Liverpool pernah kehilangan sejumlah pemain incaran yang kemudian menjadi bagian penting dari kesuksesan Manchester City pada era kepemilikan Sheikh Mansour.
Mulai dari Gareth Barry yang nyaris menggantikan Xabi Alonso hingga Raheem Sterling yang meninggalkan Anfield dengan nilai transfer fantastis, The Reds beberapa kali kalah bersaing dari rivalnya tersebut dalam perburuan pemain.
Manchester City akan bertandang ke Anfield pada Minggu dalam pertandingan yang diperkirakan berlangsung panas. Laga ini menjadi sorotan setelah The Citizens dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 tuduhan pelanggaran aturan keuangan yang diajukan Premier League.
Man City membantah melakukan pelanggaran dan mengajukan banding atas putusan tersebut.
Premier League menuding klub berjuluk The Citizens itu menggunakan perjanjian semu untuk memanipulasi laporan keuangan senilai 900 juta poundsterling atau sekitar Rp19 triliun selama sembilan musim, mulai 2009 hingga 2018.
Pada periode tersebut, Man City berhasil mengoleksi delapan trofi. Persaingan mereka dengan Liverpool juga menjadi salah satu cerita terbesar dalam sejarah modern sepak bola Inggris.
City mengungguli Liverpool dalam perburuan gelar Liga Inggris musim 2013-2014, 2018-2019, dan 2021-2022. Di sisi lain, The Reds berhasil menjadi juara pada musim 2019-2020 dan 2024-2025.
Persaingan kedua klub tidak hanya berlangsung di atas lapangan. Man City juga berhasil merekrut sejumlah pemain yang sebelumnya masuk dalam radar Liverpool.
Berikut empat nama yang menggambarkan bagaimana persaingan transfer kedua klub berlangsung selama era tersebut.
Jadikan Gilabola.com sumber berita pilihan Anda!
Gareth Barry (2009)
Gareth Barry menjadi salah satu rekrutan penting dalam perkembangan Manchester City setelah diambil alih Sheikh Mansour. Gelandang asal Inggris itu sebenarnya nyaris bergabung dengan Liverpool untuk menggantikan Xabi Alonso.
Pada musim panas 2008, Liverpool di bawah asuhan Rafael Benitez mengajukan beberapa tawaran kepada Aston Villa. Nilai penawaran The Reds bahkan meningkat hingga 15 juta poundsterling, tetapi semuanya ditolak.
Benitez menginginkan Barry untuk memperkuat lini tengah Liverpool di tengah hubungannya yang semakin memburuk dengan Alonso.
Situasi transfer tersebut membuat Barry frustrasi. Ia bahkan kehilangan jabatan kapten Aston Villa setelah mengkritik pelatih Martin O’Neill melalui wawancara tanpa izin.
Setelah melalui proses transfer yang berlarut-larut, Barry bertahan di Villa Park selama satu musim lagi. Ia kemudian pindah ke Manchester City pada musim panas 2009 dengan biaya transfer hanya 12 juta poundsterling atau sekitar Rp255 miliar.
Kepindahan itu terjadi pada bursa transfer yang sama ketika Alonso meninggalkan Liverpool untuk bergabung dengan Real Madrid.
Liverpool pun kehilangan kesempatan mendapatkan Barry. Sebagai gantinya, mereka mendatangkan sejumlah gelandang yang tidak mampu memberikan dampak sesuai harapan dalam dua musim berikutnya, termasuk Alberto Aquilani, Christian Poulsen, Jonjo Shelvey, dan Charlie Adam.
Ambisi besar Man City di bawah kepemilikan Sheikh Mansour menjadi salah satu faktor yang meyakinkan Barry untuk bergabung. City juga mampu menawarkan paket finansial yang menarik, termasuk gaji yang dilaporkan mencapai 100.000 poundsterling per pekan.
Barry kemudian membantu City meraih gelar Liga Inggris pertama mereka pada musim 2011-2012. Ia juga mengukir prestasi sebagai pemegang rekor penampilan terbanyak dalam sejarah Premier League.
2. David Silva (2010)
David Silva menjadi salah satu rekrutan terbaik dalam sejarah Manchester City. Gelandang asal Spanyol itu bergabung pada 2010 setelah Liverpool lebih dahulu berupaya mendatangkannya.
Rafael Benitez memiliki hubungan erat dengan sepak bola Spanyol setelah sebelumnya melatih Valencia. Klub tersebut turut mengembangkan sejumlah pemain berbakat, seperti Isco, Juan Mata, Jordi Alba, dan David Villa.
Silva menjadi salah satu pemain yang paling diinginkan Benitez. Pada 2009, agensi sang gelandang, InterFootball Management, mengungkapkan bahwa pembicaraan dengan Liverpool telah berlangsung cukup lama.
Peluang Silva berlabuh di Anfield sempat terbuka. Akan tetapi, Manchester City bergerak lebih cepat dan menyepakati transfer senilai 24 juta poundsterling atau sekitar Rp510 miliar, ditambah sejumlah bonus.
