Dampak Pembantaian Jenderal Soleimani Untuk Piala Dunia Qatar 2022

Selaku satu-satunya sekutu Iran di Teluk Persia, pembantaian Jenderal Qasem Soleimani berpengaruh besar pada Qatar dan keamanan Piala Dunia 2022. Begini ceritanya.

Akhir pekan lalu kita dikejutkan dengan serangan drone Amerika Serikat terhadap Mayor Jenderal Qasem Soleimani, pemimpin tertinggi Al-Quds Iran. Ia menjadi satu dari delapan korban jiwa hasil target serangan misil yang dilepaskan dari satu pesawat tanpa awak pada tanggal 3 Januari lalu. Jika pembantaian Soleimani dianggap tak ada hubungannya dengan Piala Dunia 2022, Anda salah.

Qatar adalah satu-satunya sekutu terpenting Iran di kawasan itu, sebuah posisi politik yang membuat negara itu berselisih dengan mayoritas tetangganya. Negara-negara di kawasan itu di bawah pimpinan Arab Saudi telah melancarkan kampanye pengucilan terhadap Qatar, menutup perbatasan negara itu dan mengakhiri penerbangan langsung dari negara-negara tetangga. FIFA selaku otoritas sepak bola dunia berharap blokade tersebut dapat dicabut menjelang turnamen Piala Dunia Antarklub 2021 dan Piala Dunia 2022.

Advertisement
QQCepat
QQCepat
Totobet
Totobet
978Bet
978Bet

Tetapi setiap peningkatan ketegangan di kawasan ini hanya akan memperkuat masalah yang telah ada di antara negara-negara Teluk dan membuat peluang untuk pelonggaran hubungan antara Qatar dan tetangga-tetangganya semakin kecil. Salah satu dampak langsung untuk Piala Dunia 2022 adalah tak ada penerbangan langsung antara negara-negara di sekitarnya dan Doha, ibukota negara mungil penghasil minyak itu.

FIFA Membisu Soal Piala Dunia 2022

Tim sepak bola Amerika Serikat telah membatalkan rencana untuk melakukan kamp pelatihan musim dingin di Qatar bulan ini dengan alasan keamanan, namun Bayern Munchen dan Ajax Amsterdam terus melanjutkan kamp latihan mereka di negara ini dan tidak memiliki rencana untuk mempersingkat perjalanan mereka.

FIFA, yang terlibat kontroversi sejak menganugerahi Qatar hak untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, enggan membicarakan masalah pada tahap ini. Satu sumber di dalam FIFA mengatakan kepada SunSport bahwa itu “terlalu prematur” bagi otoritas sepak bola dunia itu untuk membuat komentar pada tahap ini, terutama karena Piala Dunia yang baru akan dimulai pada November 2022 masih berjarak kurang dari tiga tahun lagi.

Piala Dunia Antarklub yang dimenangi Liverpool bulan lalu berlalu tanpa insiden tapi turnamen itu berlangsung sebelum pembantaian Jenderal Qasem Soleimani terjadi, empat hari silam.

Klub-klub besar Eropa – Liverpool dan Chelsea yang memenangi Liga Champions dan Liga Europa musim lalu – mungkin enggan melakukan perjalanan ke wilayah itu pada musim panas 2021 jika ada kekhawatiran yang berkelanjutan soal ketegangan politik dan kemungkinan pecahnya perang di kawasan tersebut.

Beberapa pemain juga mungkin akan menolak melakukan perjalanan ke Piala Dunia di kawasan yang berpotensi menjadi pusat konflik, meskipun Qatar dikenal sebagai salah satu negara teraman di dunia.

Jika Anda masih ingat Piala Dunia tahun 2002 di Korea Selatan dan Jepang, pada waktu itu kesebelasan dari Amerika Serikat dan Inggris dikawal satu unit militer di bawah kekhawatiran bahwa mereka bisa saja menjadi target serangan teroris.

Seorang juru bicara Komite Tertinggi Qatar mengatakan: “Qatar akan menjadi tuan rumah sejumlah tim sepak bola terkemuka bulan ini termasuk FC Bayern Munich, FC Zenit St Petersburg, PSV Eindhoven, dan AFC Ajax.” Pernyataan itu secara tersirat hendak menertawakan semua teori bahwa negara Teluk itu menjadi lokasi yang tidak aman.

Jasad Qasem Soleimani Dikenali Dari Cincin Merah

Tubuh Mayor Jenderal Qasem Soleimani ‘tercabik-cabik’ oleh serangan misil yang diperintahkan oleh Presiden AS Donald Trump dan hanya cincin merahnya yang terkenal yang bisa mengkonfirmasi identitasnya.

Jenderal besar itu, yang diperkirakan akan menjadi presiden masa depan Iran, termasuk di antara delapan orang yang tewas dalam serangan udara AS ketika ia meninggalkan bandara Baghdad pada hari Jumat. Dia mendarat usai melakukan perjalanan dari Syria atau Lebanon sekitar pukul 00.30 dinihari ketika dia bertemu dengan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil komandan pasukan Popular Mobilization yang pro-Iran di Irak.

Ketika mobil-mobil melewati area kargo untuk mencapai jalan akses keluar dari bandara, kendaraan itu dihantam oleh setidaknya dua rudal yang dilepaskan dari drone MQ9 Reaper Amerika yang dikendalikan dari jarak jauh.

Menurut Andrew de Grandpre, wakil editor keamanan nasional untuk Washington Post, pembicaraan untuk menghabisi Soleimani dimulai minggu lalu. Dia menulis: “Seorang pejabat AS mengatakan pembicaraan soal serangan dimulai setelah kematian kontraktor [Amerika di Irak].”

“Pada hari Rabu, Menlu Mike Pompeo tiba-tiba membatalkan perjalanan yang direncanakan ke Eropa Timur, dengan alasan perlunya tinggal di Washington ‘untuk terus memantau situasi yang sedang berlangsung di Irak dan memastikan keselamatan dan keamanan orang Amerika di Timur Tengah.'”

Menhan Iran Amir Hatami mengancam AS bahwa pihaknya akan “melakukan balas dendam hebat” atas “pembunuhan tidak adil” atas Jendeal Soleimani. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan “balas dendam yang luar biasa akan menunggu para penjahat” di balik serangan itu. Dia juga mengumumkan tiga hari berkabung di seluruh negeri.

Jenderal Soleimani secara luas dipandang sebagai tokoh kedua paling kuat di Iran di belakang Ayatollah Khamenei. Menlu Iran Javad Zarif menggambarkan serangan itu sebagai tindakan “terorisme internasional.”

AHABET
AHABET
HKINDO
HKINDO