10 Fakta Menarik Pahlawan Final Liga Champions Bayern, Kingsley Coman

10 Fakta Menarik Pahlawan Final Liga Champions Bayern, Kingsley Coman

Gilabola.com – Kingsley Coman berhasil menjadi pembeda dan pahlawan kemenangan Bayern Munchen pada final Liga Champions 2019/2020 usai gol tunggal tandukannya membantu mereka mengalahkan Paris Saint-Germain dengan skor 1-0 di Estadio Da Luz, Senin (24/8).

Penyerang Prancis tersebut secara mengejutkan diturunkan sebagai starter menggantikan Ivan Perisic yang sebelumnya rutin menjadi starter pada fase sebelumnya, dan winger 24 tahun itu berhasil membuktikan kepercayaan manajernya Hansi Flick.

Mantan pemain PSG dan Juventus itu benar-benar merepotkan pertahanan paris Saint-Germain dengan pergerakan, trik, dan kelincahannya, sebelum dengan cerdik menyambut umpan lambung Joshua Kimmich untuk menanduknya dan mengalahkan Keylor Navas. Dan berikut kami sajikan 10 fakta menarik soal pahlawan kemenangan Bayern, Kingsley Coman.

1. Pemenang Beruntun!

Jika saat ini Dani Alves merupakan pemain sepak bola dengan jumlah trofi terbanyak, kini Kingsley Coman berada di jalur yang tepat untuk mengalahkannya di masa depan. Penyerang Bayern itu memiliki rekor luar biasa dalam memenangkan gelar liga di setiap liga dan setiap musim. Dimulai dengan kemenangan PSG di Ligue 1 pada 2013, total memenangi liga 9 kali beruntun di Paris-Saint Germain, Juventus, dan Bayern Munchen. Sementara dia juga banyak memenangkan kompetisi piala di tiga negara tersebut.

2. Lahir di Paris

Advertisement
RatuCasino77
RatuCasino77
SBOTOP
SBOTOP

Kingsley Coman tumbuh di pinggiran kota Paris. Dia bermain sebentar dengan klub lokal Sennart-Moissy sebelum bergabung dengan PSG pada usia sembilan tahun, secara teratur promosi ke level usia yang lebih tinggi, hingga akhirnya menembus skuad senior pada 2013 sebelum pindah ke Juventus setahun kemudian.

3. Pemain Termuda PSG

Pada 16 tahun, delapan bulan dan empat hari, Kingsley Coman menggantikan Marco Verratti tiga menit jelang laga bubar saat PSG kalah 3-2 di kandang Sochaux dalam pertandingan Ligue 1 pada Februari 2013. Da menjadi debutan termuda juara Prancis. Sayangnya dia hanya bermain dalam 4 penampilan saja pada satu-satunya musimnya bersama skuad senior PSG.

4. Tak Menyesal Tinggalkan PSG

Kingsley Coman kemudian menolak memperpanjang kontrak profesional di PSG karena merasa kurang mendapatkan kepercayaan, dan akhirnya pindah ke Juventus. “Saya tidak menyesal meninggalkan Paris,” katanya sebelum kemudian memainkan 14 pertandingan Serie A, membantu klub memenangkan gelar juara Liga Italia.

5. Sukses Sebagai Pemain Pinjaman

Bayern awalnya hanya meminjam penyerang Prancis itu dari Juventus selama dua tahun, namun talentanya membuat sang juara Jerman kepincut. “Kingsley Coman adalah salah satu talenta terbesar di sepak bola Eropa,” kata direktur olahraga Bayern Matthias Sammer. Die RotenĀ kemudian mempermanenkan jasanya dua tahun kemudian usai sang winger mencetak enam gol dan 12 assist dalam 35 penampilan di semua kompetisi selama tahun pertamanya di Jerman

6. Mampu Yakinkan Orang Penting di Bayern

Bayern mengumumkan pada April 2017 bahwa mereka berencana untuk mempermanenkan pemain sayap Prancis tersebut dari Juventus, dan itu bukan keputusan mengejutkan. Kingsley Coman berhasil meyakinkan petinggi klubĀ untuk mengontraknya. “Dia memiliki bakat dan potensi untuk melakukan hal-hal hebat,” kata CEO Bayern Karl-Heinz Rummenigge. Sementara eks manajer Jupp Heynckes juga memuji bakatnya pada Februari 2018. “Dia memiliki masa depan yang sangat cerah di depannya.”

7. Diganggu Masalah Cedera

Sayangnya bahwa bakat hebat Kingsley Coman banyak terkendala oleh cedera, dengan dia menderita cedera pergelangan kaki yang parah pada Agustus 2016, Februari 2018, dan Agustus 2018. Cedera juga menjadi alasan mengapa dia absen dari skuad juara dunia Prancis pada Piala Dunia 2018.

8. Pemain Termuda Prancis di Euro

Coman melakukan debut internasional seniornya pada November 2015 dalam kemenangan persahabatan melawan Jerman. Dia menjadi pemain termuda Prancis di kompetisi internasional Eropa itu ketika dia tampil pada laga pembuka Euro 2016 melawan Rumania sebelum dinobatkan sebagai pemain muda terbaik kedua turnamen di belakang Renato Sanches.

9. Mencintai Pekerjaannya

Penyerang Prancis pernah mengungkapkan kegembiraannya pada sepak bola yang memberikan gairah pada hidupnya. “Dalam pertandingan besar, hati Anda berdebar-debar,” kata Coman kepada L’Equipe pada Maret 2016 usai mencetak gol dalam kemenangan besar Liga Champions Bayern atas mantan timnya Juventus. “Anda senang membawa sesuatu ke tim Anda. Tidak ada hal lain yang dapat memberikan gairah seperti itu kepada saya – emosi seperti itu. Begitulah keadaan saya sejak saya masih kecil. Di sini, di kota Munich, hidup saya sepenuhnya terfokus pada sepak bola. Itu kesenangan dan pekerjaan saya.”

10. Bukan Pengganti Franck Ribery

Kingsley Coman datang sebagai suksesor jangka panjang bagi kompatriotnya asal Prancis, tapi keduanya memiliki gaya permainan yang berbeda. Franck Ribery telah membantu Bayern memenangkan 9 gelar Bundesliga, dan kini juniornya berada dalam perjalanan yang tepat untuk mengalahkan seniornya. Kendati begitu, Coman menegaskan bahwa dia bukanlah Ribery baru di tim Bayern Munchen. “Dia selalu ada untukku – seperti kakak laki-laki,” ungkapnya pada 2019 lalu. “Tapi saya bukan Ribery yang baru. Saya adalah saya. Saya memiliki kualitas yang cukup untuk memberikan penampilan yang sangat bagus di Bayern.”