Statistik Membuktikan! Jadi Pelatih MU Adalah Pekerjaan Tersulit di Dunia!

Gilabola.com – Menjadi pelatih Manchester United ternyata merupakan salah satu pekerjaan terberat di muka bumi ini, sepeninggal Sir Alex Ferguson belum ada satupun manajer yang dianggap sukses di Old Trafford. Mau lihat perbandingan setiap pelatih? Baca terus sampai tuntas artikel ini!

Ultimatum Amorim yang Berujung Jalan Buntu

Ruben Amorim resmi dipecat Manchester United usai hasil imbang 1-1 melawan Leeds United pada Minggu malam WIB, keputusan yang diambil manajemen meski Setan Merah masih berada di posisi keenam klasemen Premier League.

Hasil tersebut menjadi penutup periode penuh gejolak Amorim di Old Trafford. Baik sebelum maupun sesudah laga, pelatih asal Portugal itu kembali menyampaikan pernyataan bernada konfrontatif dalam konferensi pers, yang diarahkan langsung kepada petinggi klub.

Bagi Amorim, sikap “dukung saya atau pecat saya” ternyata menjadi pedang bermata dua. Musim sebelumnya, ia sudah mencatatkan sejarah kelam dengan membawa Manchester United finis di posisi terburuk mereka sepanjang era Premier League.

Meski saat ini United masih berada di peringkat keenam dan tetap berada dalam perburuan tiket Liga Champions, konsistensi performa menjadi masalah utama. Manajemen klub, yang dipimpin CEO Omar Berrada dan direktur sepak bola Jason Wilcox, menilai target tersebut lebih realistis dicapai tanpa Amorim.

“Dengan Manchester United berada di posisi keenam Premier League, pimpinan klub dengan berat hati memutuskan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan perubahan. Ini akan memberi tim peluang terbaik untuk meraih posisi tertinggi yang memungkinkan di Premier League,” bunyi pernyataan resmi klub.

Keputusan ini membuat United kini mencari manajer permanen ketujuh dalam kurun sedikit lebih dari 12 setengah tahun sejak era legendaris Sir Alex Ferguson berakhir.

Daftar Manajer Manchester United Pasca Sir Alex Ferguson

Perjalanan Manchester United sejak 2013 diwarnai pergantian pelatih yang silih berganti. Setiap era membawa harapan baru, namun juga meninggalkan cerita kegagalan dan ketidakkonsistenan.

David Moyes: Awal yang Menjanjikan, Akhir yang Pahit

David Moyes datang sebagai “The Chosen One” pilihan langsung Sir Alex Ferguson. Awalnya, United sempat memenangkan Community Shield dan membuka musim dengan kemenangan telak 4-1 atas Swansea City.

Namun, kekalahan 1-0 dari Liverpool di Anfield dan kekalahan 4-1 dari Manchester City menjadi titik balik. Dua kekalahan memalukan 3-0 di Old Trafford dari kedua rival tersebut, disusul kekalahan dari Everton di Goodison Park, mengakhiri masa Moyes bahkan sebelum musim pertamanya rampung.

Louis van Gaal: Disiplin Tinggi, Hiburan Rendah

Louis van Gaal datang dengan reputasi besar setelah membawa Belanda finis ketiga di Piala Dunia 2014. Namun, kekalahan 5-3 dari Leicester City yang terinspirasi Jamie Vardy mengubah arah musim.

Gaya bermain United di bawah Van Gaal dinilai terlalu lambat dan kaku. Meski sempat kembali ke Liga Champions dan menjuarai FA Cup, finis keenam pada musim 2015/16 membuatnya tetap kehilangan jabatan.

Jose Mourinho: Trofi di Tengah Ketegangan

Jose Mourinho membawa United meraih Carabao Cup dan Liga Europa, menjadikan musim pertamanya sebagai yang paling sukses pasca Ferguson dalam hal trofi.

