Thomas Frank Difavoritkan Tangani Crystal Palace, Ismaila Sarr Bisa Jadi Kunci di Formasi 4-2-3-1

Crystal Palace mulai bersiap menghadapi kemungkinan berakhirnya era Oliver Glasner. Performa yang menurun serta jarak yang kian terasa antara pelatih asal Austria itu dengan ruang ganti dan suporter membuat kursinya tak lagi aman, meski belum ada keputusan pemecatan dalam waktu dekat.

Glasner sebelumnya mempersembahkan Piala FA dan Community Shield, namun situasi musim ini berubah drastis. Hasil buruk dan sejumlah komentar yang dianggap tidak membantu suasana membuat tekanan terus meningkat. Ketua klub Steve Parish kini dituntut tepat dalam menentukan arah berikutnya apabila perubahan benar-benar terjadi.

Nama-Nama dalam Pertimbangan

Pasar manajer diperkirakan akan bergerak cepat dalam beberapa bulan ke depan. Meski kabarnya Glasner belum akan diberhentikan saat ini, sejumlah kandidat sudah masuk radar.

Sir Gareth Southgate disebut-sebut berpeluang kembali ke Selhurst Park dalam kapasitas sementara. Namun menurut laporan Football Insider, dua nama lain juga masuk pertimbangan setelah pemecatan terbaru mereka, yakni Sean Dyche dan Thomas Frank.

Dari ketiganya, Thomas Frank disebut berada di posisi terdepan pada tahap awal ini. Pelatih asal Denmark berusia 52 tahun itu memiliki pengalaman panjang di Liga Inggris dan dinilai bisa menarik minat klub lain jika Palace tidak bergerak cepat.

Rekam Jejak Thomas Frank dan Tantangan di London Selatan

Frank baru saja dipecat dari Tottenham awal bulan ini setelah periode yang mengecewakan di London utara. Namun konteksnya tidak sesederhana itu. Situasi klub disebut sedang dalam tren menurun dan persoalan tidak semata-mata terletak pada pelatih.

Sebelumnya di Brentford, Frank mendapat banyak pujian atas pekerjaannya. Jurnalis The Athletic, Jay Harris, menyebut masa kerjanya dipenuhi banyak momen luar biasa. Ia berhasil mengembangkan sejumlah penyerang menjadi tumpuan tim.

Di bawah arahannya, Ivan Toney mencetak 72 gol dari 141 laga, Bryan Mbeumo mengemas 70 gol dari 242 pertandingan, Yoane Wissa 49 gol dari 149 laga, Ollie Watkins 34 gol dari 83 pertandingan, serta Said Benrahma 29 gol dari 80 penampilan.

Catatan tersebut menunjukkan kemampuannya memaksimalkan potensi lini depan, sesuatu yang saat ini sangat dibutuhkan Palace.

Implikasi bagi Ismaila Sarr

Salah satu pemain yang berpotensi diuntungkan adalah Ismaila Sarr. Penyerang berusia 27 tahun itu mencetak lima gol dan satu assist dari 17 laga Premier League musim ini. Namun statistik lain menunjukkan inkonsistensi. Ia rata-rata hanya berhasil melakukan satu dribel sukses setiap dua pertandingan, dengan tingkat keberhasilan 38 persen.

Sarr dikenal sebagai winger yang cepat dan kuat secara fisik. Mantan rekan setimnya di Watford, Ben Foster, pernah menyebutnya sebagai atlet yang unik. Karakter bermainnya bahkan memiliki kemiripan dengan Bryan Mbeumo, yang berkembang pesat di bawah asuhan Frank.

Musim ini Sarr lebih sering dimainkan di peran penyerang tengah atau posisi menyerang sentral. Bisa jadi pergeseran dari peran sayap murni membatasi potensi terbaiknya. Frank dikenal menyukai struktur 4-2-3-1, sistem yang memberi ruang bagi winger untuk bergerak dari sisi lapangan lalu menusuk ke dalam untuk melepaskan tembakan.

Jika pendekatan itu diterapkan di Selhurst Park, Sarr berpeluang kembali menemukan efektivitasnya. Terlebih Palace telah kehilangan figur kreatif seperti Michael Olise dan Eberechi Eze dalam beberapa musim terakhir. Klub membutuhkan sosok baru yang mampu menjadi titik tumpu serangan.

Di tengah ketidakpastian masa depan Glasner, keputusan Steve Parish bukan sekadar soal mengganti pelatih. Pilihan itu akan menentukan arah taktik dan perkembangan pemain kunci seperti Sarr. Jika Palace benar-benar bergerak menuju Thomas Frank, perubahan sistem bisa menjadi awal fase baru bagi klub London selatan tersebut.

Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!