Tottenham Hotspur tengah membahas kemungkinan menunjuk Gareth Southgate sebagai manajer baru menggantikan Thomas Frank. Nama mantan pelatih tim nasional Inggris itu muncul dalam diskusi internal klub setelah Spurs resmi mengakhiri kerja sama dengan Thomas Frank menyusul rentetan hasil buruk.
Keputusan memecat Frank diambil setelah kekalahan menyakitkan dari Newcastle pada Selasa lalu. Chief executive Vinai Venkatesham memimpin pembahasan krisis bersama executive chairman Peter Charrington saat laga tersebut berlangsung. Tak lama berselang, keluarga Lewis sebagai pemilik klub menyetujui pemutusan kontrak sang pelatih.
Frank hanya bertahan delapan bulan di London Utara. Dalam periode tersebut, Tottenham mencatat 13 kemenangan dari 38 pertandingan di semua kompetisi. Klub sebenarnya disebut sudah menyusun rencana cadangan sejak awal tahun, namun keputusan akhir baru diambil pekan ini.
Evaluasi Terhadap Era Thomas Frank
Sejumlah laporan mengungkap suasana ruang ganti Tottenham selama masa kepemimpinan Frank tidak sepenuhnya kondusif. Jurnalis The Telegraph, Matt Law, menyebut sebagian pemain merasa kurang sejalan dengan pendekatan taktik yang diterapkan.
Frank dinilai terlalu fokus meredam kekuatan lawan ketimbang membangun identitas permainan sendiri. Selain itu, beberapa anggota skuad dan staf disebut mulai jenuh dengan kebiasaannya yang kerap menyinggung rival sekota, Arsenal.
Secara statistik, posisi Frank juga tidak mengesankan. Dalam daftar persentase kemenangan terburuk Tottenham di era Premier League, namanya berada di angka 26,9 persen. Catatan itu menempatkannya di bawah Glenn Hoddle 36 persen, George Graham 33,7 persen, Juande Ramos 27,8 persen, dan Jacques Santini 27,3 persen.
Dengan performa tersebut, manajemen kini bergerak mencari sosok baru. Sejumlah nama pelatih papan atas seperti Mauricio Pochettino, Andoni Iraola, Marco Silva, Roberto De Zerbi, Oliver Glasner, Julian Nagelsmann, hingga Thomas Tuchel telah dikaitkan dengan kursi manajer Spurs. Saat ini, Pochettino dan De Zerbi disebut sebagai kandidat yang paling sering dibicarakan.
Southgate Jadi Opsi Mengejutkan
Di tengah daftar panjang tersebut, muncul satu nama yang terbilang tidak terduga: Gareth Southgate. Menurut laporan TEAMtalk dan jurnalis Graeme Bailey, eks pelatih Inggris itu dibahas dalam pertemuan internal jajaran senior klub.
Sebagian petinggi Tottenham meyakini kualitas kepemimpinan Southgate serta kemampuannya mengelola pemain bisa membantu menstabilkan ruang ganti yang disebut tengah rapuh. Meski demikian, belum ada kepastian apakah pelatih berusia 55 tahun itu tertarik menerima tawaran tersebut.
Dari sisi rekam jejak, Southgate memiliki pengalaman signifikan di level tertinggi. Ia membawa Inggris mencapai dua final Piala Eropa serta semifinal Piala Dunia 2018. Periode itu disebut sebagai masa paling sukses tim nasional sejak 1966.
Ketika mengambil alih Inggris pada 2016 menggantikan Sam Allardyce, kondisi tim dinilai tidak stabil. Dalam masa kepemimpinannya di Wembley, Southgate sempat mengembalikan rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap tim nasional. Ia juga mendapat respek luas dari para pemain, termasuk Jude Bellingham yang menyebutnya sebagai manajer luar biasa.
Kini, Tottenham menghadapi fase penting setelah pergantian pelatih. Siapa pun yang ditunjuk, tugasnya jelas: memperbaiki performa dan mengembalikan arah permainan klub yang dalam delapan bulan terakhir berjalan tanpa konsistensi. Nama Southgate mungkin terdengar mengejutkan, namun diskusi itu menunjukkan Spurs tengah mempertimbangkan berbagai opsi sebelum menentukan pilihan akhir.

