
Gilabola.com – Viktor Gyokeres menjadi sorotan usai performanya yang naik turun di Arsenal. Apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana solusinya?
Sebelumnya, Arsenal seperti menemukan versi terbaiknya lagi di Eropa.
Tengah pekan lalu, kemenangan 3-1 di markas Inter Milan terasa meyakinkan, bahkan menggairahkan.
Ada Gabriel Jesus. Ada Viktor Gyokeres. Keduanya mencetak gol.
Namun, begitu sorotan beralih ke kompetisi Liga Inggris, rasa puas itu langsung berubah jadi tanda tanya besar.
Mengapa cerita indah di Liga Champions sulit terulang di kompetisi domestik?
Tajam di Eropa, Seret di Liga
Skuad Mikel Arteta menyapu bersih tujuh laga Liga Champions musim ini.
Produktivitas mereka bahkan jadi yang terbaik bersama di kompetisi tersebut dengan 20 gol.
Di Eropa, Arsenal lebih bebas. Lawan berani menyerang. Ruang terbuka.
Skenarionya sangat berbeda dengan Premier League yang penuh low block dan mid block.
Dua hasil imbang tanpa gol di liga jadi alarm.
Dan seperti biasa, nama Viktor Gyokeres langsung masuk radar kritik.
Angka Gyokeres yang Tak Bisa Disembunyikan
Tidak ada cara halus untuk mengatakan ini, tapi memang Gyokeres belum memenuhi ekspektasi di Premier League.
Striker berusia 27 tahun itu baru mencetak lima gol dari 20 laga liga, dengan hanya dua gol dari open play.
Angka yang jelas belum … “Arsenal banget”.
Namun masalahnya bukan cuma statistik.
Yang mengganggu justru apa yang terlihat di lapangan.
Perdebatan Fans Arsenal yang Terbelah
Sekembalinya dari cedera otot pada November tahun lalu, perdebatan pecah di kalangan fans. Satu kubu menyalahkan rekan setim yang jarang memberinya bola.
Kubu lain menilai Gyokeres kurang agresif dan kurang cerdas membaca ruang.
Menariknya, dua-duanya ada benarnya.
Setelah 22 laga liga, Bukayo Saka adalah pencipta peluang terbanyak untuk Gyokeres.
Jumlahnya? Hanya empat.
Itu menunjukkan satu hal: Arsenal memang jarang menemukan strikernya, tapi sang striker juga sering kehilangan penjagaan.
Masalah Pergerakan yang Terus Terulang
Kritik soal pergerakan Gyokeres bukan hal baru.
Dan itu kembali terlihat dalam dua laga imbang terakhir.
Saat melawan Liverpool, ruang besar terbuka di antara Virgil van Dijk dan Ibrahima Konate. Namun Gyokeres memilih tetap sentral, tidak menyerang celah itu.
Akibatnya fatal.
Gelandang Liverpool menutup ruang, Saka terpaksa menembak dengan kualitas rendah.
Situasi serupa terjadi kontra Nottingham Forest.
Gyokeres meminta bola terobosan dari Ben White, tapi larinya tidak cukup tajam untuk memaksa keputusan.
Ia frustrasi.
Namun Forest dengan nyaman mengerahkan tujuh pemain untuk mengurung bola.
Kurang Memaksa, Kurang Mengancam
Dalam sepak bola level elite, pelari yang meyakinkan akan memaksa umpan.
Gyokeres sering meminta bola, tapi tanpa akselerasi yang benar-benar menggigit.
Polanya sebenarnya mirip dengan saat ia di Sporting CP.
Bedanya, di Premier League, bek-bek jauh lebih cepat membaca dan menutup ruang.
Ini bukan soal malas.
Ini soal variasi dan timing yang belum klik.
Statistik Tembakan yang Menipu
Menariknya, musim ini Gyokeres justru menembak dari jarak paling dekat sepanjang kariernya. Rata-rata jarak tembakannya hanya 12 yard.
Sekilas terlihat positif.
Namun banyak dari tembakan itu dilepaskan dalam tekanan tinggi, dengan kualitas peluang rendah.
