Thomas Tuchel, Calon Pelatih Chelsea yang Mantan Model dan Pernah Tolak Bayern Munchen

Gilabola.com – Thomas Tuchel santer diberitakan akan gantikan Frank Lampard di Chelsea. Ternyata ia seorang pelatih dengan banyak julukan, walau sulit membayangkan bahwa ia pernah menganggap dirinya sebagai model masa depan Jerman.

Mantan pelatih PSG itu menjadi bidikan Chelsea, dan tengah menunggu tawaran klub London Barat tersebut jika Roman Abramovich jadi mendepak Frank Lampard. Siapa sangka ia pernah menjadi model fesyen di New York untuk sebuah majalah pria, Die Zeit.

Sebagai pemain sepak bola, Tuchel yang kini berusia 47 tahun gantung sepatu saat ia masih berumur 24 tahun. Ia langsung banting setir sebagai bartender – profesi yang diakuinya telah membantunya tampil lebih percaya diri.

Advertisement
QQCepat
QQCepat
TOTOBET
TOTOBET

Arsitek klub kelahiran Krumbach, Bavaria, itu juga menjadi salah seorang pelatih sepak bola yang tergolong langka, karena memiliki gelar akademis. Thomas Tuchel bersikeras untuk tetap berkuliah – dengan jurusan administrasi bisnis, sembari bekerja sebagai bartender di Radio Bar di Stuttgart.

Tuchel digambarkan The Sun memiliki kepribadian menarik, yang diyakini akan membuat Liga Premier tambah berwarna jika ia benar-benar gabung Chelsea.

Channel Gilabola di Youtube

The Next Top Model-nya Jerman

Ini menjadi bagian ulasan yang paling menarik, karena tidak ada yang pernah menyangka bahwa Tuchel – mantan pelatih Mainz, Borussia Dortmund dan PSG itu pernah eksis di dunia model. Ia bahkan menganggap dirinya akan menjadi The Next Top Model-nya Jerman, saat usianya masih muda.

Pada tahun 2017, hanya sedikit yang memercayai apa yang mereka saksikan – dan mereka bukan berasal dari kalangan pecinta sepak bola. Pasalnya, Thomas Tuchel yang kurus  dengan tinggi 1,9 meter, sebelumnya tampil dengan pose trendy sebagai model di ZEITmagazin MANN, dan tampil bak model pria terkenal asal Inggris, David Gandy.

Saat itu, Tuchel baru saja kehilangan pekerjaan sebagai pelatih usai dipecat Borussia Dortmund – hanya beberapa hari setelah klub Bundesliga itu memenangkan Piala Jerman.

Ternyata, foto penuh gaya itu benar-benar menjadi audisi sempurna baginya untuk dapatkan pekerjaan di PSG, yang diasuhnya mulai tahun 2018 – dengan basis kota Paris yang menjadi rumahnya dunia fesyen.

Thomas Tuchel memang telah menempuh perjalanan yang sangat jauh, sejak awal, untuk menjadi manajer sepak bola seperti yang dicita-citakannya.

Pensiun Dini

Di awal karirnya sebagai pesepak bola. Tuchel memulainya di Augsburg sebagai seorang pemain bertahan. Namun saat ia berusia 19 tahun, ia dilepas klub tersebut dan pindah ke klub divisi dua, Stuttgarter Kickers, tapi hanya bermain delapan kali dan mencetak satu gol untuk klub itu.

Lalu, dia pindah ke SSV Ulm, hingga akhirnya terpaksa gantung sepatu saat usianya masih 24 tahun, setelah alami cedera lutut yang sangat serius.

Alih-alih pikirkan ambisinya yang gagal di dunia sepak bola, Thomas Tuchel menyibukkan dirinya dengan kuliah dan bekerja di sebuah bar terkanl. Di bar itu, ia mengaku mendapat banyak pelajaran mengenai ketrampilan hidup. “Sejak awal saya tidak ingin mabuk koktail yang saya campur sendiri,” ujar Tuchel sambil tertawa lebar dalam obrolannya dengan ZEITmagazin MANN.

“Saya pelan-pelan berhasil meningkatkan rasa kepercayaan diri saya lagi di bar itu, shift demi shift, malam demi malam. Saya berhasil mengatasi hambatan untuk bertanya kepada orang asing, apakah mereka membutuhkan saya. Lalu, tiba-tiba saja saya mendapat pengalaman, ‘rekan-rekan Anda menyukai Anda apa adanya, mereka tidak tahu Anda pernah menjadi pemain sepak bola profesional’,” tambahnya.

Kembali Mengejar Mimpi

Walau Tuchel lakukan upaya terbaik untuk bisa jalani kehidupan kampus, sekaligus menyenangkan para pengunjung barnya, namun ia tetap merasa ada yang belum selesai baginya di dunia sepak bola.

Ia kemudian menghubungi pelatih Stuttgart ketika itu, Ralf Rangnick – yang belum lama ini menjadi kepala divisi pengembangan olahraga di Red Bull GmbH, untuk lakukan uji coba dengan tim cadangan. Tuchel yakin, dia cukup fit untuk bermain setelah sembilan bulan tak pernah menendang bola.

