
Gilabola.com – Pencarian pelatih interim Manchester United mengerucut pada dua nama, Ole Gunnar Solskjaer dan Michael Carrick, tapi wacana menunjukkan bahwa nama terakhir kini lebih favorit untuk menenangkan gelar liga.
Kekacauan di tubuh Manchester United? Sudah biasa, bukan hal baru. Sejak era Sir Alex Ferguson berakhir, klub berkali-kali mengambil keputusan yang gagal memberi arah jelas, dan Amorim jadi contoh terbaru!
Pelatihn asal Portugal itu hanya diberi waktu memimpin selama 14 bulan, dan sebenarnya gejolak semacam ini sudah diperingatkan sejak sebelum penunjukannya mengingat dia memainkan taktik yang berbeda dengan gaya main khas Manchester United.
Hasilnya apa? Amorim dipecat karena katanya kaku terhadap taktiknya yaitu 3-4-2-1, loh, bukannya manajemen klub sejak awal tahu bahwa memang itu taktik yang dimainkannya? Kok tiba-tiba kaget?
Situasi memburuk ketika Amorim mengkritik kurangnya dukungan dari manajemen. Pernyataan tersebut mempercepat perpisahan, sekaligus menegaskan bahwa kekuasaan teknis kini berada di tangan CEO Omar Berrada dan direktur olahraga Jason Wilcox.
Kini, Manchester United tidak sekedar butuh revolusi, mereka lebih membutuhkan ketenangan dan stabilitas di ruang ganti hingga akhir musim, sembari mencegah kerusakan lebih jauh pada kepercayaan pemain dan fans.
Carrick Lebih Siap Ambil Peran
Dalam pencarian pelatih interim, Ole Gunnar Solskjaer dan Michael Carrick dipertimbangkan. Bahkan kabarnya kedua legenda klub itu sudah melakukan pertemuan dengan dewan klub untuk membicarakan posisi pelatih.
Awal-awal gosip ini mencuat, nama Solskjaer disebut-sebut sebagai favorit. Tapi belakangan ini, Carrick tiba-tiba menyalip sebagai kandidat yang paling mungkin menggantikan Fletcher.
Pertimbangannya, Carrick dinilai unggul karena pendekatan yang lebih realistis dan pemahaman jernih tentang keterbatasan peran interim. Dia sudah pernah merasakan situasi serupa pada 2021.
Saat Solskjaer didepak, mantan pelain lini tengah itu memimpin tiga laga dengan hasil meyakinkan, termasuk kemenangan atas Villarreal dan Arsenal, sebelum memilih mundur secara elegan.
Dan yang paling penting, Carrick meninggalkan kesan kuat di ruang ganti. Sejumlah pemain senior masih mengingat otoritasnya, sebuah modal krusial untuk menegakkan disiplin tanpa perlu banyak retorika di ruang ganti.
Beda dengan Solskjaer, ada kekhawatiran bahwa dia memandang peran pelatih interim sebagai batu loncatan menuju jabatan pelatih permanen. Dewan klub tentu ogah karena dia ingin pelatih top yang akan memimpin tim untuk musim depan.
Pendapat Kami
Dengan beberapa pertimbangan, Carrick adalah pilihan aman dan rasional untuk menjadi pelatih interim Manchester United. Tim butuh stabilitas hingga akhir musim dan Carrick cocok untuk peran sementara tapi penting ini.
Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!