Pahlawan Liverpool Ini Sempat Ditolak Celtic dan Jadi Sales Lingerie

Pahlawan Liverpool Ini Sempat Ditolak Celtic dan Jadi Sales Lingerie

Gila Bola – Pahlawan Liverpool, Andy Robertson, turut berjasa dalam meraih gelar juara Liga Premier setelah menanti selama 30 tahun. Namun perjalanan penuh liku harus dilewatinya untuk jadi idola fans The Reds saat ini.

Tak ada yang menyangka, Robertson pernah jalani kehidupan seperti sampah setelah ditolak Celtic dan ‘tak punya uang’, menjadi sales lingerie produk Marks and Spencer, hingga kini dielu-elukan sebagai salah satu pemain andalan Jurgen Klopp di skuad The Kop.

Segera setelah peluit panjang dibunyikan wasit di Stamford Bridge dan Chelsea berhasil mengalahkan Manchester City, The Reds pun dinobatkan sebagai juara musim ini – untuk pertama kalinya dalam tiga dekade terakhir.

Andy Robertson langsung nongol di LFCTV via aplikasi Zoom, dan memuji mentalitas skuad Jurgen Klopp yang luar biasa, serta memperingatkan lawan-lawan The Reds bahwa mereka siap untuk menerima tantangan untuk mendominasi kompetisi selama bertahun-tahun mendatang.

Advertisement
RatuCasino77
RatuCasino77

Bisa dimengerti mengatakan bek kiri asal Skotlandia yang kini jadi salah satu pahlawan Liverpool itu bersikeras untuk menjunjung tinggi kemenangan ini.

Bagaimanapun, sosoknya tetap Robertson yang sama, yang memulai karir sepak bolanya di Queen’s Park Ranger namun mengeluh jalani hidup seperti ‘sampah’, karena dia harus benar-benar berhemat dengan upah magang di tanah kelahirannya sendiri.

Tapi kebangkitan Robertson cukup stabil. Karena setelah hanya setahun membela QPR, dia pindah ke Dundee United dan memenangkan penghargaan sebagai Pemain Muda Terbaik Tahun Ini versi SPFA dan berhasil menerobos masuk ke susunan pemain internasional di musim pertamanya. Robertson pun mati-matian tunjukkan perasaan haus kemenangan dan ambisinya di lapangan.

Sekarang, dia menjadi salah satu pahlawan Liverpool, dan terkenal karena gerakannya yang suka berlari cepat dan umpan silangnya yang tepat, sama seperti saat dia menjaga area sayap timnya.

Sebagian kalangan sudah memprediksi, Robertson akan menjadi salah satu bek kiri terbaik di dunia, saat dia jalani sesi latihan pertamanya bersama klub juara Liga Premier yang baru itu pada 2017 lalu. Begini kebangkitan epik pemain bernama lengkap Andrew Henry Robertson ini, seperti dilansir SunSport:

Jalani Kehidupan Sampah Karena Tak Punya Uang

Lahir di Glasgow sebagai suporter Celtic, Robertson diperkenalkan dengan dunia sepak bola oleh sang ayah, Brian, yang juga pemain di level amatir. Namun ia alami cedera punggung yang memaksanya harus memakai penyanggah tulang belakang.

Beberapa mantan pemain sepak bola, termasuk Charlie Nicholas dan Jim Duffy, merupakan teman keluarga Robertson. Dia dengarkan kisah warisan mereka saat masih berkecimpung di sepak bola, hingga mendorong Robertson untuk mengukir kisahnya sendiri.

Namun, hal itu tampak tidak mungkin saat pahlawan Liverpool itu ditolak Celtic saat dia masih berumur 15 tahun, karena dianggap terlalu kecil.

Robertson pun memilih berkonsentrasi saja pada studinya, dan ia meninggalkan SMA St Ninian di Giffnock, East Renfrewshire, dengan nilai yang cukup layak untuk lanjut ke universitas.

Robertson kemudian dipanggil untuk bergabung dengan tim muda QPR, tepat ketika dia berpikir ingin meneruskan pendidikannya. Namun, tak lama ia malah memulai debutnya di skuad utama tim yang bermarkas di Glasgow tersebut.

Pada musim pertamanya yang luar biasa bersama tim Divisi Ketiga Skotlandia itu, Robertson sukses mencatatkan 43 penampilan di semua kompetisi. Tapi, meski demikian, hidupnya tidak semuanya berjalan mulus sesuai harapan.

Terlepas dari peningkatan karirnya di dunia sepak bola, sosok yang akhirnya menjadi pahlawan Liverpool ini masih bersikeras harus mencari pekerjaan. Tak pernah terbayangkan bahwa saat ini dia bisa kantongi 2,6 Juta Poundsterling (sekitar Rp 46 Milyar) per tahun di Anfield. Sementara pada 2012 lalu, dia harus berjuang dapatkan penghasilan tetap.

Pada usia 18 tahun, ketika ia masih membela tim muda dan ingin melakukan banyak hal, Robertson tak bisa tidak mengeluh soal tak punya uang. “Hidup di usia ini, adalah sampah tanpa uang #needajob,” demikian ungkap Robertson dalam akun Twitter-nya ketika itu.

Apalagi, bek kiri yang kini berusia 26 tahun itu hanya mendapat biaya perjalanan dari QPR. Sampai akhirnya, Robertson bekerja juga sebagai sales lingerie (pakaian dalam wanita) di Marks and Spencer di Glasgow. Di samping itu ia juga menyambi bekerja di Hampden Park untuk Asosiasi Sepak bola Skotlandia.

