Wonderkid Gagal di Manchester United, Begini Nasib Mereka Sekarang

Wonderkid Gagal di Manchester United, Begini Nasib Mereka Sekarang

Gilabola.com – Manchester United menyimpan sejumlah nama wonderkid yang gagal bersinar di Old Trafford beberapa tahun silam. Ternyata, begini kabar terakhir mereka saat ini!

United terkenal sebagai salah satu klub papan atas yang telah hasilkan banyak talenta muda nomor wahid di Liga Premier dalam beberapa tahun terakhir. Akademi mereka selalu menelurkan banyak pemain bagus yang memperkuat skuad utama, termasuk Paul Scholes, Gary dan Phil Neville. Sayangnya, Ben Thornley tidak seberuntung ketiga rekannya tersebut.

Tentunya masih ingat, Darron Gibson pernah digambarkan Sir Alex Ferguson sebagai ‘titisan Paul Scholes’. Namun, mantan pemain Salford itu selanjutnya hanya tampil dalam empat pertandingan liga yang dilakoni MU.

Hal itu tentu saja menunjukkan, mereka tidak selalu bisa tunjukkan permainan yang diharapkan klub, apalagi memanaskan suasana Old Trafford.

Advertisement
NelayanBet
NelayanBet
RatuCasino77
RatuCasino77

Seperti halnya Gibson, ada tujuh wonderkid lagi yang seharusnya bisa menjadi bintang di Manchester United. Tapi, mereka justru segera menuju pintu keluar Old Trafford.

MADS TIMM
Para pemain Championship Manager 2000 pasti ingat penyerang asal Denmark ini. Dalam game tersebut, dia biasa punya predikat ‘superstardom’ alias sangat terkenal dan sukses, tapi tidak demikian di dunia nyata.

Direkrut dari tim muda Odense, Timm teken kontrak profesional pada 2002, setelah tampil mengesankan di akademi United. Namun, ia hampir dipecat Fergie ketika ia mendapat sanksi 12 bulan dari tim muda karena ugal-ugalan di jalan. Rekan satu timnya yang juga ikut dalam adu balap di jalan umum tersebut, Callum Flanagan, bahkan alami kecelakaan fatal.

Keduanya kemudian dijatuhi hukuman masing-masing 12 bulan dan delapan bulan, serta sama-sama dilarang mengemudi selama tiga tahun.

Setahun kemudian, Timm kembali ke Odense untuk memulai lagi karirnya dari nol, bahkan sempat mendapat panggilan dari Timnas Denmark. Namun pada 2009 lalu Timm menyatakan pensiun dari sepak bola, setelah ia mengaku kehilangan minatnya pada dunia olahraga tersebut di usianya yang masih 25 tahun. Namun, dua tahun kemudian ia kembali, dan menjadi pelatih sekaligus pelatih di klub Kerteminde.

FEDERICO MACHEDA
Penyerang Italia ini ‘mengumumkan’ dirinya dengan cara yang paling banyak mengundang decak kagum. Yakni, mencetak gol kemenangan di saat laga tersisa dalam hitungan detik, dan membawa Setan Merah menang 3-2 atas Aston Villa pada 2009 silam.

Tapi, prestasi itu seakan menjadi sesuatu yang anti-klimaks bagi Macheda. Padahal pemain itu pernah dipuji Fergie sebagai finisher alamiah terbaik dalam skuadnya, yang juga memiliki sejumlah pemain hebat seperti Wayne Rooney, Michael Owen dan Dimitar Berbatov.

Karena masalah cedera dan performa yang buruklah, karir Macheda akhirnya ambyaar di tengah jalan. Perlahan kelasnya terus turun, setelah ia kemudian pindah dari satu klub ke klub lain sebagai pemain pinjaman MU. Ia pernah membela Sampdoria, QPR, Stuttgart, Doncaster, Birmingham dan Cardiff City, hingga terakhir ia dipinjamkan United ke Nottingham Forest pada 2016 lalu.

Macheda yang kini berusia 28 tahun itu akhirnya dilepas permanen ke klub Serie C, Novara, pada 2016. Kini, pemain yang pernah ditempa di akademi Lazio dan Manchester United itu membela klub Yunani, Panathinaikos, dan dikabarkan kembali bersinar.

DONG FANGZHOU
Harapan besar sepak bola China, matinya Fangzhou harus menjadi peringatan bagi semua anak muda.

Dibawa ke Inggris pada 2004 dengan bayaran yang bisa naik menjadi 3,5 Juta Poundsterling, Fergie menyebutnya sebagai ‘bakat eksplosif’ dan yakin pemain itu punya ‘kecepatan maupun fisik’ yang bisa menjadi hit di Liga Premier.

Karena dia tak juga dapatkan ijin kerja, Fangzhou pergi ke klub afiliasi United, Royal Antwerp, dan menjadi bintang di Belgia.

Tapi, ketika dia akhirnya mendapatkan visa untuk merumput di Inggris, hambatan bahasa menjadi kendala besar. Hal itu kemudian ditambah dengan rasa malu yang melumpuhkan kemampuan Fangzhou, dan membuatnya tak mungkin bisa berhasil di Theater of Dreams.

Pada tahun 2008, kontraknya di Manchester United dibatalkan, dan dia gagal penuhi janjinya ketika kembali bermain di negara asalnya.