Di Premier League, ia hanya melepaskan tiga tembakan dari luar kotak penalti.
Bandingkan dengan laga kontra Inter, di mana ia berani mencoba dari luar dan langsung berbuah gol.
Arsenal Butuh Lebih Berani Ambil Risiko
Secara tim, Arsenal adalah salah satu yang paling dekat menembak ke gawang di liga.
Rata-rata jarak tembakan mereka 14,6 yard, terbaik ketiga di Premier League.
Namun ada kalanya, tembak di tempat adalah solusi.
Gol-gol Eberechi Eze, Leandro Trossard, hingga Gabriel Jesus datang dari keberanian mencoba.
Di tengah pertahanan yang makin hafal pola Arsenal, elemen kejutan itu jadi kunci.
Masalah Ini Bukan Gyokeres Seorang
Menariknya, Arsenal tidak punya satu pun pemain yang benar-benar dominan dalam gol dan assist.
Trossard memimpin dengan sembilan kontribusi, disusul Saka dan Declan Rice dengan tujuh.
Gyokeres, Gabriel Magalhaes, dan Jurrien Timber sama-sama punya lima.
Artinya, beban tidak bertumpu pada satu nama.
Jadwal padat juga berperan.
Bulan dengan sembilan pertandingan membuat hampir semua tim papan atas kehilangan ritme.
Dua Lawan, Dua Masalah Berbeda
Arteta menilai laga kontra Forest berbeda dengan Liverpool.
Namun benang merahnya tetap sama, kesulitan menembus blok rapat.
Melawan Liverpool, Arsenal mencoba memanfaatkan progresi William Saliba dan posisi Timber.
Cara itu sempat bekerja, tapi terasa tidak ideal untuk membongkar pertahanan keras kepala.
Wajar, karena di area itu Arsenal unggul jumlah.
Tapi publik juga berhak bertanya, apakah bek ke bek solusi terbaik?
Pelajaran Berharga dari San Siro
Berbeda cerita saat melawan Inter.
Inter bahkan lebih kompak, tapi Arsenal memilih menembus, bukan memutar.
Rangkaian satu sentuhan cepat, pergerakan simultan Jesus, Eze, dan Timber menciptakan kekacauan.
Saat gol tercipta, enam pemain Arsenal sudah berada di kotak penalti.
Momen ini menunjukkan satu hal penting.
Arsenal bisa bermain vertikal, cepat, dan mematikan.
Kerjasama Jadi Kunci Utama
Kami melihat bahwa isu utama Arsenal bukan kualitas, melainkan koneksi.
Saat kombinasi pemain tepat, permainan mengalir.
Front four kontra Inter terasa sangat teknis dan saling melengkapi.
Gyokeres memang baru benar-benar menikmati ruang di babak kedua.
Namun ruang itu juga bisa tercipta lebih cepat.
Dengan satu syarat, intensitas lari dan variasi pergerakan harus meningkat.
Opini Gilabola: Jalan Tengah untuk Gyokeres
Gyokeres menurut kami bukan masalah, tapi juga belum solusi final.
Ia bukan tipe Haaland yang menggendong tim sendirian.
Namun Arsenal juga tidak butuh itu.
Sejarah membuktikan mereka bisa juara dengan gol yang tersebar.
Yang perlu dibenahi adalah detail kecil.
Timing lari, keberanian menembak, dan sinkronisasi dengan pemain di belakangnya.
Jika itu klik, Arsenal akan jauh lebih sulit ditebak.
Dan Gyokeres bisa berubah dari sorotan kritik menjadi pembeda.
Harapan Menuju Paruh Kedua Musim
Arteta percaya pada filosofi gol kolektif.
Dan sejauh ini, Arsenal adalah salah satu tim dengan pencetak gol terbanyak yang merata.
Masih ada ruang tumbuh.
Dan kemenangan di San Siro bisa jadi percikan penting.
Seperti Dubai 2024, Arsenal berharap momen ini memicu ledakan performa.
Pertanyaannya, apakah Gyokeres siap menyambutnya?
Biar nggak ketinggalan update transfer dan skor bola terbaru, yuk follow Gilabola.com di Google News di sini!