
Liverpool mengakhiri tahun kalender 2025 dengan gambaran performa tim yang tidak sepenuhnya seimbang, setelah sukses besar menjuarai Premier League pada Mei namun kemudian kesulitan menjaga posisi kompetitif di musim berikutnya.
Evaluasi performa individu selama 12 bulan menunjukkan Dominik Szoboszlai (8) sebagai pemain paling konsisten, disusul beberapa pilar utama lain, sementara sejumlah rekrutan mahal dan pemain yang sering cedera belum memberi dampak maksimal.
Penilaian ini hanya mencakup pemain yang terlibat secara reguler sepanjang tahun, baik sebagai starter maupun pemain pengganti. Beberapa nama tidak masuk dalam rapor karena minim menit bermain, termasuk Wataru Endo serta Giovanni Leoni yang hanya sempat tampil sekali sebelum mengalami cedera ACL.
Konteks perjalanan Liverpool di 2025 menjadi faktor penting dalam membaca angka-angka ini. Tim asuhan Arne Slot menjalani paruh pertama tahun dengan dominasi dan stabilitas, lalu menghadapi fase kedua yang lebih rumit akibat penurunan performa, cedera, dan kebutuhan adaptasi taktik.
Pilar Utama dan Pemain Paling Stabil
Dominik Szoboszlai (8) dinilai sebagai motor utama Liverpool sepanjang tahun. Gelandang Hungaria itu tampil penuh energi, agresif dalam tekanan, dan semakin matang dalam mengambil peran kreatif, terutama pada musim berjalan ketika kontribusinya terasa paling menonjol.
Alisson Becker (8) kembali menunjukkan kelasnya sebagai penjaga gawang elite. Meski sempat terganggu cedera otot, performanya saat fit tetap menjadi jaminan keamanan di bawah mistar dan memberi ketenangan bagi lini belakang.
Virgil van Dijk (8) mempertahankan statusnya sebagai pemimpin pertahanan. Walau tidak lagi berada di puncak fisik terbaik dalam kariernya, konsistensi, pengalaman, dan pengambilan posisi membuatnya tetap menjadi fondasi utama Liverpool.
Ryan Gravenberch (7) menjalani tahun yang cukup kuat, terutama dalam keberhasilan meraih gelar liga. Setelah sempat menurun di awal musim berikutnya, dia perlahan kembali ke performa terbaik dan tetap menjadi gelandang penting.
Alexis Mac Allister (7) mengalami tahun yang terputus-putus akibat cedera. Meski demikian, kualitas teknik dan kecerdasannya tetap terlihat, termasuk momen penting saat mencetak gol spektakuler di laga perayaan gelar juara.
Curtis Jones (7) menunjukkan perkembangan signifikan menjelang akhir tahun. Setelah sempat berada di pinggir tim, dia mulai tampil lebih percaya diri dan berpeluang mendapat peran lebih besar jika tren positif ini berlanjut.
Pemain Inkonsisten dan Tantangan Serius
Di sektor pertahanan, Conor Bradley (7) memperlihatkan potensi besar namun terus diganggu masalah kebugaran. Setiap kali mulai menemukan ritme, cedera kembali menghentikan momentumnya.
Jeremie Frimpong (6) dan Milos Kerkez (6) sama-sama dinilai masih dalam fase adaptasi. Keduanya memiliki atribut fisik dan teknik yang menarik, tetapi konsistensi dan pemahaman sistem permainan masih perlu ditingkatkan.
Ibrahima Konate (6) menjalani periode yang tidak stabil. Bek asal Prancis itu terkadang tampil dominan, tetapi di lain waktu melakukan kesalahan mendasar, sehingga tanda tanya soal kematangannya belum sepenuhnya terjawab.
Joe Gomez (5) menjadi contoh paling jelas dampak cedera terhadap performa. Saat fit, kualitasnya tidak diragukan, namun frekuensi absennya membuatnya sulit menjadi opsi yang benar-benar bisa diandalkan.
Di lini serang, Mohamed Salah (7) mencatat tahun yang relatif aneh menurut standarnya sendiri. Torehan 16 gol liga tetap penting, tetapi intensitas dan pengaruhnya tidak setajam musim-musim terbaik sebelumnya.
Florian Wirtz (6) memulai kiprahnya di Liverpool dengan lambat, namun perlahan menunjukkan kualitas yang membuat klub berani mengeluarkan dana besar.
Cody Gakpo (7) tampil cukup produktif, tetapi kontribusinya kerap terasa di pinggiran permainan. Meski catatan golnya solid, pengaruh keseluruhan dinilai masih bisa ditingkatkan.
Hugo Ekitike (7) menjadi rekrutan musim panas yang paling cepat memberi dampak. Adaptasinya relatif mulus dan dia memberi Liverpool satu opsi penyerang yang konsisten.
Alexander Isak (4) menjalani tahun yang berat. Didatangkan dengan ekspektasi besar, kontribusinya belum sebanding, meski ada kilasan kualitas dalam penyelesaian akhir yang menunjukkan potensi jika kondisi fisik dan ketajaman kembali pulih.
Federico Chiesa (5) dinilai lebih efektif sebagai pemain pengganti dibanding starter. Keterbatasan fisik membuatnya kesulitan bersaing secara penuh di Premier League yang menuntut intensitas tinggi.
