Mungkin Tottenham Apes, Cuma Kebagian Ampasnya Mourinho

Mungkin Tottenham Apes, Cuma Kebagian Ampasnya Mourinho

Data memperlihatkan Tottenham Hotspur bakal apes, cuma kebagian ampas dari sisa-sisa kejayaan Jose Mourinho. Lihat grafik penurunannya.

Hanya dalam waktu 12 jam saja Tottenham memecat Mauricio Pochettino dan kemudian mempekerjakan Jose Mourinho. Dunia sepak bola heboh dengan kembalinya The Special One. Tapi sebuah data yang dilansir oleh BBC memperlihatkan bahwa Mourinho kini tengah berada dalam tahap penurunan kejayaannya

Untuk klub tanpa gelar juara liga sejak 1961 dan yang trofi terakhirnya adalah Piala Liga tahun 2008, keputusan Tottenham mempekerjakan Mourinho bisa dimengerti. Meski Mauricio Pochettino melakukan banyak hal luar biasa selama empat setengah tahun karirnya di London, trofi selalu gagal didapatkannya. Spurs kalah di final Piala Liga 2015 dari Chelsea dan kalah lagi oleh Liverpool pada final Liga Champions musim lalu, duduk di urutan kedua klasemen Liga Inggris 2017.

Tottenham Hotspur adalah klub kedelapan Mourinho di empat negara, dan dia telah memenangkan gelar liga di semua negara itu – dua kali di Portugal dan Italia dan tiga kali di Inggris. Sang pelatih 56 tahun tersebut telah memenangkan kompetisi piala domestik di empat negara dan tiga Piala Liga di Inggris.

Advertisement
advertisement
advertisement
Ratu Casino 77
Ratu Casino 77

Dia juga satu-satunya manajer yang memenangkan Liga Champions dan Piala UEFA atau Liga Europa lebih dari satu kali, memenangkan keduanya dengan Porto, merebut trofi kuping besar bareng Inter dan piala Liga Europa bersama Manchester United.

Grafik Penurunan Jose Mourinho

Sang pelatih Portugal itu memenangkan dua trofi pada karir terkininya di Manchester United, tapi datanya di Old Trafford menyajikan penurunan dibandingkan posisi manajerial sebelumnya. Persentase kemenangannya (53,8%) dan rasio poin per pertandingan (1,89) di Man Utd di ajang Liga Inggris  adalah yang terendah dalam karir manajerialnya sejak periode singkatnya di Leiria di Liga Portugal antara Juli 2001 dan Januari 2002.

Mungkin Tottenham Apes, Cuma Kebagian Ampasnya Mourinho

Grafik penurunan Mourinho dimulai sejak periode keduanya di Chelsea. Usai meninggalkan Real Madrid pada musim panas 2013, Mourinho memenangkan hanya 58,6% laga-laga kompetitif dan 56,8% laga-laga liga. Bandingkanlah itu dengan awal karir manajerialnya di Benfica sampai akhir kejayaannya di Real Madrid, di mana ia memenangkan 67,6% laga-laga kompetitif dan 70,8% laga-laga liga.

Bagaimana pun Mourinho tetap menjadi manajer tercepat yang berhasil meraih 50 kemenangan dan 100 kemenangan dalam sejarah Liga Inggris. Namun rekor yang sama itu juga menghantuinya dengan kemenangannya yang ke-50 bersama United terjadi pada pertandingan ke-92.

Mourinho Kalah dari Pochettino Saat Latih Manchester United

Perolehan 176 poinnya di Premier League bersama dengan The Red Devils kalah dari empat tim lain selama periode kepelatihannya di Old Trafford, termasuk juga kalah dari Tottenham yang diasuh Pochettino. Tim asuhannya mencetak gol lebih sedikit daripada semua rival utama mereka waktu itu. Total produktifitas Setan Merah dengan 151 gol berselisih 83 gol di bawah Manchester City yang diasuh Pep Guardiola.

Mungkin Tottenham Apes, Cuma Kebagian Ampasnya Mourinho

Perhatikan angka-angka di atas. Jumlah kemenangan (W) yang diraihnya selama 2,5 tahun berkarir atau 93 pertandingan di Old Trafford jauh lebih rendah daripada pesaingnya, termasuk kalah dari Pochettino. Dan lihat juga produktifitas golnya yang hanya 151.

Jadi dengan melihat data di atas kita bisa mengatakan bahwa Tottenham mungkin apes, hanya kebagian ampas-ampasnya Mourinho saja setelah masa kejayaannya terlampaui. Namun Manchester United memang sebuah kasus khusus. Beban di pundaknya sangat besar. Saat mengumumkan kedatangan Mourinho, chairman klub David Levy menyinggung soal keberhasilan sang pelatih Portugal mendatangkan trofi di setiap klub yang dilatihnya.

Mourinho memiliki catatan yang mengesankan untuk urusan itu. Hampir selalu menang dalam empat laga dan 10 laga pertamanya untuk klub-klub barunya, dan memiliki catatan rata-rata kemenangan 60 persen lebih serta 70 persen lebih untuk tahun pertama dan keduanya untuk klub-klub barunya. Jadi sepertinya David Levy mengabaikan data mengkhawatirkan Manchester United saat menawari Mourinho pekerjaan di London.