Jadi Andalan Timnas Italia, Jorginho Tak Malu Mengakui Sang Ibu Pelatih Pertamanya

Gilabola.com – Timnas Italia boleh bangga memiliki Jorginho dalam skuad mereka di Euro 2020. Pemain Chelsea itu punya andil besar dalam membawa mereka merambah final turnamen tersebut.

Jorginho saat ini memang membela Gli Azzurri, tapi ia dilahirkan di Imbituba, Santa Catarina, Brasil. Gelandang 29 tahun itu baru pindah ke Italia saat usianya 15 tahun, dan karena ayahnya memiliki darah Italia, ia pun mendapatkan kewarganegaraan Negeri Pizza tersebut.

Kehidupannya di pesisir pantai Imbituba di selatan Brasil telah memberinya banyak kesempatan untuk mengolah si kulit bundar, dan sang ibulah yang menjadi mentornya.

Advertisement
QQCepat
QQCepat
Totobet
Totobet
978Bet
978Bet

Jika di Euro 2020 ini Jorginho menjadi salah satu pemain penting bagi Timnas Italia – yang akan bertemu Inggris di final, playmaker itu memuji ibunya yang telah membuatnya menjadi bintang seperti sekarang ini.

“Ibu saya bermain sepak bola, saya belajar banyak darinya. Dia masih bermain bola sampai hari ini, dan mengerti banyak soal itu. Dia akan mengajak saya ke pantai dengan bola di tangannya dan saya bisa menghabiskan hari bersamanya sambil mempelajari permainan bola di atas landasan berpasir,” ungkap Jorginho beberapa waktu lalu, seperti dilansir The Sun.

Ibunda Jorginho, Maria Tereza Freitas, berharap putranya itu mempersiapkan segalanya dalam pertandingan. Dia ingin Jorginho selangkah lebih maju dibandingkan lawannya.

“Saya dibesarkan untuk hadapi begitu banyak masalah,” ujar bintang Timnas Italia yang juga harus mengakui bahwa masalahnya itulah yang membawanya menuju ketenaran.

Namun terlepas dari persiapan yang biasa dia lakukan saat ingin bertanding, Jorginho tak bisa memperkirakan perpisahan kedua orang tuanya saat ia masih berusia enam tahun. Sejak saat itu, Maria Tereza pun menjadi provider sekaligus pelatihnya.

Dia menghabiskan waktunya untuk bekerja sebagai pelayan restoran dan punya cukup uang untuk membelikan Jorginho sepatu olah raga dan sebuah bola. Sang ibu pula yang mengantar Jorginho untuk bermain bola di tim terdekat, Bruscao.

Ikatan di antara keduanya yang begitu kuat, sehingga saat ia teringat harus pindah sejauh 180 kilo meter dari sang ibu dan rumahnya, saat andalan Timnas Italia itu berusia 13 tahun, masih membuatnya kesal hari ini. “Kalau saya membicarakannya, saya merasa ada yang mengganjal di tenggorokan saya,” tandas Jorginho.

Saat itu, bersama 50 anak-anak yang lain, Jorginho muda terpilih sebagai bagian dari sebuah proyek yang dikelola seorang pebisnis asal Italia di Guabiruba untuk menciptakan gelombang baru generasi sepak bola brilian asal Brasil. Namun, lokasinya, bahkan sangat jauh dari fasilitas mutakhir yang dimiliki akademi Chelsea di Cobham.

Jorginho ingat betul bagaimanan ia mandi air sedingin es, tak pernah lupa bagaimana ia berada di kamp latihan yang tak berjendela maupun menu makanan yang monoton dan sangat jarang bervariasi. Namun, harus diakui, pengalaman itu akhirnya sangat berharga baginya.

Setelah dua tahun, pemain yang kini menjadi bintang Timnas Italia itu menjadi salah satu dari sedikit pemain yang terpilih untuk bergabung dengan Verona, yang ketika itu bermain di tier kedua kompetisi sepak bola Italia.

Namun kesepakatan pertama Jorginho amat sangat jauh dari menguntungkan. Di saat sang agen bisa kantongi 27 Ribu Poundsterling atau sekitar Rp 542 Juta dari transaksinya itu, Jorginho hanya dapatkan 18 Pounds (Rp 361 Ribu) per pekan untuk jalani hidupnya.

Namun, Jorginho tetap lakukan kontak dengan sang ibu, yang berhasil meyakinkannya agar tetap lanjutkan pendidikan sepak bolanya setelah Jorginho mengancam akan tinggalkan dunia tersebut.

Di tahun kedua, Jorginho mulai berlatih dengan para pemain sepak bola profesional dan bertemu dengan kiper Brasil, Rafael Pinheiro, yang akhirnya menjadi teman dekatnya. “Saya ceritakan kisah saya, dia tidak percaya. Dari situ, dia tak membiarkan saya melewatkan apapun,” ungkap bintang Timnas Italia yang juga pernah bersinar bersama Napoli itu.

Sejak awal di Hellas Verona, Jorginho sudah dijuluki ‘Serigala Masa Depan’. “Semua orang bisa mengetahui seekor singa, bagi saya dia adalah serigala. Dia bekerja tiga kali lebih keras di atas lapangan dan lebih kuat dibandingkan yang lain,” tandas mantan pimpinan eksekutif di Hellas Verona, Riccardo Princiantelli, kepada MailOnline.

Setelah sukses saat dipinjamkan ke klub Serie D, Sambonifacese, Jorginho kembali ke Verona dan memulai debutnya bersama tim utama saat usianya baru 18 tahun di bulan September 2011.

Jorginho yang kini menjadi andalan Timnas Italia, saat itu juga menjadi pemain kunci saat Verona mendapat promosi di tahun 2013. Namun, Jorginho pindah ke Napoli enam bulan kemudian.

Selama waktunya di San Paolo, Jorginho belajar banyak mengenai Chelsea dari rekan satu kamarnya, Nathaniel Chalobah, mantan gelandang the Blues yang pernah dipinjamkan ke Napoli di tahun 2015.

Selama tiga tahun, Jorginho bekerja di bawah asuhan Maurizio Sarri di Naples, hingga akhirnya Sarri pindah ke Stamford Bridge dan Jorginho menyusul ke klub London Barat tersebut.

Jorginho tentunya sangat berterima kasih pada sang ibu atas pengalaman berharga yang didapatkannya sejak kecil. Jika pasir pantai di Imbituba telah menjadi ruang kelas bagi mereka, Stadion Wembley bisa menjadi panggung akbar bagi Jorginho, juga Timnas Italia, di final Euro nanti.

AHABET
AHABET
HKINDO
HKINDO