Baru-baru ini, kemunduran Fangzhou benar-benar terlihat ‘lengkap’ ketika ia muncul di sebuah acara reality show di sebuah televisi China pada 2015 silam, dengan wajah yang berbeda karena jalani operasi plastik untuk mengurangi lemak di kedua pipinya yang kembung, di samping itu juga alami kelebihan berat badan setelah bertahun-tahun.

RODRIGO POSSEBON
Dia diungkapkan SunSport sebagai seorang laki-laki yang terlahir dengan menyandang nama seorang pemain bola, tapi sayangnya ia kemudian menghilang ditelan bumi.

Possebon tertangkap mata para pencari bakat United saat masih membela Internacional. Ia kemudian didatangkan ke Old Trafford pada 2008. Namun dalam laga kontra Middlesbrough di Piala Liga, Possebon alami cedera parah setelah tekel Emanuel Pogatetz yang hampir mematahkan kakinya.

Gelandang yang kini berusia 31 tahun itupun harus absen selama beberapa bulan, dan tidak pernah benar-benar dapatkan momentum untuk bisa bermain di skuad utama. Possebon pun hanya bermain dalam tiga pertandingan dalam karir singkatnya di Liga Premier.

Ia kemudian dipinjamkan ke Braga, sebelum akhirnya pulang ke Brasil dan bergabung dengan Santos. Sayangnya, di klub itu Possebon juga gagal tunjukkan performa apiknya.

Possebon terakhir kali merumput di Vietnam, bersama klub Ho Chi Minh City. Tapi, ia kemudian juga akhirnya kontraknya di klub tersebut karena gagal tampil mengesankan.

ANGELO HENRIQUEZ
Penyerang asal Chile itu dinilai berperingkat tinggi oleh pemantau bakat United, hingga ia direkrut sebagai pemain muda, saat usianya masih 15 tahun dengan bayaran yang diyakini berada di kisaran 4 Juta Pound pada 2009 silam.

Dia kemudian habiskan beberapa musim berikutnya di Universidad de Chile, di mana dia mencetak 11 gol dalam 17 pertandingan yang dibelanya. Henriquez lalu tiba di Manchester pada 2012, dengan sambutan yang cukup meriah. Ia kemudian menonjol di tim reserve Setan Merah.

Menyadari jalannya ke tim utama terhambat, setahun kemudian hirarki United meminjamkan ‘the next Marcelo Salas’ itu ke Wigan. Hendriquez pun berhasil mencetak gol pada debutnya di Liga Premier, dan mengakhiri musim itu dengan ikut menangkan trofi juara Piala FA.

Setahun kemudian ia dipinjamkan ke klub lain, dan bermain untuk Real Zaragoza di divisi kedua Liga Spanyol. Sayangnya, di sana karirnya tidak berjalan dengan baik. Tapi, ia kembali menemukan performa terbaiknya saat dipinjamkan ke Dinamo Zagreb pada 2014.  Di klub Kroasia tersebut, ia mencetak 30 gol dalam 37 pertandingan di semua kompetisi.

Klub itu kemudian permanenkan statusnya pada 2015. Namun, pundi-pundi golnya kemudian mengering. Sekarang dia kembali ke klub lamanya, Universidad de Chile.

DAVID BELLION
Direkrut dari Sunderland pada 2001 saat ia masih remaja. Sebelumnya, ia juga menjadi bintang di tim muda Cannes.

Tapi, Manchester United kemudian menyambarnya saat dia berusia 20 tahun, dengan keyakinan bisa menjadikannya sebagai the next Thierry Henry.

Aset terbesarnya adalah langkahnya, jadi tidak mengherankan dia pernah memenangkan lomba sprint 60 meter dalam National Indoor Youth Championship 2001. Namun, di lapangan sepak bola, hal itu tidak cukup sesuai dengan rencana untuk menjadikannya sebagai striker dengan lari secepat kilat.

Bellion akhirnya jalani masa peminjaman di West Ham dan Nice, sebelum akhirnya dipermanenkan klub Prancis tersebut. Dia kemudian pindah ke Bordeaux dan lakoni tahun-tahun terbaiknya pada 2007 hingga 2014, di mana ia mencetak 20 gol dalam 114 pertandingan. Dia kemudian mengakhiri karirnya di klub Liga Prancis, Red Star, sebelum pensiun pada 2016.

BEN THORNLEY
Lebih banyak kemalangan yang dialami pemain berbakat yang satu ini. Thornley sempat disebut-sebut sebagai pemain terbaik di generasinya, yang termasuk juga Ryan Giggs dan David Beckham.

Pemain sayap kiri yang cepat dan cerdik ini berhasil membantu Manchester United memenangkan FA Youth Cup pada 1992. Apalagi, dia juga menjadi salah satu bintang dalam turnamen tersebut.

Fergie berharap dia menjadi pemain reguler di tim utama, dan memperkenalkannya kepada timnya sebagai pemain pengganti dalam pertandingan di kandang West Ham pada 1994. Namun, dua bulan kemudian, tekel mengerikan dilakukan Nicky Marker terhadap Thornley dalam pertandingan melawan Blackburn, yang membuat lututnya remuk.

Setelah melewatkan masa satu tahun di ruang perawatan, Thornley tak pernah kembali bermain seperti sebelumnya, saat dia bermain dengan kecepatan penuh dan kepercayaan dirinya yang sangat memengaruhi kinerjanya di lapangan. Thornley pun menjadi pemain pinjaman di klub yang bermain di bawah level MU, seperti Huddersfield Town, Bury dan Halifax.

Kini, Thornley bekerja sebagai komentator di MUTV dan sempat merilis otobiografinya yang brilian tahun lalu.