Perhatikan Sepak Pojok Liverpool Selalu ke Titik Sama, Gerakan Sama

Perhatikan Sepak Pojok Liverpool Selalu ke Titik Sama, Gerakan Sama

Kamu perhatikan gak sepak pojok Liverpool? Selalu ke titik yang sama dan gerakan yang sama. Dan lawan-lawan The Reds tidak kunjung belajar dari hal ini.

Liverpool unggul 1-0 atas tuan rumah Wolves pada laga Liga Inggris hari Jumat (24/1) berkat gol Jordan Henderson yang menyambut tendangan sudut Trent Alexander-Arnold pada menit kedelapan pertandingan pekan ke-24 di Molineux Stadium.

Update: Skuad Juergen Klopp menang 2-1 setelah gol Roberto Firmino menit 84 memastikan mereka merebut tiga poin. 

Apa yang menarik untuk kita amati adalah sepak pojok Liverpool, terutama yang diambil oleh spesialis sepak pojok Alexander-Arnold, dilakukan selalu ke titik yang sama dan gerakan yang sama.

Advertisement
Pulsa Gratis
Pulsa Gratis
RatuCasino77
RatuCasino77

Pemain dengan jersey No 66 itu mengarahkan bola ke garis gawang enam meter, atau setidaknya di sekitar itu, dan yang menyambutnya bukan pemain yang tengah berdiri di titik tersebut tapi pemain lain yang datang dari arah belakang. Dalam hal ini Jordan Henderson.

Jika Anda perhatikan gol pertama The Reds ke gawang Setan Merah pada laga pekan 23 Liga Inggris akhir pekan silam maka skenario yang sama terjadi. Alexander-Arnold (yang gaji mingguannya cuma Rp 708 juta) mengambilnya, diarahkan ke garis enam meter dan waktu itu Virgil Van Dijk yang memiliki tinggi badan 193 centimeter berlari maju serta melompat dan menggunakan sisi kiri kepalanya untuk mengecoh kiper David De Gea.

Taktik seperti ini membuat lengah lawan-lawan Liverpool, menyangka bola jatuh ke kawasan yang kosong dengan tidak ada pemain The Reds menyambutnya. Sebuah pemikiran yang salah. Dua gol dalam waktu beberapa hari saja persis sama.

Pertandingan Wolves vs Liverpool pada Jumat dinihari masih 0-1 untuk keunggulan anak-anak Juergen Klopp saat berita ini diunggah pada akhir babak pertama. Sebenarnya jika ada orang yang berpeluang menghentikan rangkaian kemenangan The Red, atau bahkan menimbulkan kekecewaan, maka itu adalah Nuno Espirito Santo. Ia memiliki kapasitas untuk menganalisa pertandingan dan memberi instruksi selayaknya bagi para pemain Wolves.