Namun, hubungan yang memburuk dengan pemain kunci seperti Paul Pogba serta performa yang merosot membuatnya dipecat setelah kekalahan dari Liverpool pada Desember 2018.

Ole Gunnar Solskjaer: Stabil tapi Tak Sempurna

Solskjaer mungkin tidak menawarkan revolusi taktik, namun ia berhasil mengembalikan suasana positif. United finis kedua pada musim 2020/21 dan nyaris meraih Liga Europa.

Fondasi yang sudah terbentuk runtuh setelah kedatangan kembali Cristiano Ronaldo, dan kekalahan telak dari Watford pada November 2021 mengakhiri masa jabatannya.

Ralf Rangnick: Kritik Terbuka Tanpa Hasil Nyata

Rangnick datang dengan reputasi gegenpressing, namun realitas skuad United tidak mendukung idenya. Kekalahan besar dari City dan Liverpool kembali terjadi.

Kritik terbuka terhadap skuad yang dinilainya tak cocok dengan sepak bola modern membuat masa jabatannya lebih terasa sebagai transisi ketimbang solusi.

Erik ten Hag: Awal Cerah, Akhir Suram

Ten Hag memulai era dengan menjanjikan, termasuk menjuarai Carabao Cup dan menyingkirkan Cristiano Ronaldo. Namun, kekalahan 7-0 dari Liverpool menjadi luka yang tak pernah sembuh.

Meski menambah FA Cup, performa liga yang buruk membuat kontrak barunya terasa salah arah hingga akhirnya ia dipecat pada Oktober 2024.

Ruben Amorim dan Harapan yang Tak Terwujud

Harapan besar mengiringi kedatangan Ruben Amorim dari Sporting CP. Kemenangan 4-1 atas Manchester City di Liga Champions bersama klub lamanya membuat antusiasme memuncak.

Ia sempat memenangi Derby Manchester pada Desember 2024 dan mengambil sikap tegas terhadap pemain bintang seperti Marcus Rashford dan Alejandro Garnacho, yang awalnya disambut positif.

Namun, hasil berbicara lain. Finis di posisi ke-15 Premier League serta kekalahan di final Liga Europa dari Tottenham menjadi noda besar. Meski mendapat dukungan di bursa transfer, Amorim gagal membuktikan diri, dan ultimatumnya justru mempercepat akhir kariernya di Old Trafford.

Perbandingan Manajer Manchester United Sejak Sir Alex Ferguson

ManajerDitunjukDipecatMainMenangImbangKalahWin %Trofi
David Moyes1 Juli 201322 April 20145126101550,98%Community Shield 2014
Louis van Gaal16 Juli 201423 Mei 201610354242552,43%FA Cup 2015/16
Jose Mourinho27 Mei 201618 Desember 201814484312958,33%Community Shield 2016, Carabao Cup 2016/17, Liga Europa 2016/17
Ole Gunnar Solskjaer18 Desember 201921 November 202116892354154,76%
Ralf Rangnick3 Desember 202122 Mei 202229119939,93%
Erik ten Hag23 Mei 202228 Oktober 202412872203656,25%Carabao Cup 2022/23, FA Cup 2023/24
Ruben Amorim11 November 20245 Januari 20266324182138,1%

Pandangan Gilabola.com

Menurut kami, pemecatan Ruben Amorim justru menegaskan bahwa Manchester United masih belum benar-benar belajar dari kesalahan masa lalu. Terlalu sering klub ini terjebak antara idealisme pelatih dan realitas performa, lalu memilih jalan pintas ketika hasil tak kunjung datang. Amorim memang gagal, tapi masalah United terasa jauh lebih struktural daripada sekadar siapa yang duduk di kursi manajer. Mau tau pelajaran termahal dan kebiasaan boros Manchester United? Baca artikel tentang mahalnya Ruben Amorim bagi Setan Merah yang satu ini!