
Gilabola.com – Manchester United harus mengeluarkan biaya nyaris Rp540 miliar setelah memecat Ruben Amorim hanya 14 bulan sejak ia ditunjuk sebagai pelatih kepala di Old Trafford. Keputusan ini menjadikan Amorim sebagai salah satu eksperimen termahal dalam sejarah klub, sekaligus menegaskan betapa mahalnya harga kegagalan di era modern sepak bola Liga Inggris.
Biaya Fantastis di Balik Pemecatan Ruben Amorim
Manchester United secara resmi memecat Ruben Amorim pada Senin setelah memanggilnya ke pusat latihan Carrington. Keputusan itu diambil langsung oleh CEO Omar Berrada dan direktur sepak bola Jason Wilcox, menyusul konflik terbuka antara Amorim dan jajaran pimpinan klub dalam sepekan terakhir.
Sebagai bagian dari pemecatan tersebut, Amorim menerima kompensasi sebesar £10 juta, atau sekitar Rp200 miliar. Angka itu membuat total biaya perekrutan dan pemecatannya membengkak hingga hampir £27 juta, setara sekitar Rp540 miliar.
Sebelumnya, United mengeluarkan £8,3 juta (Rp166 miliar) untuk menebus kontrak Amorim dari Sporting Lisbon pada Oktober 2024. Klub juga membayar tambahan £900 ribu (Rp18 miliar) agar Amorim bisa mulai bekerja lebih cepat.
Pelatih asal Portugal itu menandatangani kontrak senilai £6,5 juta per tahun (Rp130 miliar) hingga Juni 2027, sehingga sisa kontraknya bernilai sekitar £10,05 juta.
Tidak hanya itu, Manchester United juga wajib memberikan kompensasi kepada lima staf kepelatihan yang dibawa Amorim dari Portugal.
Performa Buruk dan Konflik Sistem Jadi Pemicu
Selama menangani United, Amorim memimpin tim dalam 63 pertandingan dan hanya mampu meraih 25 kemenangan. Catatan tersebut menjadikannya sebagai pelatih dengan persentase kemenangan terburuk dan poin per laga terendah dalam era Premier League Manchester United.
Ia juga memimpin paruh kedua musim terburuk klub dalam lebih dari setengah abad, ketika United gagal lolos ke kompetisi Eropa untuk kedua kalinya dalam 35 tahun terakhir. Amorim meninggalkan klub dengan posisi keenam klasemen.
Kejatuhannya tidak lepas dari keengganan berkompromi terhadap sistem tiga bek tengah yang menjadi preferensinya. Pendekatan ini memicu konflik serius dengan manajemen klub, yang menilai skuad United—yang diperkuat belanja musim panas senilai £250 juta (Rp5 triliun)—cukup mumpuni untuk bermain lebih menyerang.
Daily Mail Sport mengungkapkan bahwa keputusan pemecatan sebenarnya telah dibuat pada Jumat, dua hari sebelum hasil imbang 1-1 melawan Leeds. Evaluasi itu menyusul pertemuan Amorim dengan Wilcox setelah hasil imbang melawan Wolves yang saat itu berada di dasar klasemen, di mana Amorim kembali menggunakan skema tiga bek.
Meski telah diberi pesan bahwa skuad layak mendapat kepercayaan penuh, respons Amorim disebut sangat keras. Ia kemudian menyampaikan komentar terselubung mengenai hubungannya dengan manajemen dalam konferensi pers jelang laga di Elland Road, sebelum meluapkan kekesalannya secara terbuka usai pertandingan.
Keputusan pemecatan ini diklaim mendapat dukungan penuh dari dewan klub dan pemilik minoritas Sir Jim Ratcliffe. Sumber internal klub menyebut tidak terlihat “cukup tanda evolusi atau progres” di bawah Amorim.
Darren Fletcher Jadi Caretaker, Opsi Interim Dipertimbangkan
Pelatih tim U-18, Darren Fletcher, ditunjuk sebagai pelatih sementara dan akan memimpin tim saat menghadapi Burnley pada Rabu malam WIB. Fletcher juga diperkirakan menangani laga berikutnya melawan Brighton di Piala FA.
Manchester United berencana menunjuk pelatih interim hingga akhir musim. Beberapa nama yang sempat muncul sebagai kandidat awal adalah Michael Carrick, yang pernah menjadi pelatih sementara pada 2021, serta mantan manajer United Ole Gunnar Solskjaer.
Menunjuk pelatih interim hingga musim panas dinilai memberi klub waktu untuk mengevaluasi pelatih permanen. Sejumlah nama pelatih top seperti Thomas Tuchel dan Carlo Ancelotti berpotensi tersedia setelah Piala Dunia.
Pandangan Gilabola.com
Menurut kami, pemecatan Ruben Amorim menunjukkan bahwa Manchester United masih terjebak dalam pola lama: rekrut mahal, sabar sebentar, lalu panik. Dengan biaya sedemikian besar dan konflik yang sebenarnya bisa diantisipasi sejak awal, sulit membantah bahwa kegagalan ini lebih mencerminkan kekacauan struktural klub ketimbang semata kesalahan satu pelatih.
