Gilabola.com – Manchester United berusaha keluar dari lingkaran setan saat alasan keputusan penunjukan Michael Carrick sebagai pelatih interim terungkap pasca kegagalan Ruben Amorim sebagai nahkoda di Old Trafford.
Jadi, alih-alih dengan cepat menentukan pelatih tetap untuk memimpin tim, dewan klub memilih bermain sabar dan sebagai gantinya, mereka hanya mempekerjakan pelatih interim sebelum keputusan besar dibuat.
Pergantian ini dilakukan setelah dewan klub menilai tekanan dan dinamika di Old Trafford terlalu berat bagi Amorim, yang mengaku terkejut dengan intensitas ekspektasi serta sulitnya memprediksi tantangan harian di klub sebesar Manchester United.
Nah, situasi itu membuat dewan klub menyimpulkan bahwa sosok yang memahami kultur internal lebih dibutuhkan untuk menangani tim di sisa musim. Karena itu, daftar kandidat interim hanya berisi figur yang memiliki sejarah panjang bersama klub.
Ole Gunnar Solskjaer dan Michael Carrick pun menjadi nama yang diperdebatkan bersama Ruud van Nistelrooy, sebelum akhirnya Carrick yang dipilih karena dia memahami tugas terbatasnya sebagai pelatih interim.
Keputusan penunjukan Carrick sebagai pelatih interim ini juga dengan berbagai pertimbangan kuat. Pertama, mereka tak ingin buru-buru dan mengulang kekeliruan pada Ruben Amorim, yang ditunjuk sebagai pelatih tetap di pertengahan musim.
Hasilnya? Alih-alih memperbaiki apa yang salah di era Erik ten Hag, bos Portugal itu malah membuat Manchester United tampil lebih buruk dan finis di posisi terendah dalam sejarak klub di Premier League.
Kedua, dengan kesabaran ini, United bisa memiliki waktu panjang untuk menunjuk pelatih yang benar-benar tepat sehingga mereka tidak harus terus mengulang kesalahan yang sama dan terjebak di lingkaran setan.
Kenapa harus Carrick? direktur olahraga Jason Wilcox menjawabnya, yaitu karena klub menginginkan pelatih yang memahami ekspektasi klub, struktur kekuasaan, serta tekanan dari publik dan media.
Nah, Carrick dianggap sosok yang memenuhi semua kriteria itu. Dia sebelumnya sudah punya pengalaman sebagai pemain, staf pelatih, dan pelatih interim di Manchester United, jadi dia benar-benar paham dengan tugasnya.
Selain itu, Carrick juga nyaman bekerja dalam struktur klub yang jelas. Ini tentu saja kontras dengan sujao Amorim, yang memiliki perbedaan pandangan taktis dengan Wilcox dan enggan sepenuhnya menyelaraskan diri dengan visi dan struktur klub.
Lalu, kenapa bukan Solskjaer? Juru taktik Norwegia itu awalnya sempat dijagokan sebagai favorit utama, terutama karena pengalamannya sebagai pelatih interim dan juga pelatih permanen.
Tapi dia akhirnya tidak ditunjuk karena dewan klub menganggap bahwa membawa kembali mantan pelatih lama adalah sebuah langkah mundur, selain menilai Ole bisa melihat peran pelatih interim sebagai batu loncatan agar dia bisa jadi pelatih tetap.
Tentu saja itu tidak bisa dipenuhi dewan klub, yang sejak awal pokoknya mereka hanya ingin pelatih interim, sementara Carrick paham pada keterbatasan tanggung jawab ini dan dia menerimnya.
Pendapat Kami
Ini adalah sebuah langkah tepat dari dewan Manchester United untuk mempekerjakan pelatih interim hingga akhir musim dan memilih Carrick sembari bersabar menyusun rencana untuk keputusan besar pada penunjukan pelatih tetap di musim depan.

