Pemain Chelsea Pimpin Perjuangan Melawan Rasisme

Pemain Chelsea Siap Pimpin Perjuangan Melawan Rasisme

Gilabola.com – Pemain Chelsea, Tammy Abraham, siap memimpin perjuangan melawan rasisme di dunia sepakbola.

Usai final Piala Super Eropa melawan Liverpool di Istanbul, Turki, Abraham untuk pertama kalinya menjadi korban pelecehan berbau rasisme lewat media sosial, Twitter. Saat itu, bintang berusia 21 tahun itu memang baru saja gagal menjadi eksekutor penalti bagi the Blues, hingga akhirnya skuad Frank Lampard itu kalah dan the Reds menjadi klub yang mengangkat trofi.

Di ruang ganti, setelah itu, Abraham mendapati dirinya menjadi bulan-bulanan para pengguna media sosial, yang mengejeknya setelah kegagalan tersebut. Diungkapkan Mirror, satu kicauan terburuk berbunyi, ‘F ****** n *****’, yang dibubuhi sebuah video tentang hukuman mati tanpa pengadilan Ku Klux Klan (sebuah kelompok rasis paling ekstrem di Amerika Serikat).

“Saya ingat, setelah ia saya berbicara pada ibu saya mengenai hal ini, dia sangat emosional. Dia menangis. Ibu hanya berpikir, ‘Kenapa anak saya? Kenapa anak saya?’. Jelas tidak menyenangkan, melihat putra anda dilecehkan,” ujar Abraham.

Advertisement
advertisement
advertisement
Ratu Casino 77
Ratu Casino 77

“Bagi saya, saya selalu punya karakter yang kuat. Hal seperti itu tidak akan terlalu memengaruhi saya. Tapi itu bisa memengaruhi orang-orang yang tidak punya kepribadian seperti saya,” tambah pemain Chelsea yang lahir di Camberwell, London selatan itu.

Kini, Abraham membuka diri terhadap penyalahgunaan rasis dan menyatakan, medsos serupa Twitter harus berbuat lebih banyak untuk mengantisipasinya. “Saya selalu percaya diri. Saya selalu percaya pada kemampuan saya, selalu percaya bahwa saya bisa mencetak gol,” tegas Abraham yang sempat dipinjamkan the Blues ke sejumlah klub.

Dua gol Liga Premier di dua pertandingan terakhir yang dilakoni the Blues tampaknya membenarkan kepercayaan total Frank Lampard pada kemampuan Abraham, terutama setelah ia mencetak 26 gol untuk memimpin Aston Villa mendapat promosi musim lalu.

Saat ia merayakan gol pertamanya di kompetisi teratas Inggris tersebut di laga melawan Norwich City, Abraham yang masih berusia 21 tahun menunjukkan kebahagiaannya dengan berlari ke tepi lapangan untuk merangkul sang pelatih.

“Dia selalu percaya pada saya. Dia percaya pada para pemain muda seperti saya, terutama padaku. Saya melihat ke atas (berterima kasih pada Tuhan), melihat pelatih senang dan bertepuk tangan, lalu saya tergerak untuk berlari mendatanginya dan berbagi kebahagiaan saya dengannya,” ungkap Abraham yang berdarah Nigeria tersebut.

“Semua pemain pernah gagal penalti, tapi untuk melewatkan penalti (di Piala Super), perasaan saya tentu saja sangat hancur. Saya mendapat banyak hujatan dan pelecehan setelah itu, tapi Frank Lampard selalu memegang lengan saya, dia mendongkrak mental saya,” ujar pemain Chelsea yang juga pernah dipinjamkan ke Bristol dan Swansea City tersebut.