Pep Guardiola Kantongi Daftar Panjang Kesalahan Transfer

Pep Guardiola Kantongi Daftar Panjang Kesalahan Transfer

Berita Liga Inggris - Pep Guardiola ternyata lakukan banyak kesalahan dalam transfer pemain, baik saat ia masih mengasuh Barcelona maupun di klubnya saat ini, Manchester City.

Gilabola.com – Pep Guardiola ternyata lakukan banyak kesalahan dalam transfer pemain, baik saat ia masih mengasuh Barcelona maupun di klubnya saat ini, Manchester City.

Barangkali banyak pelatih di luar sana yang iri pada Guardiola, karena ia mendapat hak istimewa untuk bekerja dengan beberapa pemain terbaik sepanjang masa. Ini bukan untuk mengatakan bahwa dia tak layak mendapatkannya. Dia pastinya telah melakukan apa yang dilakukan seorang manajer terbaik sepanjang waktu.

Tapi, tak peduli seberapa bagusnya pelatih asal Catalan berusia 49 tahun itu, dia tetap tak kebal dari kesalahan datangkan pemain yang ternyata berpenampilan buruk di bawah asuhannya.

Berikut ini daftar ‘pemain buruk’ yang direkrut Guardiola di Barca dan City, seperti yang dilansir talkSPORT. Namun tak disertakan pemain hasil rekrutannya saat mengasuh Bayern Munchen, di mana hal ini menjadi bukti baginya dan kekuatan yang ada di klub Jerman tersebut.

Advertisement
NelayanBet
NelayanBet
RatuCasino77
RatuCasino77

Kiper: Jose Manuel Pinto
Barangkali sulit untuk memilih seorang penjaga gawang yang layak menangkan Zamora Trophy – penghargaan untuk seorang kiper yang catatkan rasio gol terendah di Spanyol. Tapi, trofi itu berhasil diraih Pinto saat ia masih membela Celta Vigo.

Dia teken kontrak permanen di Barca beberapa pekan setelah Guardiola ditunjuk sebagai pelatih pada Mei 2008. Namun, waktu bermain Pinto di Camp Nou menjadi sangat terbatas, karena ia menjadi kiper pilihan kedua selama enam tahun masa tinggalnya di Camp Nou sebagai pengganti Victor Valdes.

Jose Manuel Pinto

Pinto memang ikut menangkan tiga gelar LaLiga, dua medali Copa del Rey dan dua trofi Liga Champions. Tapi, Barca barangkali bisa mencapai semua itu tanpa kehadirannya di lapangan.

Bek tengah: John Stones
Anda mungkin mempertanyakan bagaimana pemain senilai 50 juta Poundsterling yang memenangkan lima trofi utama di Manchester City dan masuk starting XI, tapi Stones tidak benar-benar menjadi pusat kesuksesan klub.

Pada musim 2017/18, ia hanya tampil dalam 18 pertandingan Liga Premier, dan sisanya Stones tak bisa berlaga akibat cedera. Dia kemudian fit untuk bermain di final Piala Liga, tapi Pep Guardiola lebih suka turunkan bek veteran, Vincent Kompany, dan juga Nicolas Otamendi sebagai gantinya.

Stones yang kerap lakukan kesalahan tampil lebih sering di liga musim lalu, tapi hanya menjadi starter satu kali dalam delapan pertandingan terakhir City. Namun, Stones diberi kesempatan di final Piala Liga bulan lalu.

Meskipun City berhasil kalahkan Aston Villa 2-1, bek itu pastinya tidak akan mau menyaksikan rekaman pertandingan tersebut. Pasalnya, ia bertanggung jawab atas gol Villa karena ia tersandung kakinya sendiri ketika berhadapan dengan bola lawan.

Bek tengah: Martin Caceres
Pemain asal Uruguay ini menikmati karir yang sangat gemilang, meskipun waktunya di Barcelona tak terlalu berkesan walau ia menjadi bagian dari skuad yang menangkan treble pada musim 2008/09.

Caceres tiba di Camp Nou pada Juni 2008, tapi hanya tampil dalam 13 pertandingan LaLiga dan hanya delapan kali saja ia bermain sebagai starter.

Caceres lalu dipinjamkan ke Juventus satu tahun setelah gabung Barca, kemudian ke Sevilla dan akhirnya gabung kembali dengan raksasa Italia tersebut secara permanen pada 2012, di mana ia berhasil lakoni karir yang jauh lebih baik.

Bek tengah: Dmytro Chygrynskiy
Chygrynskiy menjadi pemain yang pertama dan, sampai saat ini, satu-satunya pemain asal Ukraina yang bermain untuk Barcelona.

Ada harapan besar untuk bek tengah tersebut ketika ia bergabung pada musim panas dengan transfer sebesar 22,5 juta Poundsterling – nilai transfer yang lumayan mahal ketika itu.

Dmytro Chygrynskiy.

Tapi, Chygrynskiy harus berjuang ekstra keras untuk beradaptasi dengan cara bermain yang baru dan gagal membobol skuad Blaugrana, di mana ia harus bertarung melawan para pemain seperti Carles Puyol dan Gerard Pique.

Jadi, setelah satu tahun – walau ia teken kontrak lima tahun, Chygrynskiy akhirnya meninggalkan Camp Nou untuk kembali ke Shakhtar Donetsk di tanah kelahirannya. Dia sekarang bermain untuk klub Yunani, AEK Athens.

Bek sayap kanan: Danilo
Seperti Stones, Danilo juga ikut memenangkan sejumlah trofi di Manchester City. Namun, pemain asal Brasil itu lebih banyak menjadi bagian dari pemain pendukung klub, yang hanya bermain dalam 11 pertandingan liga di musim kedua dan terakhirnya di City.

