Andres Iniesta, Depresi Usai Golnya Picu Lonjakan Kelahiran di Spanyol

Andres Iniesta, Depresi Usai Picu Lonjakan Angka Kelahiran di Spanyol

Gilabola.com – Andres Iniesta telah ukir namanya sebagai legenda hidup Barcelona. Sebuah film dokumenter didedikasikan untuk gelandang serang yang kini telah berusia 35 tahun dan menjalani hidupnya di Liga J1 bersama Vissel Kobe.

Pada 23 April mendatang, akan tayang sebuah film dokumenter yang bercerita panjang-lebar tentang Iniesta. Selain memberi kita kesempatan untuk mengingat kembali masa kejayaan Iniesta dan mempelajari latar belakangnya, film yang berjudul ‘Andres Iniesta: The Unexpected Hero’ itu memberi wawasan luas tentang bagaimana kehidupan baru gelandang tengah dan keluarganya di Jepang.

Sebagai bocoran, film ini di antaranya berbicara tentang karir Iniesta dan depresi yang pernah dialaminya saat masih menjadi bintang di Barcelona. Selain itu, tentu saja, kisah romantis Iniesta dengan sang isteri, Ana Ortiz. Berikut ini beberapa hal lain yang bisa dipetik dari film dokumenter yang bakal tayang di Rakuten TV tersebut:

Sisi Romantis Iniesta

Bukan cuma karirnya di Barca yang diulas, dokumenter itu juga bercerita tentang bagaimana pemain bola megastar ini memenangkan hati sang istri, Ana, dengan cara yang cukup konyol dan lucu.

Advertisement
RatuCasino77
RatuCasino77
SBOTOP
SBOTOP

Rekan-rekan Iniesta, Jordi dan Sesi, menceritakan kisah bagaimana dia jatuh cinta pada Ana saat berlibur di Mataro pada tahun 2007. Saat itu, Ana masih bekerja di sebuah restoran.

Dia tampaknya mati-matian berusaha dapatkan nomor telepon gadis pujaannya, dan tak berhenti membicarakannya. “Sebenarnya agak membosankan,” kenang sahabat Iniesta, Sesi.

“Dia menelepon saya setiap hari, mengganggu saya. Dia bisa berbicara satu setengah jam di telepon, dia lalu bertanya-tanya apakah dia titip pesan kalau dia berpikir saya menanggapinya,” tambahnya.

Di satu musim panas, Andres Iniesta melakukan tur pramusim bersama Barcelona ke Jepang. “Di sini, di Jepang, di semua bandara, perusahaan atau merek yang paling Anda lihat adalah ANA. Itu mengingatkan saya padanya,” ungkap Iniesta.

Jadi, dia membawa pulang sebuah pesawat model dan surat yang dia tulis, serta meminta Ana untuk menemuinya. Jangan kaget soal lokasinya. Pasalnya, agak mengejutkan, Iniesta mengajak bertemu pujaan hatinya di sebuah pompa bensin, dekat dengan tempat tinggal Ana di Mataro.

“Ketika saya mendapat hadiah dan membaca surat itu, saya bisa mengakui saya jatuh cinta padanya saat itu,” ujar Ana.

Iniesta pun mengatakan, “saya jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi dia jatuh cinta secara bertahap”.

Iniesta Jr dan Villa Jr Bakal Jadi Bintang Masa Depan Spanyol

Legenda Spanyol, David Villa, memenangkan dua trofi La Liga dan Liga Champions saat ia bersama-sama Iniesta di Barcelona. Selain itu, mereka juga sama-sama menangkan Piala Eropa untuk Spanyol pada 2008 dan Piala Dunia 2010.

Villa sendiri telah pensiun di awal tahun ini, tapi, sebelum itu, dia bermain di klub yang sama dengan Iniesta di Jepang, Vissel Kobe.

Dalam film dokumenter itu terungkap, baik Iniesta maupun Villa bahkan tinggal di blok yang sama, sementara anak-anak mereka juga menghabiskan bermain bersama. “Kami bertemu setiap hari,” tandas Villa.

Faktanya, putra mereka berdua, yakni Paulo Andrea Iniesta Ortiz dan Luca Villa Gonzalez, keduanya juga sama-sama membela tim sepak bola yang sama. “Tentu saja, kami berdua ingin anak-anak kami menjadi pemain bola suatu hari nanti, setidaknya mereka menendang bola dan menikmati waktu luang mereka dengan bermain bola,” tegas Iniesta, seperti dilansir BBC Sport.

Gol Iniesta ke Gawang Chelsea Picu Angka Kelahiran di Spanyol

Gol Iniesta telah membuat Chelsea tersingkir, dan mengirim Barca ke final Liga Champions musim 2008/09.

