
Gilabola.com – Michael Carrick resmi ditunjuk sebagai manajer interim Manchester United hingga akhir musim, dengan tugas utama membawa Setan Merah kembali bersaing di papan atas Premier League dan menjaga peluang lolos ke Liga Champions tetap terbuka.
Meski Carrick tidak akan berkesempatan mempersembahkan trofi, masih ada banyak hal penting yang dipertaruhkan. Manchester United mengawali musim dengan target kembali ke kompetisi Eropa. Namun, di balik target tersebut, tiket Liga Champions menjadi sasaran yang jauh lebih krusial.
Saat Ruben Amorim meninggalkan klub, United berada di peringkat keenam. Kini mereka turun ke posisi ketujuh, hanya terpaut tiga poin dari zona empat besar. Situasi ini membuat tugas Carrick menjadi sangat menantang sejak hari pertama.
Masalah di Lini Belakang Manchester United
Michael Carrick langsung dihadapkan jadwal berat. Laga pertamanya sebagai manajer interim Manchester United adalah menghadapi Manchester City, sebelum bertandang ke Emirates Stadium untuk menantang Arsenal yang memimpin klasemen Premier League.
Masalah terbesar United terletak di sektor pertahanan. Hanya tiga tim di luar zona degradasi yang kebobolan lebih banyak gol musim ini. Pada laga terakhir melawan Brighton, United hanya membutuhkan dua tembakan tepat sasaran untuk kebobolan dua gol.
Dalam beberapa pekan terakhir, lini belakang United diisi pemain muda seperti Leny Yoro dan Ayden Heaven. Situasi ini bisa mendorong Carrick kembali mengandalkan pengalaman Harry Maguire demi memperbaiki stabilitas pertahanan.
Kabar baik datang dari Matthijs de Ligt yang dikabarkan mendekati comeback usai absen sejak 30 November akibat cedera punggung. Sebelum cedera, bek asal Belanda itu tampil solid dan menjadi salah satu pemain paling konsisten di lini belakang.
Selain masalah teknis, mentalitas tim juga menjadi sorotan. Darren Fletcher menyebut skuad Manchester United saat ini berada dalam kondisi “rapuh”. Di atas lapangan, para pemain terlihat kurang percaya diri dan kerap gagal mematikan pertandingan, sesuatu yang harus segera dibenahi Carrick.
Dukungan Pemain
Ruben Amorim dikenal memiliki hubungan baik dengan para pemain. Setelah kepergiannya, sejumlah pemain menyampaikan pesan perpisahan di media sosial. Amad mengaku merasa “sedikit sedih”, sementara Diogo Dalot menyebut situasi di Carrington terasa “sangat sulit” usai Amorim diberhentikan.
Meski hasilnya buruk dan membuatnya dikenang sebagai salah satu manajer terburuk United dari sisi prestasi, Amorim memiliki kelebihan dalam manajemen pemain dan hubungan personal.
Kini, Carrick harus membangun kembali kepercayaan tersebut. Tugas ini diyakini tidak akan terlalu sulit mengingat pengalamannya sebagai caretaker pada 2021, di mana ia mendapat respons positif dari skuad.
Sumber internal menyebut Carrick mendapat dukungan dari ruang ganti. Ia dihormati berkat pencapaiannya sebagai pemain, disukai saat menjadi staf pelatih di era Jose Mourinho dan Ole Gunnar Solskjaer, serta disayangkan kepergiannya setelah periode caretaker sebelumnya.
Kehadiran Steve Holland di staf pelatih juga menjadi keuntungan tersendiri. Holland memiliki pengalaman panjang dan sudah mengenal sejumlah pemain seperti Harry Maguire, Luke Shaw, Mason Mount, dan Kobbie Mainoo.
Teka-teki Posisi Kobbie Mainoo
Salah satu keputusan menarik yang dinantikan adalah bagaimana Carrick akan memaksimalkan Kobbie Mainoo. Dalam wawancara bersama Rio Ferdinand pada September lalu, Carrick menilai Mainoo lebih cocok bermain sebagai gelandang menyerang dibanding gelandang bertahan.
Carrick menyebut Mainoo lebih efektif bermain satu garis di depan, dengan kebebasan untuk berkreasi, ketimbang berada terlalu dekat dengan bek tengah. Ia menilai Mainoo memiliki masa depan besar dan hanya membutuhkan kesabaran serta waktu istirahat yang cukup.
Pandangan ini menjadi relevan karena Carrick diperkirakan akan menggunakan formasi 4-2-3-1. Posisi gelandang serang kemungkinan besar ditempati Bruno Fernandes, sementara di era Amorim, Mainoo kerap diposisikan bersaing langsung dengan Fernandes sehingga jarang mendapatkan menit bermain.
Akan menjadi kejutan jika Carrick tidak mencoba menempatkan Mainoo tepat di belakang Fernandes. Meski performanya sempat menurun, Mainoo tetap dianggap sebagai talenta istimewa yang bisa memberi dampak besar.
Bukti potensinya terlihat saat melawan Brighton, di mana Mainoo menjalani starter keduanya musim ini. Ia mencatatkan jumlah operan sukses terbanyak dan menciptakan peluang lebih banyak dibanding pemain lain di lapangan.
Target Liga Champions Masih Terbuka
Target internal Manchester United musim ini adalah kembali ke kompetisi Eropa. Namun, Darren Fletcher secara terbuka menegaskan bahwa Liga Champions harus menjadi tujuan utama.
United sudah tersingkir dari seluruh kompetisi piala, membuat fokus Carrick sepenuhnya tertuju pada Liga Inggris. Secara internal, lolos ke Liga Europa akan dianggap sukses, tetapi Liga Champions tetap menjadi kebutuhan penting, baik dari sisi sepak bola maupun komersial.
Carrick akan mendapatkan pujian besar jika mampu membawa United finis di empat besar. Namun, tugas itu tidak akan mudah. United baru saja menyia-nyiakan rangkaian laga yang relatif menguntungkan, dan tantangan ke depan justru semakin berat.
Menghadapi Manchester City dan Arsenal di dua laga awal menjadi ujian terberat bagi Carrick untuk menentukan arah Manchester United hingga akhir musim.
Michael Carrick mengenal klub, memahami ruang ganti, dan punya kedekatan emosional dengan para pemain. Namun, tantangan terbesarnya bukan sekadar taktik, melainkan mengembalikan kepercayaan diri tim yang terlihat goyah. Jika Carrick mampu merapikan pertahanan dan menghidupkan kembali potensi pemain seperti Kobbie Mainoo, peluang Manchester United untuk bersaing menuju Liga Champions tetap terbuka, meski jalannya jelas tidak mudah.
Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!