Bek sayap kiri: Angelino
Mungkin terlalu dini untuk menilai Angelino, karena kita hanya melihat dia bermain untuk City musim ini. Tapi, itupun dia tak terlihat tunjukkan permainan yang sebenarnya di Liga Premier.

Angelino kembali diboyong City musim panas lalu, satu tahun setelah mereka melepasnya ke klub Belanda, PSV Eindhoven, di mana ia tampil cukup gemilang. Dia juga lakoni masa peminjaman yang produktif di New York City FC, Real Mallorca dan NAC Breda.

Kini, Angelino dipinjamkan ke RB Leipzig, dan kembali tampil mengesankan. Tapi, akan kembali muncul pertanyaan, apakah dia bisa tampilkan permainan itu kembali di Liga Inggris.

Gelandang bertahan: Douglas Luiz
Yang kita tahu, Douglas Luiz saat ini bermain untuk Aston Villa. Tapi, kita belum tentu ngeh bahwa ia teken kontrak di Manchester City pada Juli 2017.

Bersama the Citizens, Luiz tampaknya butuh perjuangan ekstrakeras untuk bisa masuk ke lini tengah skuad Pep Guardiola yang sudah diisi Fernandinho, Ilkay Gundogan, Kevin De Bruyne dan David Silva. Alhasil, Luiz harus menghabiskan dua musim dengan status pinjaman di Girona, sebelum akhirnya gabung Villa musim panas lalu.

Gelandang tengah: Alexander Hleb
Transfer ke Barcelona harusnya meningkatkan karir seorang pemain. Tapi dalam kasus Hleb, kepindahannya ke Camp Nou malah menyebabkan ia terpuruk.

Pemain internasional Belarusia ini pindah dari Arsenal ke Barca pada Juni 2008, dengan harga lebih dari 15 juta pounds. Ia juga ikut menerima medali pemenang di musim treble yang terkenal saat itu.

Tapi, Hleb hampir tidak pernah menjadi bagian dari kesuksesan Barca ketika itu, di mana ia tampil hanya dalam 36 pertandingan selama empat tahun karirnya sebagai pemain raksasa Catalan tersebut.

Hleb kemudian berusaha untuk membangun kembali karirnya sebagai pemain pinjaman di Stuttgart, Birmingham City dan Wolfsburg. Tapi, tak ada yang membuahkan hasil gemilang, hingga akhirnya ia jalani hari-harinya dengan gaya sederhana di klub Belarusia, Isloch Minsk Raion.

Gelandang tengah: Ibrahim Afellay
Tidak ada yang bisa mengambil medali LaLiga, Copa del Rey dan Liga Champions yang sudah dikantongi Afellay. Tapi, ia sadar betul, sumbangan yang ia berikan untuk kesuksesan Barcelona sangatlah kecil.

Afellay datang pada 2010, dan merupakan bagian dari tim terbesar yang pernah bermain bersama-sama para pemain seperti Lionel Messi, David Villa, Andres Iniesta dan Xavi di antara barisan mereka.

Ibrahim Affelay.

Jadi, tidak mengherankan jika pemain internasional Belanda ini tak bisa membangun dirinya sendiri. Afellay hanya tampil dalam 35 pertandingan selama lima tahun karirnya sebagai pemain Barcelona, dan ke​​banyakan hanya bermain dari bangku cadangan.

Dia lalu jalani masa pinjaman di Schalke dan Olympiakos selama waktunya di Barca, sebelum akhirnya gabung Stoke City dengan status permanen pada 2015.

Striker: Nolito
Pemain asal Spanyol ini menjadi salah satu pemain pertama Guardiola di City, dan ia tunjukkan awal karir yang gemilang di Manchester Biru. Saat itu, ia mencetak dua gol pada penampilan keduanya di ajang liga.

Tetapi performa Nolito mendadak hilang setelah itu. Ia kemudian hanya mencetak dua gol liga lagi di musim 2016/17.

Pada akhir musim, Nolito bahkan harus berjuang ekstra untuk bisa masuk skuad inti, hingga akhirnya ia dijual ke Sevilla pada Juli 2017, dan City harus meruhi 11 juta Pounds.

Striker: Zlatan Ibrahimovic
Mencetak 22 gol dalam 46 penampilannya, menjadi upaya yang sangat bagus untuk seorang striker. Tapi, karir Ibrahimovic di Barcelona akan selalu diingat lewat hubungan dinginnya dengan Pep Guardiola.

Pemain asal Swedia itu gabung Blaugrana dari Inter Milan sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran pemain untuk Samuel Eto’o pada musim panas 2009. Guardiola tampaknya tidak pernah pedulikan Ibrahimovic – yang sangat ingin membantai lebih banyak pemain muda yang bermain dengan cara Barcelona, ​​sementara ia juga memberi Lionel Messi tunjukkan dampak lebih besar dalam pertandingan.

Dia kemudian berada dalam kesulitan karena tak cocok dengan sistem ini. Ibra dan Guardiola juga tak pernah bertatapan mata secara langsung, hingga striker itu kecewa karena ‘diperlakukan seperti Fiat’ ketika Barca ‘membeli Ferrari’.

Zlatan Ibrahimovic

Musim 2009/10 menjadi episode yang sangat menyedihkan, dan jika keduanya bertahan, maka itu bisa menyebabkan kekacauan di kubu Barca. Ibrahimovic kemudian gabung AC Milan dengan status pinjaman di musim berikutnya, dan secara resmi meninggalkan Barca pada 2011, setelah tak pernah menunjukkan kemampuannya sepenuhnya di Spanyol.

Ibrahimovic telah berbicara tentang waktunya di Camp Nou pada banyak kesempatan, sementara Pep Guardiola sebagian besar tetap diam tentang masalah ini.