Thomas Frank Buka Suara soal Masa Sulit Tottenham: Ini Maraton, Bukan Sprint!

Gilabola.com – Thomas Frank mengakui tantangan yang ia hadapi bersama Tottenham Hotspur saat ini bukan sesuatu yang mudah untuk dinikmati. Meski begitu, pelatih berusia 52 tahun itu menegaskan dirinya akan tetap menundukkan kepala dan terus bekerja keras demi membawa proyek Spurs kembali ke jalur yang tepat.

Frank menyampaikan hal tersebut jelang laga kandang Tottenham melawan Sunderland pada Minggu mendatang. Pengakuan itu datang di tengah tekanan yang semakin terasa, baik dari situasi tim maupun reaksi suporter.

Sambutan Hangat di Brentford, Tekanan Datang dari Pendukung Spurs

Thomas Frank mendapat sambutan meriah dari pendukung Brentford pada Kamis malam, dalam kunjungan pertamanya ke Gtech Community Stadium sejak meninggalkan klub tersebut pada musim panas lalu. Namun, momen emosional itu berakhir pahit.

Penampilan Tottenham yang kembali tumpul di lini serang membuat sebagian besar suporter Spurs meluapkan kekecewaan mereka. Teriakan “boring” terdengar saat pertandingan berlangsung, sebelum diakhiri dengan sorakan boos keras kepada Frank ketika laga berakhir.

Ketika ditanya apakah ia menikmati tantangan di Tottenham, Frank tertawa sebelum menjawab dengan jujur.

“Pertanyaan yang bagus,” ujarnya. “Saat Anda harus bekerja sangat keras, segalanya tidak berjalan mulus, dan situasinya berat, tentu sulit untuk menikmatinya.”

Ia kemudian mengibaratkan kondisi tersebut seperti berlari keras demi meningkatkan kebugaran. Momen itu tidak menyenangkan, tetapi harus dilalui agar bisa sampai ke tujuan.

“Kami sedang berada dalam situasi di mana Anda harus terus berlari keras untuk bertahan dan melewatinya,” kata Frank.

Thomas Frank: Proses Berat yang Akan Jadi Pembelajaran

Meski mengakui masa sulit ini, Thomas Frank percaya periode berat tersebut suatu saat akan menjadi pembelajaran berharga. Ia menilai ketika menengok ke belakang, fase awal yang penuh tantangan ini akan dipandang sebagai pengalaman penting yang membuat tim lebih kuat.

“Jawaban singkatnya adalah tidak, saya tidak menikmati ini. Tapi ketika saya melihatnya dari luar, saya merasa ini adalah pembelajaran besar dan sebuah kehormatan bisa memimpin klub fantastis di masa transisi besar,” jelasnya.

Frank juga mengungkap adanya perubahan besar di internal klub. Ia menyebut Tottenham telah mengganti delapan sosok pimpinan di level atas, dan transformasi besar seperti yang terjadi pada 2025 ini belum pernah dialami klub selama 140 tahun terakhir.

“Perubahannya sangat banyak, tetapi potensinya juga besar,” ucapnya.

Ia menambahkan, suatu hari nanti ia berharap bisa melihat kembali periode ini dan berkata bahwa semua kesulitan tersebut adalah bagian dari proses sebelum akhirnya bisa benar-benar menikmatinya.

“Ini jelas seperti maraton. Rasanya seperti salah satu kilometer terberat yang sedang saya jalani sekarang, tapi saya akan tetap menunduk dan terus melangkah,” tuturnya.

Masalah Serangan Masih Jadi PR Tottenham

Hasil imbang tanpa gol melawan Brentford membuat Tottenham mencatat empat clean sheet dari enam pertandingan terakhir. Namun, masalah terbesar tim saat ini justru terletak pada performa menyerang yang minim ancaman.

Absennya pemain-pemain penting seperti Dominic Solanke dan James Maddison sangat memengaruhi kinerja tim. Selain itu, Dejan Kulusevski juga belum berada dalam kondisi siap, sementara Xavi Simons harus absen karena sanksi larangan bermain.

Frank mengakui bahwa kondisi ini di luar ekspektasinya ketika pertama kali datang ke Tottenham.

“Saya tahu ini akan menjadi tantangan besar,” katanya. “Tapi tentu saya tidak menyangka Solanke dan Maddison akan absen selama tujuh bulan, atau Kulusevski belum siap.”

Ia menegaskan sejak awal sudah memahami bahwa musim ini adalah musim transisi, dengan proyek jangka panjang yang sedang dibangun.

“Saya yakin apa yang sedang kami bangun akan sangat bagus di masa depan. Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, dan saya sangat sadar apa saja itu,” pungkas Thomas Frank.