Gilabola.com – Duel Mesir vs Senegal di semifinal Piala Afrika 2026 ini tidak hanya sekedar laga biasa bagi Mohamed Salah, tapi juga bisa menjadi momen membara bagi penyerang Mesir yang mengusung dendam besar jelang duel panas ini.
Salah saat ini masih berharap bisa mempersembahkan gelar pertamanya bagi Mesir di tengah kesuksesan luar biasa di level klub, di mana dia akan menghadapi kembali mantan rekan setimnya, Sadio Mane, sosok yang beberapa kali menggagalkan mimpinya di level internasional.
Pertemuan Mesir vs Senegal ini membuka kembali rivalitas lama yang selama ini terpendam di balik profesionalisme klub, sekaligus menjadi ujian mental dan sejarah bagi kedua pemain senior Afrika tersebut.
Salah dan Mane sebelumnya saling bahu membahu membantu Liverpool meraih kejayaan luar biasa di era Jurgen Klopp, memenangkan gelar Premier League, Liga Champions, dan Piala FA.
Tapi, sementara di level klub keduanya tampak baik-baik saja meski kadang memang ada intrik di antara keduanya, rivalitas mulai terasa jelas ketika keduanya mengenakan jersey negara masing-masing.
Roberto Firmino, yang menjadi bagian trio lini depan legendaris Liverpool bersama Salah dan Mane, pernah menggambarkan hubungan keduanya sebagai dua pemain dengan relasi profesional tanpa kedekatan personal.
Firmino juga menjelaskan bahwa perbedaan karakter menjadi faktor utama adanya jarak di antara dua pemain Afrika itu. Mane dikenal sebagai pemain yang emosional dan eksplosif, sementara Salah lebih tertutup dan fokus pada target pribadi.
Rivalitas Menyala Saat Membela Negara
Sebenarnya saat di level klub, Salah dan Mane kadang juga terjadi sedikit ketegangan, misalnya saat Liverpool bertandang ke Turf Moor, Mane marah-marah karena menganggap Salah egois dan tidak berbagi umpan kepadanya.
Mane bahkan meluapkan emosinya ke arah bangku cadangan saat dia ditarik keluar oleh Jurgen Klopp, sebuah momen yang diyakini dipicu rasa kecewa terhadap keputusan Salah.
Insiden itu menegaskan perbedaan karakter dan mentalitras di anatra keduanya, di mana Salah dikenal dengan naluri egois khas penyerang elite, sementara Mane mengandalkan kerja kolektif dan intensitas tanpa henti.
Nah, sementara warisan Salah di Liverpool lebih kuat dengan kontribusi gol dan assist yang lebih baik, Mane justru lebih berprestasi di level internasional, sesuatu yang belum bisa dilakukan Salah.
Di pertemuan sebelumnya saat Mesir dan Senegal bertemu di final Piala Afrika, Mane ikut menyumbang gol di babak adu penalti untuk mengantar Senegal meraih gelar Piala Afrika pertama dalam sejarah, sekaligus memberi luka mendalam bagi Salah.
Cerita berulang di babak kualifikasi Piala Dunia saat Salah gagal dalam eksekusi penalti, sementara Mane kembali tampil sebagai algojo penentu yang memastikan Senegal lolos ke Qatar, dan meninggalkan Mesir sebagai penonton.
Mesir tercatat sebagai negara dengan gelar Piala Afrika terbanyak, tujuh kali. Sayangnya belum ada satupun yang terjadi di era Salah, fakta yang jadi beban psikologis bagi penyerang Liverpool itu.
Kini Salah menegaskan tekadnya untuk menuntaskan misi membawa Mesir memenangkan Piala Afrika dan semifinal melawan Senegal akan jadi rintangan pertama, sekaligus melawan Mane yang selama ini selalu menjadi tembok penghalang bagi Salah.
Pendapat Kami
Ini bukan hanya sekedar laga semifinal biasa bagi Salah, ini adalah momen pembuktian sekaligus beban psikologis besar yang harus dikalahkan. Kesuksesan di level klub terasa kurang tanpa keberhasilan di level timnas, dan laga melawan Senegal akan menjadi ujian nyata bagi penyerang Liverpool.

