Hakim Ziyech, Tinggalkan Sepakbola dan Terjerumus Narkoba

Hakim Ziyech Tinggalkan Sepakbola dan Terjerumus Narkoba

Gilabola.com – Hakim Ziyech – pemain Ajax yang akan perkuat Chelsea musim depan, ternyata nyaris tinggalkan sepakbola setelah kematian tragis sang ayah saat ia masih berusia 10 tahun.

Usai kematian sang ayah, Ziyech bahkan sempat terjerumus dalam lingkaran setan minuman keras dan obat-obatan terlarang.

Gelandang yang akan gabung Chelsea senilai 33,3 juta Poundsterling pada musim depan itu, merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara dari seorang ibu yang asli Belanda dan ayah berkebangsaan Maroko. Ziyech kecil memang menyukai sepakbola, dan ikuti pembinaan pemain usia dini.

Selama itu pula, ayahnya selalu hadir mendampinginya, selama waktunya dengan tim amatir lokal, Reaal Dronten. Namun, hidupnya makin sulit ketika ayahnya harus terus berjuang melawan multiple sclerosis (penyakit yang berpotensi melumpuhkan otak dan sumsum tulang belakang/sistem syaraf pusat).

Advertisement
NelayanBet
NelayanBet
Mimpi 4D
Mimpi 4D

“Penyakit itu menghancurkannya. Dia hanya bisa melakukan sangat sedikit aktifitas, tidak bisa berjalan, makan, bahkan bicara,” ujar Ziyech kepada surat kabat Belanda, De Volskrant, seperti yang dilansir SunSport.

“Ayah sebelumnya alami serangan jantung. Dia selalu bekerja keras, tapi juga banyak merokok,” tambahnya.

Diselamatkan Mantan Pemain Timnas Maroko

Pada Desember 2013, momen terburuk dalam kehidupan Ziyech pun terjadi. “Ayah ada di tempat tidur di ruang tamu. Dia sakit selama beberapa lama,” ujar Ziyech kepada Algemeen Dagblad.

“Saya harus tidur malam itu, tapi ingin tetap bersamanya. Akhirnya saya tertidur di pinggir tempat tidur di sampingnya. Sekitar tengah malam, baru saya bangun dan masuk kamar,” ungkapnya.

“Beberapa jam kemudian, sekitar pukul tiga dinihari, saya mendengar ada anggota keluarga yang menangis di lantai bawah. Saya turun ke ruang tamu. Ayah saya sudah meninggal. Dan di sanalah Anda, berdiri sebagai seorang bocah lelaki berusia 10 tahun..,” tambah Ziyech.

Ziyech mengaku sangat terpengaruh atas kematian ayahnya. “Saya tidak sekolah lagi. Sepakbola juga tidak. Saya benar-benar tinggalkan kehidupan saya yang dulu,” tambahnya.

Beruntung bagi Ziyech, seorang malaikat penjaga datang dan membawanya kembali. Adalah Aziz Doufikar yang menolongnya – mantan pemain internasional Maroko dan pesepakbola pertama dari Afrika Utara yang bermain di Belanda.

Doufikar, yang masih seorang pemain muda di Dronten saat itu mengungkapkan, “Setelah kematian ayahnya, Hakim benar-benar merosot. Dia minum, merokok dan juga menggunakan narkoba,” ujar Doufikar.

“Saya membantunya sekuat tenaga untuk keluar dari jalan hidup yang buruk seperti itu. Saya menjadi mentornya, ayahnya, pelatihnya. Saya lihat dia takut menunjukkan dirinya di lapangan,” tambah Doufikar kisahkan upayanya selamatkan Hakim Ziyech yang kini menjadi salah satu bintang Ajax.

“Saya biarkan dia bermain di sejumlah turnamen, lalu saya melihatnya tumbuh. Dengan sedikit keberuntungan, itu berhasil. Hakim bisa sepenuhnya berkembang,” ungkap Doufikar.

Putuskan Beralih Kesetiaan pada Maroko

Pada usia 14 tahun, Ziyech gabung Heerenveen dan pindah ke sana untuk tinggal bersama keluarga angkat. Setelah memulai debut seniornya pada usia 19 tahun dan dua tahun di tim utama, ia gabung FC Twente.

Ziyech bahkan sempat diangkat menjadi kapten di awal musim keduanya, tapi itu menjadi musim yang kontroversial. Dia juga telah bermain untuk Timnas Belanda U-19 dan U-21, tapi kemudian beralih kesetiaan dengan membela negara asal ayahnya. “Memilih tim nasional, seseorang tidak dilakukan dengan otak, tapi dengan hati. Dalam kasus saya, tanpa ragu saya membela Maroko,” ungkap Ziyech.

“Saya selalu merasa orang Maroko, walau saya lahir di Belanda. Banyak orang tidak akan pernah mengerti itu,” tambahnya.

Lalu, Ziyech tak lagi menjadi kapten karena menyerang klub dan dewan pengurusnya. Tapi, ia masih bisa tunjukkan prestasi terbaik dalam karirnya lewat 17 gol dan 10 assist.

Ia sempat diminta gabung Burnley, tapi lebih suka memilih untuk gabung Ajax sebelum pindah ke Chelsea musim depan.

Meskipun sekarang sudah dipastikan akan berada di klub besar Liga Premier, Ziyech tak punya waktu untuk ‘pertunjukan boneka’ yang mengelilingi sepakbola. “Saya kenal banyak orang dan tidak suka orang yang palsu. Ini pertunjukan boneka besar dan semakin buruk,” tegas Ziyech.

“Pertunjukan boneka juga tergantung pada hal-hal seperti media sosial. Itu menghancurkan dunia. Semuanya tidak lagi menjadi urusan pribadi, tapi harus ditunjukkan kepada orang lain,” ungkapnya.

Semoga saja Ziyech bisa menunjukkan performa terbaiknya, ketika dia akhirnya tiba di London Barat musim panas mendatang. Ziyech sendiri mengaku tak peduli dengan reputasi dan nama besar. Hal ini patut dikonfirmasi ulang pada Marco van Basten.

Gelandang 26 tahun itu memulai debutnya pada usia 19 tahun di Heerenveen, di bawah asuhan Van Basten. Striker legendaris ini juga menjadi bos AZ Alkmaar, sebelum akhirnya menjadi asisten pelatih Timnas Belanda, Danny Blind, pada 2015 silam.

Musim gugur itu ia mencap Ziyech dan Oussama Tannane sebagai ‘bodoh’, karena berganti kesetiaan dari Timnas Belanda ke Maroko. Tapi Hakim Ziyech membalasnya. “Van Basten memang nama yang bagus, tapi bukan pelatih papan atas. Dia menyadari di AZ bahwa dia tidak cocok untuk itu. Dia seharusnya lakukannya di Heerenveen,” ujar Ziyech ketika itu.

“Jika Anda mengenal orang atau memiliki nama besar, Anda akan selalu kembali bekerja. Kualitas penting bagi saya,” tegasnya.