Warisan Ruben Amorim di Manchester United Dirangkum dalam Satu Kata, Angka Tunjukkan Kontras Tajam

Gilabola.comRuben Amorim meninggalkan Manchester United dengan satu kata yang terasa paling pas, yaitu ketidakpastian. Kadang mereka tampil bagus banget, lalu limbung di pertandingan berikutnya.

Angka statistik sebenarnya menunjukkan United sangat produktif mencetak gol, namun di sisi lain, mereka juga sangat mudah kebobolan. Pada akhirnya, performa yang naik-turun bak roller-coaster inilah yang ikut membentuk warisan Amorim di Old Trafford.

Jika ingin tahu apa itu ketidakpastian, lihat saja Manchester United. Musim ini memang terasa aneh dan penuh kejutan di Premier League. United justru menjadi tim yang paling menggambarkan betapa sulitnya memprediksi hasil pertandingan.

Bahkan saat mereka tampak berada dalam performa dan tren positif, masih ada keraguan besar dan perasaan penuh was-was tentang kinerja yang akan mereka tunjukkan di laga selanjutnya.

Tidak pernah ada jaminan stabilitas yang bisa diberikan Manchester United, tak heran jika jarang ada pengguna Premier League Fantasy yang mau memakai pemain dari klub berjuluk Setan Merah ini.

Amorim akhirnya harus pergi setelah dua kali bermain imbang 1-1 melawan kelas bawah, Wolves dan Leeds United. Bukan hanya hasil, tetapi juga sikapnya yang dinilai menentang atasan ikut memicu keputusan itu.

Laga imbang 4-4 yang mendebarkan melawan Bournemouth terasa seperti potret sempurna wajah Manchester United di era Amorim. Seru, liar, dan sulit dinalar dengan logika taktik sederhana.

Di satu sisi, United bisa tampil menekan dan bermain dengan intensitas tinggi. Namun, di saat yang sama, masalah pengelolaan pertandingan dan mental bertanding tetap terlihat.

Jadi, kadang mereka bisa memimpin, lalu tertinggal, lalu bangkit lagi, kadang rasanya seperti kemenangan sudah di depan mata, eh kebobolan lagi, gagal mengunci kemenangan lagi.

Ujung-ujungnya, mereka kehilangan lagi poin yang sebenarnya bisa diamankan. Cerita seperti ini terasa terlalu sering terjadi di era Amorim yang selalu diselimuti dengan ketidakpastian.

Jika melihat statistik, Manchester United hanya kalah produktif dari Arsenal dan Manchester City, tapi mereka juga tim dengan kebobolan tertinggi dari semua 14 tim teratas Premier League.

Grafiknya cukup jelas: menyerang bagus, bertahan payah. Dan keduanya berjalan bersamaan hampir di setiap laga, membuat hasil yang diharapkan tak kunjung sesuai harapan, sampai akhirnya era 14 bulan Amorim benar-benar berakhir.

Pendapat Kami

Warisan Amorim di Manchester United memang terangkum jelas dalam satu kata, ketidakpastian. Fletcher kini mewarisi tim yang tajam tapi rapuh, dan dia punya tugas besar untuk bisa mengatasi masalah ini.