Selain bek tengah, klub juga berpotensi membutuhkan bek kiri pengganti Andy Robertson yang kontraknya berakhir pada Juni, penyerang sayap kanan untuk mendampingi atau menggantikan Mohamed Salah, serta gelandang bertahan murni.
Situasi ini membuat keputusan merekrut Schlotterbeck tidak bisa diambil secara tergesa-gesa. Manajemen perlu menyeimbangkan kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang di tengah keterbatasan anggaran.
Meski belum pernah bermain di Premier League, Schlotterbeck sudah terbiasa tampil di Liga Champions dan level internasional tertinggi. Pengalaman tersebut menjadi nilai tambah dalam proses adaptasi jika ia benar-benar hijrah ke Anfield.
Dengan berbagai faktor yang ada, menarik untuk menantikan apakah Liverpool akan mengambil langkah konkret dalam perburuan bek internasional Jerman tersebut dalam waktu dekat.

