Sejarah Awal Rivalitas Derby Manchester Antara Man United vs Man City

Gilabola.com – Derby Manchester antara Manchester United vs Manchester City telah memberikan banyak momen mengesankan selama bertahun-tahun. Laga antara tim sekota ini kaya akan sejarah yang dimulai sejak pertemuan pertama di tahun 1881.

Simak juga video tentang DERBY MANCHESTER di sini!

Hingga saat ini sudah ratusan kali keduanya berhadapan di seluruh kompetisi.
Manchester United masih mencatatkan kemenangan lebih banyak dari Manchester City dalam sejarah Derby Manchester, namun sejak 2008 The Citizens mulai bangkit dan mengimbangi performa United, atau bahkan terkadang lebih.

Advertisement
QQCepat
QQCepat
Totobet
Totobet
978Bet
978Bet

Namun apa yang membuat laga antara kedua tim sekota ini jadi panas dan sengit? Ternyata semua berawal dari … UANG SEWA! Simak penjelasannya berikut ini …

LAHIRNYA DUA KESEBELASAN

Banyak kesebelasan sepakbola didirikan di kawasan Manchester. Tapi St Mark’s (West Gorton) dan Newton Heath LYR (Ardwick) adalah dua kesebelasan yang paling berkembang pada 1880-an dan mendominasi Piala Manchester.

West Gorton didirikan oleh anggota Gereja Santo Markus di Inggris. Awal tujuannya karena para penjaga gereja berusaha untuk memberikan warga Manchester dengan kegiatan positif karena saat itu kota Manchester tengah marak dengan kekerasan gengster dan juga minuman alkohol.

Ditambah dengan pengangguran yang menjerat penduduk kawasan Gorton Barat itu. Agar dapat meninggalkan semua hal buruk itu, pihak gereja membuat kegiatan olahraga kriket untuk penduduk laki-laki, tanpa dibatasi agama manapun di tahun 1875.

Tiga tahun berikutnya, departemen kereta api di Lanchasire and Yorkshire Railway di Newton Heath melakukan hal serupa.

Namun pada akhirnya mereka lebih memilih cabang sepakbola dan membentuk tim sepakbola yang dikenal dengan nama Ardwick.

Tidak lama kemudian, inisiasi pihak gereja West Gorton ikut membentuk klub sepakbola yang diberi nama St Mark’s pada musim dingin 1880.

Kedua klub sepakbola ini pun bertanding pertama kali pada 12 November 1881. Pertandingan ini merupakan pertama kalinya St Marks’s dan Ardwick saling mengalahkan di lapangan.

Kendati ada kalah dan menang, pertandingan berlangsung menyenangkan dan penuh keakraban, laga dimenangkan Ardwick dengan skor 3-0.

Pertemuan keduanya semakin sering ketika kedua belah pihak terus berkembang, pergantian nama klub Ardwick menjadi Manchester City terjadi pada 1894 dan Newton Heath menjadi Manhcester United pada 1902.

Pertemuan keduanya mash harmonis, tidak ada ketegangan antara pemain maupun pendukungnya.

Baik City maupun United sama-sama pernah berjuang bersama, keduanya juga tergabung di Football Alliance yang merupakan saingan dari Football League.

Bahkan pendukung City maupun MU secara bergantian saling mendukung kedua tim jika bertanding dengan lawan dari klub lainnya.

Pihak Manchester City pun rela meminjamkan stadion mereka, Maine Road pada musim 1946/1947 kepada MU yang sedang menunggu proses renovasi Stadion Old Trafford akibat terkena bom.

AWAL MULA KONFLIK: UANG SEWA!

Rivalitas antara dua kesebelasan mulai memanas pada periode 1940-an. Semua diawali serangan bom yang dilakukan Jerman ketika Perang Dunia II.

Pimpinan Nazi, Adolf Hitler, saat itu memerintahkan pasukan udaranya untuk melaksanakan operasi Adlerangriffe untuk menggertak Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill.

Targetnya adalah bom kota London hingga rata! Tapi dampak kerusakan merembet sampai beberapa kota lain seperti Birmingham, Manchester, Liverpool Nottingham, dan Portsmouth.

Dan sial bagi Manchester United, pemboman Jerman ikut merusak stadion yang jadi markas mereka, Old Trafford.

Old Trafford harus direnovasi pada 1947. Bahkan musim tersebut Setan Merah harus meminjam markas City, Stadion Maine Road yang saat ini bernama Stadion Etihad, sebagai kandang sementara selama menjalani kompeyisi liga.

Pihak City tidak keberatan dengan proposal peminjaman yang diajukan MU.
Menurut catatan David Conn dalam buku Richer Than God: Manchester City, Modern Football and Growing Up (2014),

Dibuat kesepakatan kalau Man United wajib membayar biaya sewa kepada Manchester City sebesar 5.000 paun per pertandingan. Bukan uang yang besar sebetulnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, pihak MU kerap tidak menepati janji.
Mereka mulai sering menunggak biaya sewa, yang lama kelamaan membuat jengkel manajemen klub dan hingga suporter Manchester City.

Situasi makin panas lantaran suporter MU menang secara jumlah massa. Kehadiran suporter MU di Main Road yang jauh lebih banyak dan bahkan memecahkan rekor penonton derbi manchester.

Kesal dengan kelakuan manajemen MU da semakin dominannya suporter Setan Merah di Maine Road, City akhirnya mengusir MU dari markasnya dua tahun kemudian.

