Tim Liga Inggris Paling Beruntung Awal Musim Ini, Bukan Liverpool

Tim Liga Inggris Paling Beruntung Awal Musim Ini, Bukan Liverpool

Perkenalkan tim Liga Inggris paling beruntung awal musim ini. Bukan Liverpool meski berada di posisi puncak klasemen tapi tim biru ini. Siapa?

Bagaimana Liverpool duduk di puncak klasemen dan bisa disebut tidak beruntung? Selaku runner-up Liga Inggris musim lalu dan juara Liga Champions, performa itu sudah diharapkan dari anak-anak Juergen Klopp. Teman-teman yang baik dari The Telegraph Inggris memamerkan fakta berbeda soal ini. Mengambil data dari Opta mereka menganalisis jumlah “expected goals” atau jumlah gol yang diharapkan dan yang akhirnya benar-benar terjadi (“actual goals”). Hasilnya, Leicester City adalah tim Liga Inggris paling beruntung setelah delapan laga awal musim 2019/2020 ini.

Jadi, dari jumlah percobaan serangan atau “shot” selama delapan laga itu bisa dianalisa berapa yang kemungkinan besar menjadi gol. Dari situlah angka “expected goals” didapatkan. Para pemain Leicester City mencatatkan selisih terbesar antara gol yang diharapkan (hanya 7,94) dan gol aktual yang akhirnya benar-benar terjadi (14 gol). Liverpool hanya menduduki urutan ketiga dengan 15,68 gol yang diharapkan dan 20 gol yang akhirnya terjadi. Selisihnya hanya empat lebih dikit. Di antara mereka ada Tottenham Hotspur dengan 9,22 expected goals dan 14 yang akhirnya terjadi. Juga empat lebih dikit. Ingat bahwa ini hanya perbandingan dari jumlah gol yang diharapkan dan yang akhirnya terjadi. Ini perlu masuk pertimbangan saat melihat bahwa secara ironis Tottenham hanya menduduki urutan 9 klasemen dengan poin 11 setelah dua hasil seri dan tiga kekalahan dari delapan laga perdana musim 2019/2020. Datanya bisa dilihat di bawah ini.

Perkenalkan tim Liga Inggris paling beruntung awal musim ini. Bukan Liverpool meski The Reds di puncak klasemen tapi tim biru ini. Siapa? Bagaimana Liverpool duduk di puncak klasemen dan disebut tidak beruntung? Selaku runner-up Liga Inggris musim lalu dan juara Liga Champions, performa itu sudah diharapkan dari anak-anak Juergen Klopp. Teman-teman yang baik dari The Telegraph Inggris memamerkan fakta berbeda soal ini. Mengambil data dari Opta mereka menganalisis jumlah "expected goals" atau jumlah gol yang diharapkan dan yang akhirnya benar-benar terjadi ("actual goals"). Hasilnya, Leicester City adalah tim Liga Inggris paling beruntung setelah delapan laga awal musim 2019/2020 ini. Jadi, dari jumlah percobaan serangan atau "shot" selama delapan laga itu bisa dianalisa berapa yang kemungkinan besar menjadi gol. Dari situlah angka "expected goals" didapatkan. Para pemain Leicester City mencatatkan selisih terbesar antara gol yang diharapkan (hanya 7.94) dan gol aktual yang akhirnya benar-benar terjadi (14 gol). Liverpool hanya menduduki urutan ketiga dengan 15,68 gol yang diharapkan dan 20 gol yang akhirnya terjadi. Di antara mereka ada Tottenham Hotspur dengan 9,22 expected goals dan 14 yang akhirnya terjadi. Ingat bahwa ini hanya perbandingan dari jumlah gol yang diharapkan dan yang akhirnya terjadi. Ini perlu masuk pertimbangan saat melihat bahwa secara ironis Tottenham hanya menduduki urutan 9 klasemen dengan poin 11 setelah dua hasil seri dan tiga kekalahan dari delapan laga perdana musim 2019/2020. Datanya bisa dilihat di bawah ini. Hal ini hanya berarti satu hal: Anak-anak Brendan Rodgers lebih efisien dalam memanfaatkan setuap kesempatan dan klinis dalam penyelesaian akhir. Tapi mereka harus berusaha menciptakan lebih banyak kesempatan dan tidak hanya menggantungkan diri pada "hoki".  Teman-teman di The Guardian menulis begini: Metrik gol dari Opta - yang menilai setiap kesempatan gol untuk memperlihatkan bagus atau bagus banget peluang itu - memberi analisa untuk mencari kebenaran di balik klasemen Liga Inggris ini. Leicester terlihat sangat mengesankan musim ini. Mereka sukses mengalahkan Spurs, imbang lawan Chelsea, hampir saja memaksakan imbang pada Liverpool akhir pekan ini. The Foxes terlihat sebagai tim yang paling mungkin untuk menembus 'enam besar' Liga Inggris musim 2019/2020. Mereka adalah pencetak gol tertinggi keempat di divisi Premier League dengan 14 gol (setelah Manchester City 27 gol, Liverpool 20, Chelsea 18), tetapi mereka gagal menciptakan banyak peluang. Mereka berada di peringkat tengah klasemen untuk jumlah tembakan dan secara mengejutkan berada di urutan kedua dari bawah untuk gol yang diharapkan (ingat "expected goals" di atas tadi). Berdasarkan peluang yang mereka miliki, Leicester seharusnya hanya mencetak sekitar delapan gol musim ini. Perbedaan lebih dari enam antara gol yang diharapkan dan gol yang benar-benar terjadi adalah selisih terbesar di antara semua tim papan atas. Ini menunjukkan bahwa mereka mampu menyelesaikan setiap peluang dengan sangat baik, atau lebih baik daripada rata-rata tim lain. Itu bisa menjadi ciri khas sebuah tim yang hebat, tapi juga sebaliknya mungkin mengisyaratkan ada yang tidak beres di lini depan. Jamie Vardy hanya memiliki 12 shots musim ini, dengan peluang sebesar 1,96 gol yang diharapkan, tetapi mengejutkan semua orang dengan mencetak lima gol. Pada usia 32 tahun, mungkin pada tahap tertentu ia akan mengalami penurunan performa. Hal yang sama mungkin realistis untuk seluruh tim.

