VAR Menangkan PSG atas AS Monaco, Seperti Seks Tanpa Klimaks kata Lizarazu

Hasil PSG vs Monaco, Coupe de la Ligue 2018
Gilabola.com - PSG berhasil merebut gear juara Coupe de la Ligue usai mengalahkan AS Monaco tadi malam

Gilabola.com –  Legenda Perancis Bixente Lizarazu sebut teknologi VAR di dunia sepakbola seperti melakukan seks tanpa klimaks, usai AS Monaco dikalahkan Paris Saint-Germain di final Piala Perancis atau Coupe de la Ligue.

Les Parisiens sukses mengangkat piala pertamanya di musim ini usai tersingkir di Liga Champions, dengan membekap klub besutan Leonardo Jardim dengan tiga gol tanpa balas berkat dua kontribusi Edinson Cavani dan satu dari Angel Di Maria, Minggu (01/04) dini hari WIB kemarin.

Gol pertama Cavani di ajang Coupe de la Ligue dicetak dari titik putih setelah Kylian Mbappe dijegal Kamil Glik, tapi wasit Clement Turpin harus meminta pendapat dari pengawas VAR untuk membenarkan keputusannya.

Kedua kesebelasan saling serang dan Monaco sempat mengejar ketertinggalan 2-0 melalui sundulan Radamel Falcao ke gawang Kevin Trapp.

Advertisement
advertisement
advertisement
Mimpi 4D
Mimpi 4D

Sayangnya wasit Turpin lagi-lagi meminta pendapat pengawas VAR untuk memastikan apakah gol tersebut sah atau tidak, dan eks penyerang Atletico Madrid itu dinyatakan offside tipis.

Bagi Bixente Lizarazu, teknologi VAR yang akan diterapkan FIFA di pentas Piala Dunia 2018 Rusia itu tidak lah memuaskan sebab menghilangkan semangat para penonton.

“VAR seperti seks tanpa klimaks. Di saat suasana sedang euforia kegirangan, Anda diminta untuk berhenti. Seperti itu lah yang saya rasakan di stadion,” ujar Lizarazu pada Telefoot.

“Para suporter Monaco bersuka cita kala Falcao mencetak gol. Mereka bahagia dan kemudian kami harus menghentikan segalanya. Itu buruk, sangat membuat frustrasi.”

“Fans tidak berpartisipasi dalam apapun, seakan-akan tidak dianggap penting. Para suporter ingin terlibat dalam pertandingan [melalui semangat], tapi tidak diperbolehkan.”

“Kita harus menggunakan video [VAR] lebih baik lagi. [Cara kerjanya] harus diterangkan ke semua orang, baik di dalam stadion dan di televisi. [Sebab] kami menjadi salah satu elemen dalam pertandingan.”