Mulai 1949, Setan Merah tidak boleh lagi menjadikan Maine Road sebagai kandangnya. Sejak kejadian itu, konflik kedua kesebelasan dimulai, suporter City yang rata-rata berasal dari pusat kota kerap mencemooh suporter MU dengan sebutan ‘orang pinggiran’.

Sebaliknya, suporter MU memandang City sebagai … orang pelit yang tidak tahu diri! Ribut dehhh!

ERA SETELAH PERANG DUNIA KEDUA

Beberapa dekade setelah Perang Dunia II menjadi era emosional bagi Derbi Manchester.

Hal paling kentara waktu itu adalah patahnya kaki Glyn Pardoe pemain City karena tekel keras George Best sang pemain MU pada Desember 1970.

Seiring berjalannya waktu, City mengalami rasa kecemburuan yang luar biasa pada era 1990-an hingga 2000-an.

MU terus mengumpulkan gelar demi gelar, sementara Ciy lebih banyak naik turun divisi Liga Inggris.

Manchester City yang merasa dirinya adalah kesebelasan dari kota merasa dikalahkan kesebelasan pinggiran kota.

Pada periode itu juga Roy Keane melakukan tekel keras kepada Alf-Inge Haland.

Haland sampai harus menerima karirnya meredup karena sulit menjalani proses penyembuhan cedera ligamen lutut.

Keane melakukan tekel itu dengan sengaja dan itu diakuinya dalam biografinya.

Tragedi itu semakin membuat derbi Manchester era 1990-an memanas karena dendam panas di dalam maupun luar lapangan.

DATANG SHEIKH MANSOUR, ERA BARU LAHIR

Akuisisi oleh Abu Dhabi Group pada 2008 menandai momen penting dalam keseimbangan kekuasaan mereka di Liga Inggris.

Kedatangan rombongan yang dipimpin Sheikh Mansour itu sangat jelas menambah bumbu dalam rivalitas Derbi Manchester.

Gelontoran uang darinya untuk membeli pemain mahal dan mendapuk pelatih kelas atas, membuat City perlahan mampu menyaingi MU.

Diawali dengan memecahkan rekor transfer untuk mengontrak Robinho seharga 32,5 juta pound.

Di era Mansour juga Manchester City berani memanfaatkan situasi panasnya hubungan Carlos Tevez dengan Sir Alex Ferguson.

Tevez yang merupakan penyerang andalan Ferguson di MU berhasil dibujuk bergabung dengan City pada 2009.

City seperti ‘mengencingi’ MU dengan merekrut mantan striker mereka, Carlos Tevez menggenapi skuat bertabur bintang yang dihuni sosok-sosok macam Roque Santa Cruz, Emanuel Adebayor, hingga Kolo Toure. Kemudian disusul dengan kedatangan David Silva, Yaya Toure dan lainnya setelah itu.

Pelatih MU, Sir Alex Ferguson sampai geram dan menyerang balik City dengan menyebut klub tersebut sebagai ‘tetangga berisik’.

Manchester City juga berhasil memberikan kekalahan terburuk sepanjang sejarah United dan Sir Alex Ferguson berkat kemenangan 6-1 di Old Trafford.

Pada saat itu Mario Balotelli mencetak gol pertama dan membuka jersey City untuk menunjukan tulisan “Why always me?”.

Pada musim 2011/2012 itu juga City pada akhirnya berhasil menjuarai Liga Primer Inggris. Bahkan gelar itu didapatkan karena unggul selisih gol dari MU di laga terakhir terakhir musim tersebut. City keluar sebagai juara setelah menang 3-2 atas QPR pada laga terakhir.

Perebutan pemain juga membuat persaingan antara City dengan MU semakin meruncing. Salah satunya adalah Robin van Persie yang merupakan penyerang Arsenal, kemudian lebih memilh berlabuh di Stadion Old Trafford.

Selama liga Primer, City telah menghabiskan sekitar 300 juta pound untuk belanja pemain. Lebih banyak daripada MU.

Pengeluaran terbesar City datang selama era Josep “Pep” Guardiola dalam dua musim pertamanya. Sementara MU mengglontorkan uang paling banyak selama masa jabatan manajer Louis van Gaal.

KEPERGIAN SIR ALEX FERGUSON

Setelah 2008 kedua kesebelasan bisa dibilang bersaing ketat, City telah sama-sama mapan di antara elit sepakbola dunia termasuk musuh lama mereka dari Old Trafford.

MU masih menjadi kesebelasan paling sukses di Inggris selama era Liga Primer. Namun dominasi MU semakin berkurang sejak Manchester City meraih gelar juara liga saat Sergio Aguero mencetak gol kemenangan atas QPR pada akhir musim 2011/2012.

Sejak itu, Manchester City menjadi kekuatan dominan di papan atas Liga Primer Inggris.

Setahun kemudian, di tahun terakhirnya melatih, Ferguson berhasil mengambil alih gelar yang sempat hilang itu. Namun, tahun kejayaan tersebut seperti jadi titik antiklimaks Setan Merah.

Manchester United tampak mulai terisolasi pasca pensiunnya Ferguson. Sejak turunnya Fergie dari kursi kepelatihan, MU lebih kerap berada di bawah City.

Dan setelah Ferguson pergi, Manchester City sudah empat kali juara liga yaitu musim 2013-2014 dan musim 2017-2018, 2018-2019, 2020-2021 sementara United belum sekali pun meraih gelar lagi.

AHABET
AHABET
HKINDO
HKINDO