Selisih Terbesar Leicester City Berarti Kurang Banyak Peluang Diciptakan

Advertisement
advertisement
advertisement
Ratu Casino 77
Ratu Casino 77

Hal ini hanya berarti satu hal: Anak-anak Brendan Rodgers lebih efisien dalam memanfaatkan setuap kesempatan dan klinis dalam penyelesaian akhir. Tapi mereka harus berusaha menciptakan lebih banyak kesempatan dan tidak hanya menggantungkan diri pada “hoki”, terus berharap jadi tim Liga Inggris paling beruntung.

Teman-teman di The Guardian menulis begini: Metrik gol dari Opta – yang menilai setiap kesempatan gol untuk memperlihatkan bagus, nggak bagus, atau bagus banget peluang itu – memberi analisa untuk mencari kebenaran di balik klasemen Liga Inggris ini.

Leicester terlihat sangat mengesankan musim ini. Mereka sukses mengalahkan Spurs, imbang lawan Chelsea, hampir saja memaksakan imbang terhadap Liverpool akhir pekan kemarin. The Foxes terlihat sebagai tim yang paling mungkin untuk menembus ‘enam besar’ Liga Inggris musim 2019/2020.

Mereka adalah pencetak gol tertinggi keempat di divisi Premier League dengan 14 gol (setelah Manchester City 27 gol, Liverpool 20, Chelsea 18), tetapi mereka gagal menciptakan banyak peluang. Mereka berada di peringkat tengah klasemen untuk jumlah tembakan dan secara mengejutkan berada di urutan kedua dari bawah untuk gol yang diharapkan (ingat definisi “expected goals” di atas tadi). Berdasarkan peluang yang mereka miliki, Leicester seharusnya hanya mencetak sekitar delapan gol musim ini. Perbedaan lebih dari enam antara gol yang diharapkan dan gol yang benar-benar terjadi adalah selisih terbesar di antara semua di urutan atas klasemen.

Ini menunjukkan bahwa mereka mampu menyelesaikan setiap peluang dengan sangat baik, atau lebih baik daripada rata-rata tim lain. Itu bisa menjadi ciri khas sebuah tim yang hebat, tapi juga sebaliknya mungkin mengisyaratkan ada yang tidak beres di lini depan. Jamie Vardy hanya memiliki 12 shots musim ini, dengan peluang sebesar 1,96 gol yang diharapkan, tetapi mengejutkan semua orang dengan mencetak lima gol. Pada usia 32 tahun, mungkin pada tahap tertentu ia akan mengalami penurunan performa. Hal yang sama mungkin realistis untuk seluruh tim.

Lihat juga lima tim paling sial di Liga Inggris, membuang terlalu banyak peluang awal musim ini. Manchester United urutan kelima paling tidak beruntung.