Saat masih bekerja untuk FA Skotlandia, Robertson pernah bertemu dengan mantan kapten Manchester City, Vincent Kompany, dan menjadi pemandu di mana bintang asal Belgia itu harus duduk.

“Saya pernah tunjukkan Vincent Kompany di mana kursi tempat dia harus duduk,” ujar pahlawan Liverpool itu kepada Guardian.

“Saat itu, Skotlandia bertanding melawan Belgia, dan saya disuruh menunjukkan kepada Kompany (yang saat itu sedang cedera) di mana kursinya, dan memberinya panduan,” tambahnya.

“Saya ingat, suatu hari saya sedang bekerja di Marks and Spencer. Teman-teman saya mendapat diskon untuk produk Percy Pigs, mereka senang sekali. Waktu itu saya masih berumur 17, 18 tahun,” ujar Robertson.

“Saya sebenarnya bekerja beberapa shift di bagian pakaian dalam wanita. Mereka kekurangan staf dan saya dilempar ke bagian itu. Anda hanya bisa bilang s ** t, dan semoga mereka membelinya,” tandasnya.

Saat itu, Robertson juga lakoni musim yang mengesankan di kompetisi tier ketiga Skotlandia, hingga ia dipanggil ke klub Liga Utama Skotlandia, Dundee United, dan memberinya kesepakatan kontrak. Robertson langsung tinggalkan pekerjaannya sebagai sales lingerie dan pemandu, dan merasa tak perlu pekerjaan lain lagi, karena inilah panggilan hatinya.

Satu Musim Penuh Kejutan

Di bawah pengawasan ketat manajer Jackie McNamara, yang juga mantan bek andalan klub masa kecil Robertson, Celtic, bakat muda pahlawan Liverpool itu mulai berkembang. Tak perlu menunggu lama, ia berhasil menerobos tim utama dan mendapat kepercayaan dari sang pelatih.

Andy Robertson saat masih di Dundee United.

Robertson pun membayar keyakinan itu dengan gol menakjubkan di laga melawan Motherwell, hanya dalam waktu beberapa bulan saja setelah kedatangannya. Gol itu tercipta lewat kaki kiri Robertson yang ajaib dari jarak 20 meter. Robertson pun terus mendapat kepercayaan membela skuad utama, dan tercatat sudah bermain dalam 44 pertandingan di semua kompetisi, dengan mencetak lima gol dan menjadi favorit para suporter Dundee.

Robertson kemudian dianugerahi gelar sebagai Pemain Muda Terbaik versi SPFA pada tahun 2014, dan masuk dalam Tim terbaik Skotlandia versi PFA. Ia juga berhasil memulai debutnya di tim nasional dalam sebuah laga persahabatan melawan Polandia, di bawah asuhan pelatih Gordon Strachan.

Terbang ke Inggris dan Jadi Jutawan!!

Pada musim panas 2014, Dundee United menerima tawaran 2,85 Juta Pounds dari klub Liga Premier – ketika itu, Hull City, yang ingin memboyong seorang pemain bertahan.

Ironisnya, seperti memang sudah takdirnya, pimpinan Hull Stan Ternent sedang memantau para pemain Dundee, sampai akhirnya dia terkagum-kagum dengan permainan Robertson.

Robertson pun segera menetap di East Riding, dan raih penghargaan Pemain Terbaik Bulan Ini di bulan pertamanya di klub itu. Dia tampil dalam 24 pertandingan di musim pertamanya, namun sayangnya tak berhasil menyelamatkan Hull City dari degradasi.

Andy Robertson dan Harry Maguire saat baru gabung Hull City.

Beberapa pemain Hull hengkang, tapi Robertson berusaha setia dan tetap membela Hull City di Championship, hingga akhirnya dia membantu klub itu kembali mendapat promosi ke Liga Premier pada tahun 2016.

‘Mr Sick Boy!’

Mencari pemain pengganti untuk Alberto Moreno yang cedera, The Reds kemudian datangkan bek yang akhirnya menjadi salah satu pahlawan Liverpool itu dengan biaya awal sebesar 8 Juta Pounds (Rp 140 Milyar) pada 2017.

Bergabung dengan tim yang memiliki catatan sehebat Liverpool, harus dimaklumi jika Robertson kemudian merasa sedikit terkejut dengan lompatan dalam hidupnya, dan gugup dalam jalani tugasnya di lapangan.

Apesnya bagi Robertson, dia muntah pada sesi latihan pertamanya di Anfield di hadapan rekan-rekan satu tim barunya, dan mendapat julukan yang tak menyenangkan dari Jurgen Klopp.

“Saya ingat, latihan hari pertama hanya ada enam atau tujuh pemain yang hadir, karena para pemain masih jalani pramusim. Kami harus lakukan tes laktat, yang disukai pelatih, di mana kita harus berlari secepat mungkin,” ujar Robertson.

“Mereka memasang tiang di sekeliling lapangan dan Anda harus mencapai setiap tiang saat peluit berbunyi. Semakin cepat dan semakin cepat lagi. Ini mirip dengan tes bleep, tapi jauh lebih sulit dan lebih cepat,” tandasnya.

“Saya ingat berlari bersama Danny Ings dan saya sakit di sekujur tubuh saya. Saya mencoba menahannya, tapi saya harus melepaskannya.. Itu mengerikan sekali. Saya muntah di hari pertama latihan saya bersama tim,” ungkap pahlawan Liverpool yang sempat mendapat julukan ‘Mr Sick Boy’ tapi akhirnya menjadi andalan Klopp tersebut.

“Untung si bapak tidak ada di sana, dan saya pikir saya bisa lolos begitu saja. Kami kembali latihan tiga hari kemudian, dan dia memanggil saya Mr Sick Boy. Saya malu sekali,” tambahnya.