Dejan Lovren Ungkap Pengalaman Jadi Pengungsi Saat Perang Bosnia

Dejan Lovren

Gilabola.com –┬áDejan Lovren telah mengungkapkan pengalaman dirinya semasa jadi pengungsi saat perang Bosnia. Sangat mengerikan.

Dejan Lovren, bintang Liverpool, menceritakan pengalaman horornya ketika kecil saat menjadi pengungsi di Perang Bosnia, dengan dinginnya ia berkata: “Keluargaku bisa saja terkubur hidup-hidup”.

Bek berusia 27 tahun kelahiran Yugoslavia, yang berusia tiga tahun ketika perang pecah di negaranya dengan keluarganya yang terpaksa harus mengungsi ke barat, menjalani 17 jam perjalanan yang mengerikan ke Munich, Jerman.

Lovren menceritakan hal tersebut dalam sebuah film dokumenter dengan LFCTV pada Rabu malam.

Advertisement
advertisement
advertisement
Ratu Casino 77
Ratu Casino 77

Bek The Reds itu mengisahkan dalam sebuah video dokumenter berjudul “My Life As A Refugee (Kehidupanku Sebagai Seorang Pengungsi)” bagaimana kehidupannya dan kehidupan para masyarakat di wilayahnya berubah dalam semalam di hari yang sangat bersejarah pada tahun 1992 itu.

Lovren mengatakan: “Aku berharap aku bisa menjelaskan semua yang terjadi. Anda telah mendengar begitu banyak cerita, tapi tidak ada yang tahu kebenarannya. Semua itu terjadi begitu saja.”

“Semua itu mengubah semuanya hanya dalam semalam perang antara semua orang, antara tiga kultur yang berbeda.”

“Semua orang berubah, kita mendengar begitu banyak cerita di radio ataupun televisi.”

“Aku hanya ingat ketika terdengar bunyi sirine. Aku sangat takut karena kupikir ada bom atau sesuatu yang mengerikan terjadi.”

“Aku bisa ingat ibuku membawaku dan kami pergi ke ruang bawah tanah, aku tidak tahu berapa lama kami duduk di sana, kupikir hingga bunyi sirine itu berhenti.”

“Setelah itu, aku ingat ibu, paman dan istri pamanku, kami mengambil mobil dan kemudian berkendara menuju Jerman.”

“Hal paling mengerikan terjadi di desa-desa kecil, di mana orang-orang dibunuh secara brutal.”

“Saudara pamanku tewas dibunuh dengan pisau di hadapan orang banyak.”

“Aku tidak pernah membicarakan tentang pamanku karena itu hal yang sangat sulit untuk dibicarakan, ia kehilangan saudaranya, salah satu anggota keluargaku.”

“Aku punya satu teman baik di SMA, ayahnya seorang prajurit, dan aku ingat dia selalu menangis setiap hari.”

“Aku lalu bertanya, ‘Kau kenapa?’ dan dia berkata, ‘Ayahku meninggal’.”

Setelah perang pecah pada tahun 1992, 104.732 orang yang sekitar 37.000 diantaranya adalah warga sipil tewas dalam konflik mengerikan yang berlangsung selama tiga tahun tersebut.

Lovren dengan hati yang pilu menambahkan: “Aku pernah mengalami semua itu dan aku tahu apa yang terkadang dialami oleh beberapa keluarga lain.”

“Beri mereka kesempatan. Beri mereka kesempatan. Anda akan dapat melihat siapa orang yang baik dan siapa yang tidak.”