Tottenham Empat Poin dari Zona Merah, Lebih Mengerikan dari The Gunners Tanpa Trofi?

Musim 2025 menjadi periode yang sulit bagi Tottenham Hotspur. Klub London utara itu kini hanya berjarak empat poin dari zona degradasi Premier League dengan 11 laga tersisa, dan belum meraih satu pun kemenangan liga sepanjang 2026. Dalam sembilan pertandingan tahun ini, Spurs hanya mengumpulkan empat poin dan terpuruk di dasar tabel performa.

Situasi tersebut terasa makin pahit karena di saat yang sama rival sekota mereka, Arsenal, memimpin klasemen Premier League dan masih bersaing di semua kompetisi. Kontras itu memicu perdebatan soal satu pertanyaan tajam: jika Spurs terdegradasi dan Arsenal gagal meraih trofi apa pun, musim siapa yang lebih memalukan?

Ancaman Nyata Degradasi Tottenham

Tottenham mengakhiri musim lalu di peringkat ke-17, meski sempat mengangkat trofi Liga Europa yang mengakhiri puasa gelar 17 tahun. Setelah itu, manajemen memecat Ange Postecoglou. Penggantinya, Thomas Frank, hanya bertahan beberapa bulan sebelum Igor Tudor ditunjuk sebagai pelatih darurat untuk menyelamatkan klub dari ancaman turun kasta.

Trofi Liga Europa musim lalu memang menutup penantian panjang. Namun dalam rentang 17 tahun tanpa gelar sebelumnya, Spurs juga pernah kalah di dua final Piala Liga, satu final Liga Champions, serta finis kedua di Premier League. Artinya, klub ini sempat berada di papan atas, tetapi gagal menuntaskan momentum menjadi kejayaan nyata.

Kini, dengan ancaman Championship yang kian dekat, perdebatan soal rasa malu itu menjadi relevan. Majestic dalam diskusi Inside Spurs di talkSPORT menyebut degradasi sebagai skenario paling memalukan. Namun Sonny Snelling justru melihat sisi lain.

Menurutnya, jika Arsenal yang saat ini memuncaki Liga Champions dan Premier League, sudah mencapai final Carabao Cup, serta masih bersaing di Piala FA, pada akhirnya tak memenangi satu pun trofi, kegagalan itu akan terasa lebih menyakitkan.

Ia berargumen bahwa kemunduran Spurs sudah lama terlihat sejak Mauricio Pochettino pergi. Kepergian Harry Kane dan Heung min Son turut disebut sebagai bagian dari proses yang membuat kemerosotan ini tidak sepenuhnya mengejutkan.

Standar Besar dan Ekspektasi

Perdebatan itu juga menyentuh soal standar kesuksesan. Majestic menilai Arsenal selama ini membentuk narasi bahwa tanpa trofi, sebuah musim dianggap gagal. Ia mengenang era Pochettino di Tottenham sebagai periode ketika klub merasa berada di “meja elite”, meski tanpa gelar.

Abbi Summers menambahkan bahwa ekspektasi tinggi itu lahir dari progres bertahap yang dibangun sejak era Martin Jol, Harry Redknapp, hingga Pochettino. Spurs perlahan menjadi tim yang konsisten bersaing di papan atas dan masuk dalam percakapan klub besar.

Karena itulah, menurutnya, degradasi akan menjadi guncangan terbesar. Tottenham disebut sebagai bagian dari “big six” Premier League, dengan infrastruktur dan sumber daya yang tidak dibangun untuk kehidupan di Championship. Ia bahkan meragukan Spurs akan langsung promosi jika benar-benar terdegradasi, karena klub ini dinilai tidak siap menghadapi konsekuensi kompetitif dan struktural dari turun kasta.

Perbandingan pun muncul dengan klub seperti Aston Villa atau Newcastle yang pernah terdegradasi. Menurut Summers, kedua klub itu lebih siap secara mental dan struktur untuk menghadapi Championship dibanding Tottenham saat ini.

Implikasi Lebih dari Sekadar Klasemen

Ancaman degradasi bagi Tottenham bukan sekadar soal posisi di tabel. Dengan 11 pertandingan tersisa dan belum ada kemenangan liga di 2026, tekanan psikologis semakin berat. Jika tren ini berlanjut, Spurs bisa memasuki wilayah yang belum pernah mereka hadapi dalam era modern Premier League.

Di sisi lain, jika Arsenal gagal mengonversi peluang di berbagai kompetisi menjadi trofi, musim mereka tetap akan dinilai melalui kacamata ekspektasi tinggi. Namun bagi Tottenham, konsekuensi degradasi jauh melampaui rasa malu. Itu menyangkut arah klub, stabilitas, dan identitas sebagai penghuni tetap kasta tertinggi.

Perdebatan siapa yang lebih memalukan mungkin akan terus berlangsung. Tetapi bagi Tottenham, prioritasnya kini bukan soal persepsi, melainkan bertahan hidup di Premier League.

Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!