Jesus Montesinos, penulis studi tentang subjek ini, membeberkan pula bagaimana gol Iniesta ke gawang the Blues di masa injury di semifinal Liga Champions tersebut, ikut memicu melonjaknya angka kelahiran di Spanyol, sembilan bulan setelah gol tersebut.

“Kami melihat terjadinya 11 ribu kelahiran selama lima tahun terakhir. Kami melihatnya berjalan stabil, kecuali di bulan Februari 2010, sembilan bulan setelah ‘May of Cups’, yang menampilkan peningkatan angka kelahiran hingga 16 persen,” ungkap Montesinos.

Alih-alih tak percaya dengan studi tersebut, Iniesta malah berujar santai sembari setengah tertawa. “Saya senang bisa berkontribusi dalam pekerjaan yang sangat penting seperti itu,” ujarnya.

Gol tersebut menjadi salah satu yang paling penting dalam karir sepak bola Iniesta. Bermain dengan hanya 10 pemain dan tidak tunjukkan penampilan bagus, gol Iniesta dari tepi kotak penalti di akhir pertandingan. Gol itu juga berhasil membawa Barcelona melaju ke final berkat keunggulan gol tandang, di mana di final mereka kalahkan Manchester United 2-0.

Satu orang yang pastinya tak suka jika diingatkan tentang gol Iniesta ini, adalah kiper Chelsea ketika itu, Petr Cech.

“Sekarang, setiap kali ada pertandingan antara Barcelona dan Chelsea, mereka selalu menunjukkan gol itu di televisi sebagai pengingat, dan setiap kali saya melihatnya saya sedih, sama seperti saya di tahun 2009 lalu,” ujar Cech mengenai gol tersebut.

Berjuang Sembuh dari Depresi

Dalam film dokumenter tersebut, muncul pula Gerard Pique yang ungkapkan tentang depresi yang pernah dialami Andres Iniesta.

Saat itu, sejumlah rekan satu tim Iniesta di Barca kemungkinan banyak yang tak menyadari, sehebat apa perjuangannya dengan depresi usai final Liga Champions 2009, karena kebiasaannya untuk tidak berbicara tentang dirinya sendiri.

“Bukan hal yang aneh jika setelah periode kecemerlangan atau intensitas yang dialaminya, seseorang bisa merasakan momen kekosongan,” ujar Inma Puig, seorang psikolog yang akhirnya dimintai bantuan oleh Iniesta.

Cedera otot yang dialami gelandang yang lahir pada 11 Mei 1984 itu pada 2009 dan 2010, telah membuatnya absen cukup lama. Frustrasi karena terus-menerus dibekap cedera, kematian temannya, Dani Jarque – seorang bek di Espanyol, pada 2009, telah berkontribusi besar pada perasaan putus asa yang dialami Iniesta. Ia kemudian mendedikasikan golnya yang membawa Spanyol memenangkan Piala Dunia 2010 untuk sahabatnya tersebut.

Saat itu seakan menjadi masa-masa paling sulit bagi Iniesta. Salah satu rekan Iniesta menggambarkan, Iniesta hanya menggulung diri di tempat tidur selama berjam-jam usai latihan selama masa sulit tersebut.

Hingga akhirnya, berkat bantuan teman-temannya, keluarga, tim dan pelatihnya, Andres Iniesta berhasil kembali ke dirinya yang dulu. “Mereka juga manusia dan hal yang sangat manusiawi ini dialami jutaan orang di seluruh dunia, mereka harus tahu bahwa kita ada untuk mereka,” ujar sang pelatih saat itu, Pep Guardiola.

Semua Orang Mencintai Iniesta

Film ini juga memperkuat pendapat bahwa Iniesta hanyalah salah satu dari orang baik di muka bumi ini. Daftar orang-orang yang ternyata memujinya sungguh mencengangkan.

“Ketika Anda kalah saat berhadapan dengannya, Anda tidak bisa marah. Karena dia menang dengan gaya sepeprti itu, sehingga semuanya tampak berjalan dengan adil,” ujar kiper veteran Italia, Gianluigi Buffon, dalam film dokumenter yang bisa disaksikan di Rakuten TV tersebut.

“Orang yang sangat biasa, gigih, dan itulah sebabnya dia sangat dicintai,” tambah Lionel Messi.

“Anda dapatkan gambaran tentang seorang idola, lalu anda bicara dengannya dan dia benar-benar berbeda, tahu kan?,” ujar Neymar – mantan bintang Barca yang kini membela PSG.

“Saya mencoba memperlakukan orang lain dengan cara dia memperlakukan saya,” ungkap kiper andalan Blaugrana, Marc-Andre ter Stegen.