Gilabola.com – Senegal juara Piala Afrika dengan cara yang nyaris tak masuk akal. Enam bulan setelah merayakan gelar juara Piala Dunia Antarklub, Nicolas Jackson dan Mamadou Sarr kembali berpesta, kali ini sebagai kampiun Afrika usai kemenangan dramatis 1-0 lewat extra time atas tuan rumah Maroko.
Dua pemain pinjaman Chelsea itu turun sejak menit awal. Sarr tampil penuh selama 120 menit, sementara Jackson bermain hingga akhir waktu normal sebelum ditarik keluar tepat sebelum laga berubah menjadi panggung kekacauan.
Gol Dianulir, VAR Bikin Panas, dan Penalti Kontroversial
Ketegangan memuncak saat Senegal sempat mencetak gol dari situasi sepak pojok. Namun, gol itu dianulir karena Abdoulaye Seck dianggap melanggar Achraf Hakimi. Keputusan tersebut tidak ditinjau VAR dan langsung memicu emosi di lapangan.
Tak lama berselang, Maroko justru mendapat hadiah penalti dari situasi serupa. Setelah pengecekan VAR yang panjang, El Hadji Malick Diouf dinilai menarik Brahim Diaz di kotak penalti.
Situasi ini adalah abu-abu klasik sepak pojok. Dorong-dorongan, tarik-menarik, dan kontak fisik yang sering terjadi. Diaz merasakan tarikan itu dan terjatuh secara dramatis. Keputusan bisa ke mana saja, dan kali ini wasit menunjuk titik putih.
Stadion Ricuh, Senegal Nyaris Walk Out
Keputusan penalti tersebut membuat emosi meledak. Suporter mengamuk, pemain memprotes, bahkan Senegal sempat mengancam meninggalkan lapangan.
Di tengah kekacauan itu, Sadio Mané menunjukkan kelasnya. Sang kapten menenangkan rekan setim dan memastikan Senegal tetap bermain. Waktu sudah melewati menit ke-113 ketika Diaz akhirnya maju sebagai eksekutor.
Pilihan Diaz mengejutkan semua orang. Ia mencoba Panenka!
Namun, Édouard Mendy membaca arah bola dengan sempurna dan menangkapnya dengan sangat mudah. Sebuah momen yang langsung mengingatkan pada kegagalan ikonik Panenka lainnya di level tertinggi.
Gol Pape Gueye Menentukan Takdir Senegal
Setelah penalti gagal itu, laga berlanjut ke babak extra time. Dan Senegal tak butuh waktu lama untuk memecah kebuntuan.
Gelandang Villarreal, Pape Gueye, melepaskan tembakan tajam yang akhirnya menjebol gawang Maroko. Gol itu menjadi pembeda, sekaligus penentu gelar juara.
Senegal bertahan dengan disiplin hingga peluit akhir. Mereka menutup turnamen dengan catatan luar biasa, hanya kebobolan dua gol dari tujuh pertandingan, serta memenangkan perempat final, semifinal, dan final dengan skor identik 1-0.
Jackson Bersinar, Sarr Naik Kelas di Panggung Terbesar
Nicolas Jackson menutup turnamen dengan dua gol dan satu assist. Dua golnya tercipta di laga pembuka, sementara kontribusinya sepanjang turnamen tetap krusial meski tak selalu mencetak angka.
Mamadou Sarr mungkin menjadi cerita paling menarik. Baru menjadi starter di semifinal setelah Kalidou Koulibaly mengalami cedera, bek 20 tahun itu langsung membuktikan kapasitasnya.
Sarr, yang musim ini menjadi pilar penting RC Strasbourg, tampil tenang dan dewasa di salah satu panggung terbesar dalam kariernya sejauh ini.
Opini Gilabola: Senegal Menang Mental, Bukan Sekadar Taktik
Kami di Gilabola melihat final ini bukan sekadar soal gol Pape Gueye. Ini adalah kemenangan mental. Senegal tidak runtuh saat keputusan wasit merugikan, tidak pecah saat stadion mendidih, dan tidak goyah saat penalti hampir mengubur mimpi mereka.
Keberadaan figur seperti Sadio Mané dan Édouard Mendy menjadi penyeimbang di tengah chaos. Tanpa ketenangan itu, Senegal mungkin sudah kalah sebelum extra time dimulai.
Ke depan, performa Jackson dan Sarr jelas masuk radar Chelsea. Jika mereka mampu membawa ketenangan dan mental juara ini kembali ke level klub, bukan tak mungkin keduanya akan segera mengenakan seragam biru lagi. Pertanyaannya, siapkah Chelsea memberi mereka panggung?

