Site icon Gilabola.com

Pola Yang Berulang Tiap Musim! Liverpool Selalu Goyah di Momen Krusial, Ancam Posisi Liga Champions

Pemain Liverpool saat kalah lawan Manchester City di Anfield

Pemain Liverpool saat kalah lawan Manchester City di Anfield

Liverpool kembali gagal menjaga ketenangan di momen krusial setelah menyerah dari Manchester City dalam laga Premier League di Anfield. Kekalahan ini bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga cerminan dari pola yang berulang sepanjang musim: kepanikan, keputusan keliru, dan runtuhnya kendali di menit-menit penentuan.

Manchester City, yang tampil jauh dari performa terbaik mereka di Anfield era Pep Guardiola, tetap mampu membawa pulang tiga poin. Sebaliknya, Liverpool harus menelan pil pahit setelah pertandingan yang sempat berjalan datar berubah menjadi kekacauan dalam 20 menit terakhir.

Pertandingan Datar yang Berubah Jadi Kekacauan

Sebagian besar laga berjalan tanpa imajinasi. Kedua tim saling bertukar pola umpan dan tekanan yang terasa mekanis, minim aksi individu, dan nyaris tanpa momen berbahaya. Pertandingan ini lebih menyerupai duel taktis yang kaku ketimbang laga besar dua raksasa Premier League.

Situasi baru berubah ketika Dominik Szoboszlai memecah kebuntuan lewat tendangan bebas yang brilian 15 menit jelang laga usai. Gol itu menjadi percikan yang akhirnya membangunkan Anfield, sekaligus memberi harapan bahwa Liverpool bisa keluar sebagai pemenang.

Namun kepercayaan diri itu tidak bertahan lama. Manchester City langsung merespons melalui kerja sama Erling Haaland dan Bernardo Silva, yang menuntaskan peluang untuk menyamakan kedudukan. Gol tersebut memukul mental Liverpool yang sudah mulai lengah.

Kartu Merah, Penalti, dan Keputusan Fatal

Momen paling kontroversial datang di penghujung laga ketika Szoboszlai diganjar kartu merah. Ia dianggap menggagalkan peluang mencetak gol, meski situasi tersebut berujung pada gol Manchester City. Intervensi VAR membuat insiden ini terasa ironis, karena pelanggaran dihukum sebagai pencegahan gol, padahal gol tetap tercipta.

Keputusan Szoboszlai menjatuhkan Haaland di luar kotak penalti juga mencerminkan kepanikan yang kembali muncul di kubu Liverpool. Pelanggaran tersebut tidak mengubah hasil akhir, tetapi membuat tim harus mengakhiri laga dengan 10 pemain dan kehilangan sang gelandang untuk pertandingan berikutnya.

Sebelumnya, Alisson Becker juga melakukan kesalahan fatal. Kiper paling berpengalaman di lapangan itu memberikan penalti setelah salah mengantisipasi pergerakan Matheus Nunes. Di menit-menit akhir, Alisson bahkan naik terlalu jauh ke depan dalam upaya mengejar ketertinggalan, keputusan yang berujung pada kekacauan lini belakang dan kartu merah Szoboszlai.

Penalti Haaland menambah catatan buruk Liverpool musim ini. Itu adalah kali keempat mereka kebobolan gol penentu kemenangan lawan pada menit ke-90, sebuah rekor yang sebelumnya hanya dialami klub-klub dengan musim bermasalah.

Dampak Kekalahan dan Krisis yang Menggantung

Kekalahan ini memperburuk posisi Liverpool di klasemen. Dari 19 pertandingan terakhir Premier League, mereka hanya memenangkan enam laga dan kini tertinggal dari persaingan lima besar. Situasi ini menempatkan peluang lolos ke Liga Champions dalam ancaman serius.

Padahal, Liverpool telah mengeluarkan sekitar Rp7,2 triliun untuk mendatangkan pemain baru pada bursa transfer musim panas. Investasi besar itu kini terlihat tidak sebanding dengan hasil di lapangan, terutama ketika kedalaman skuad semakin tergerus cedera.

Arne Slot, yang didatangkan dengan reputasi sebagai pelatih pengembang pemain, sejauh ini belum mampu membalikkan tren negatif. Musim pertamanya memang sempat menampilkan perkembangan Ryan Gravenberch, tetapi musim ini justru diwarnai penurunan performa sejumlah pemain kunci seperti Mohamed Salah, Alexis Mac Allister, Ibrahima Konate, dan Cody Gakpo. Nama muda Rio Ngumoha pun nyaris menghilang sejak mencetak gol ke gawang Newcastle pada Agustus lalu.

Masalah cedera juga menghantam hampir seluruh lini, mematahkan anggapan bahwa pendekatan latihan dan gaya bermain Slot mampu menjaga kebugaran skuad. Situasi ini membuka kelemahan dalam perencanaan tim yang dibangun dengan pendekatan belanja mahal di satu sisi, tetapi terlalu hemat di sisi lain.

Liverpool sempat melewatkan peluang merekrut Marc Guehi karena enggan menambah nilai transfer beberapa juta pound. Kini, mereka terancam kehilangan pemasukan besar jika gagal finis di zona Liga Champions, sebuah pukulan finansial yang datang di saat kebutuhan perombakan skuad semakin mendesak.

Dengan kualitas pemain cadangan yang semakin menipis dibandingkan beberapa musim lalu, tekanan terhadap Slot kian besar. Gagal finis di lima besar berpotensi mengakhiri masa jabatannya di Anfield. Dalam konteks itu, kejatuhan Liverpool musim ini bukan sekadar soal satu pertandingan, melainkan akumulasi dari keputusan, kepanikan, dan arah pembangunan tim yang belum menemukan keseimbangan.

Exit mobile version