Mantan MU Anderson Bisa Jadi Pemain Terbaik di Dunia Jika Bukan Karena McDonald’s

Gilabola.com – Gelandang Brasil Anderson bisa menjadi pemain terbaik dunia jika bukan karena kecintaannya pada makan cepat saji McDonald’s, kata mantan rekan setimnya di Manchester United Rafael da Silva.

Anderson tiba di Manchester United pada musim panas 2007 dari FC Porto senilai Rp 547 Milyar, harga yang sangat fantastis kala itu saat dia disebut-sebut sebagai wonderkid dan bahkan dijuluki Ronaldinho baru karena skillnya yang menawan di lini tengah.

Bermitra dengan Paul Scholes di tengah lapangan untuk The Red Devils, gelandang Brasil itu bahkan kemudian memenangkan penghargaan Golden Boy 2008 berkat performanya yang mengesankan di tim besutan Sir Alex Ferguson.

Advertisement
QQCepat
QQCepat
Totobet
Totobet
978Bet
978Bet

Anderson juga berperan penting dalam keberhasilan Manchester United untuk memenangkan gelar Liga Champions tahun 2008 usai mengalahkan rival Premier League Chelsea lewat adu penalti, dengan dirinya termasuk salah satu eksekutor yang berhasil bagi Setan Merah.

Sayangnya karirnya di level atas tak berlangsung lama dengan dia kemudian sempat dipinjamkan ke Fiorentina selama musim 2014/2015 sebelum dilepas secara permanen ke Sport Club Internacional secara bebas transfer pada musim panas 2015 karena performanya yang terus menurun. Setelah itu dia sempat memperkuat Coritiba Foot Ball Club dan Adana Demirspor sebelum kemudian pensiun pada 2019.

Kini mantan rekan setimnya di United dan sekaligus rekan senegaranya asal Brasil Rafael da Silva mengungkapkan pada otobiografinya bersama saudaranya Fabio da Silva bahwa kecintaan Anderson pada makanan siap saji seperti McDonald’s yang mengakhiri karirnya, padahal dia bisa menjadi pemain terbaik di dunia.

“Kami bisa menjadi pelatih tim dan mem-passing servis di jalan raya dengan Anderson akan melompat secara impulsif dan berteriak ‘McDonald’s, McDonald’s,” kata Rafael dalam otobiografinya tersebut. “Pria itu gila, tapi aku mencintainya.”

“Jika dia memainkan pertandingan dengan baik, dia bisa bermain sebaik pemain mana pun di liga. Tidak hanya itu, ketika dia bermain bagus, kami bisa memainkan sepakbola yang brilian. Dia sayangnya kemudian mengalami banyak cedera besar dan kemudian masalah makannya mulai memengaruhinya. Jika saja dia menjadi pemain sepakbola yang lebih profesional, dia bisa menjadi yang terbaik di dunia.”

AHABET
AHABET
HKINDO
HKINDO