Sayangnya, ia alami cedera tulang rawan yang sangat parah, dan itu membuat Tuchel tak bisa menampilkan potensi yang sebenarnya sebagai seorang pemain. Namun, Rangnick yang melihat potensinya di sepak bola, akhirnya mendorong Tuchel untuk menjadi pelatih. Tuchel pun mulai terlibat di staf kepelatihan akademi Stuttgart, hingga akhirnya  mengambil alih posisi pelatih tim U-14 di klub itu pada tahun 2000.

Dari Bartender ke Pelatih Kepala Mainz Selama Sembilan Tahun

Perjalanan berliku-liku yang harus dilewati Thomas Tuchel, akhirnya membawanya menjadi pelatih kepala klub Bundesliga, Mainz, selama sembilan tahun dan ini menjadi bukti kerja kerasnya hingga meraih sukses.

Di Stuttgart, di bawah arahan Hermann Badstuber, Tuchel kemudian ditunjuk menjadi asisten pelatih tim U-19 dan membantu tim itu memenangkan gelar Bundesliga U-19 pada tahun 2005.

Lalu, setahun kemudian, Tuchel kembali ke Augsburg dan menjadi pelatih kepala di klub itu, di mana ia juga berhasil menyelesaikan kursus kepelatihannya dan menjadi manajer tim reserve.

Ambisi Thomas Tuchel kembali meningkat, kali ini ke Mainz pada tahun 2008, yang berhasil dibawanya meraih gelar juara Bundesliga U-19 di tahun berikutnya, bersama tim yang diperkuat Andre Schurrle yang pernah memenangkan Piala Dunia.

Saat itu, Timnas Jerman sangat ingin menunjuk Tuchel sebagai pelatih tim U-21 mereka. Namun, tawaran lebih baik datang. Saat pelatih skuad utama Mainz, Jorn Andersen, dipecat, Tuchel-lah yang mengambil alih posisinya pada tahun 2009, hingga cita-citanya mengasuh klub Bundesliga pun kesampaian.

Cerita Sukses

Dengan Mainz yang lakoni musim pertamanya di Bundesliga setelah mendapat promosi di tahun sebelumnya, Tuchel berhasil mengantar klub tersebut menutup musim di peringkat sembilan.

Musim berikutnya, setelah secara luar biasa menangkan tujuh pertandingan, termasuk kalahkan Bayern Munchen, 2-1, skuad Tuchel berhasil menutup musim di posisi kelima dan lolos kualifikasi Piala Europa – untuk pertama kalinya dalam sejarah Mainz.

Thomas Tuchel pun disebut-sebut sebagai ahli taktik oleh media Jerman, dengan gaya menyerang skuadnya yang mendapat pujian dari pengamat sepak bola.

Selamat Datang di Liga Akbar

Setelah rehat selama 12 bulan, Tuchel kemudian ditunjuk sebagai pelatih Borussia Dortmund – mengikuti jejak Jurgen Klopp. Ia mengasuh banyak bintang muda, seperti Christian Pulisic dan Ousmane Dembele, di mana mereka terus berkembang di bawah pelatih baru saat dan klub itu menjadi runner-up Bundesliga pada tahun 2016 – saat Tuchel memasuki musim keduanya di klub tersebut.

Namun saat ia berhasil memenangkan Piala Jerman pada tahun 2017 – trofi pertamanya sebagai manajer, Tuchel malah hadapi kenyataan buruk. Ia dipecat Dortmund hanya tiga hari setelah itu, dan hubungan tak harmonis dengan hirarki klub dianggap menjadi alasannya.

Meski demikian, hal itu tak menghalangi niat PSG untuk datangkan Tuchel, yang sebelumnya menolak tawaran Bayern Munchen, di musim panas tahun 2018. Tuchel pun berhasil memenangkan trofi Ligue 1 di musim pertamanya.

Tapi, lagi-lagi, ketegangan muncul saat ia berbeda pendapat dengan sejumlah tokoh senior Les Parisiens termasuk direktur olahraga, Leonardo.

Jelang kepergiannya dari Parc des Princes, Thomas Tuchel mengatakan dia merasa ‘(lebih seperti) politisi dalam dunia olahraga’ ketimbang pelatih. Pernyataan itu kemudian dibalas Leonardo dengan mengatakan, Tuchel ‘(harus) menghormati orang-orang di atasnya (Leonardo sendiri maksudnya)’. Leonardo juga tegaskan, komentar Tuchel telah merusak klub.

Akhirnya, walau berhasil mengamankan treble domestik di musim terakhirnya di klub kota Paris itu, dan juga menjadi runner-up Liga Champions, Tuchel pun dipecat lagi.

Kini, Chelsea dikabarkan mengincar pelatih berbahasa Jerman untuk membina kembali skuad London Barat itu, setelah Frank Lampard terus alami kegagalan walau dipenuhi banyak pemain mahal. Namun satu hal yang menjadi pernyataan, apakah The Blues menjadi klub yang tepat bagi Thomas Tuchel, karena klub itu selalu berada di bawah pengawasan ketat sang pemilik, Roman Abramovich.

AHABET
AHABET