Site icon Gilabola.com

Liverpool Tersandung di Menit Akhir Jadi Kebiasaan, Mentalitas Jadi Sorotan!

Kesalahan Kecil, Dampak Besar, Liverpool Gagal Amankan Keunggulan atas Man City

Liverpool kembali gagal mempertahankan keunggulan dalam laga krusial setelah membiarkan Manchester City bangkit di menit-menit akhir. Pertandingan yang seharusnya bisa diamankan justru berakhir dengan kekecewaan mendalam, mempertegas masalah laten The Reds dalam mengelola situasi ketika berada di posisi unggul tipis.

Kesalahan demi kesalahan kembali muncul pada fase penentuan. Kali ini, momen krusial datang dari keputusan Alisson Becker yang terlalu terburu-buru meninggalkan garis gawang. Tindakan itu berujung pada pelanggaran terhadap Mateus Nunes, yang memberi City hadiah penalti. Erling Haaland, seperti yang bisa ditebak, sukses menjalankan tugasnya dan mengubah jalannya pertandingan.

Situasi ini bukan kejadian tunggal. Sepanjang musim, Liverpool kerap kehilangan poin akibat gol-gol telat dengan pola yang berbeda-beda, mulai dari tembakan jarak jauh, situasi bola mati, serangan balik, hingga penalti. Benang merahnya tetap sama, kepanikan dan keputusan tidak perlu di momen genting, yang menimbulkan pertanyaan soal mentalitas tim ketika berada dalam tekanan.

Babak Pertama Mengecewakan, Babak Kedua Menjanjikan

Penampilan Liverpool di babak pertama jauh dari kata memuaskan. Permainan berjalan datar, tempo rendah, dan atmosfer stadion pun terasa kurang hidup. Manchester City justru terlihat lebih nyaman dan menguasai jalannya 45 menit awal yang minim hiburan.

Perubahan terlihat setelah jeda. Liverpool tampil lebih berani dan agresif, tidak lagi memberi City terlalu banyak ruang. Pendekatan itu terbukti efektif. Tim asuhan Arne Slot mampu mengeksploitasi kelemahan City, yang meski berada di posisi kedua klasemen, dinilai tidak sekuat skuad Pep Guardiola di musim-musim sebelumnya. Liverpool bahkan layak unggul lebih dulu berdasarkan dominasi permainan setelah turun minum.

Namun keunggulan itu tidak bertahan lama. Gol penyama kedudukan City dinilai sangat bisa dihindari. Tekanan terhadap pengirim umpan awal kurang maksimal, reaksi Ibrahima Konate terhadap bola pantul terlambat, Virgil van Dijk kehilangan pengawalan terhadap Bernardo Silva sesaat, dan Dominik Szoboszlai yang bermain di posisi bek kanan tidak cukup cepat naik untuk menjebak offside. Dari sudut pandang City, gol tersebut memang rapi, tetapi bagi Liverpool, itu adalah rangkaian kesalahan kecil yang berujung fatal.

Momen lain yang dianggap sebagai titik balik terjadi ketika Curtis Jones membawa bola di tengah lapangan dengan situasi serangan balik tiga lawan satu. Umpan yang tepat seharusnya membuka peluang emas untuk menggandakan keunggulan. Namun serangan itu gagal dieksekusi, City memotong alur permainan, dan tak lama kemudian skor kembali imbang. Detail-detail semacam inilah yang sering menentukan hasil di laga besar.

Soal gol City yang dianulir, penilaian cukup jujur pun muncul. Gol tersebut dinilai seharusnya sah. Wasit bahkan sempat mengesahkannya sebelum VAR mengambil keputusan berbeda. Situasi ini menambah rasa janggal di akhir pertandingan yang sudah lebih dulu menyisakan frustrasi bagi Liverpool.

Peran Baru Szoboszlai Jadi Sorotan

Di tengah hasil mengecewakan, satu hal tetap mencolok. Dominik Szoboszlai kembali menunjukkan kelasnya dan dinilai sebagai pemain terbaik Liverpool musim ini. Golnya menjadi momen berkualitas tinggi, meski sayangnya tidak cukup untuk membawa tim meraih poin.

Meski bukan bek kanan murni, Szoboszlai perlahan menyesuaikan diri dengan peran tersebut dan tampil solid di babak kedua, bahkan sebelum mencetak gol. Kontribusinya saat menyerang mengingatkan pada gaya Trent Alexander-Arnold, dengan kecenderungan aktif memengaruhi permainan dari area yang lebih luas.

Penampilannya di sisi kanan membuka kemungkinan baru. Dengan masa depan Mohamed Salah yang masih menjadi tanda tanya, peran Szoboszlai di sektor kanan lapangan dinilai layak dipertimbangkan untuk jangka panjang. Kemampuannya melepas umpan silang, memotong ke tengah, dan melepaskan tembakan memberi dimensi tambahan bagi permainan Liverpool. Meski demikian, semua itu masih sebatas opsi untuk musim depan, bukan solusi instan untuk masalah saat ini.

Exit mobile version