Ketika itu, City belum bermain di Liga Champions. Ambisi besar mereka dalam aspek finansial dan olahraga tetap menjadi daya tarik bagi Silva.
Situasi internal Liverpool yang sedang bergejolak di bawah kepemilikan Tom Hicks dan George Gillett juga menjadi salah satu faktor yang menguntungkan City dalam persaingan tersebut.
Keputusan merekrut Silva terbukti sangat tepat. Selama satu dekade memperkuat The Citizens, ia berhasil meraih 13 trofi dan menjadi salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah klub.
Kontribusinya mendapatkan penghormatan khusus pada Agustus 2021 melalui sebuah patung yang didirikan untuk mengenangnya.
3. James Milner (2010)
Manchester City kembali mengungguli Liverpool dalam perburuan pemain pada musim panas 2010. Kali ini, giliran James Milner yang memilih bergabung dengan klub asal Manchester tersebut.
City sedang agresif memperkuat skuad untuk membangun kekuatan baru di Premier League. Selain Milner, mereka juga mendatangkan sejumlah pemain ternama, termasuk Yaya Toure, Aleksandar Kolarov, dan Mario Balotelli.
Milner menyusul mantan rekan setimnya di Aston Villa, Gareth Barry, ke Etihad Stadium dengan nilai transfer 26 juta poundsterling atau sekitar Rp553 miliar.
Proses perekrutannya tidak berjalan mudah. Liverpool, Manchester United, dan Chelsea juga dikaitkan dengan peluang mendatangkan gelandang serbabisa tersebut.
City akhirnya berhasil mengamankan jasanya melalui kesepakatan transfer bernilai besar. Aston Villa juga menerima Stephen Ireland sebagai bagian dari kesepakatan, sedangkan City menawarkan Milner peningkatan gaji hingga dua kali lipat.
Kesempatan menjadi bagian dari proyek ambisius City turut memengaruhi keputusan Milner.
Ia kemudian membantu The Citizens meraih dua gelar Liga Inggris. Meski begitu, perjalanan Milner bersama City tidak berlangsung selamanya.
Pada 2015, ia akhirnya bergabung dengan Liverpool secara gratis. Di Anfield, Milner menjadi pemain penting dalam skuad asuhan Jurgen Klopp.
Kisah Milner menjadi contoh menarik dalam persaingan transfer kedua klub. Pemain yang sempat memilih City itu pada akhirnya justru menjadi bagian penting dari perjalanan sukses Liverpool.
4. Raheem Sterling (2015)
Transfer Raheem Sterling dari Liverpool ke Manchester City pada 2015 menjadi salah satu kepindahan paling kontroversial di sepak bola Inggris.
City merekrut pemain sayap Timnas Inggris tersebut dengan biaya 49 juta poundsterling atau sekitar Rp1,04 triliun. Nilai itu memecahkan rekor transfer pemain Inggris pada saat itu.
Berbeda dari Barry, Silva, dan Milner, Sterling bukan pemain yang gagal didatangkan Liverpool. Ia justru meninggalkan Anfield untuk memperkuat rival langsung mereka.
Kepindahan tersebut tetap menjadi bukti besarnya kekuatan finansial Manchester City dalam persaingan dengan Liverpool.
Sterling tampil menonjol pada musim 2013-2014 ketika Liverpool hampir merebut gelar Liga Inggris. City akhirnya menjadi juara dengan keunggulan tipis atas The Reds.
Performa Sterling kemudian memicu spekulasi mengenai masa depannya. Perselisihan kontrak antara sang pemain dan Liverpool berkembang menjadi polemik panjang.
Sterling mendapat kritik atas sikapnya selama proses negosiasi, termasuk ketika ia melakukan wawancara dengan BBC tanpa persetujuan klub.
Agen Sterling, Aidy Ward, juga menjadi sasaran kritik setelah memberikan pernyataan kontroversial kepada Evening Standard.
Ward secara terbuka menegaskan bahwa kliennya tidak akan menandatangani kontrak baru bersama Liverpool, berapa pun nilai gaji yang ditawarkan.
“Saya tidak peduli dengan citra publik klub dan situasi klub. Dia jelas tidak akan menandatangani kontrak,” kata Ward dalam wawancara tersebut.
Ward bahkan menyebut Sterling tidak akan menerima tawaran gaji sebesar 700.000, 800.000, atau 900.000 poundsterling per pekan.
Perselisihan itu berakhir setelah Manchester City mencapai kesepakatan transfer dengan Liverpool.
Sterling kemudian menjadi bagian penting dari era kesuksesan The Citizens. Selama memperkuat City, ia berhasil meraih 11 trofi sebelum meninggalkan klub untuk bergabung dengan Chelsea pada 2022.
Kepindahan tersebut menegaskan bahwa persaingan Liverpool dan Manchester City tidak hanya ditentukan oleh hasil pertandingan. Kekuatan finansial, ambisi proyek olahraga, dan kemampuan meyakinkan pemain juga menjadi faktor penting dalam perebutan dominasi sepak bola Inggris.


