Jika Jerman dan Norwegia Lolos Piala Dunia 2022, Apakah Mereka Akan Boikot Demi Permalukan Qatar?

Gila Bola – Muncul dugaan bahwa sejumlah negara Eropa, mungkin Jerman dan Norwegia, akan memboikot Piala Dunia 2022 di Qatar, bahkan ketika mereka berdua lolos ke putaran final di negeri Teluk itu, yang babak kualifikasinya untuk zona Eropa sudah dimulai Maret ini.

Kemarin Norwegia mengirim pesan keras ke Qatar, tuan rumah Piala Dunia 2022 untuk berbagai pelanggaran hak asasi manusia selama proses pembangunan stadion-stadionnya. Pagi tadi (Jumat 26 Maret 2022) giliran Jerman ikut serta memojokkan negeri Teluk tersebut.

Advertisement
QQCepat
QQCepat
TOTOBET
TOTOBET

Dalam foto menjelang dimulainya laga Jerman vs Islandia untuk kualifikasi Piala Dunia 2022, para pemain Die Mannschaft berfoto dengan menggunakan kaos bertuliskan “human rights” atau “hak-hak asasi manusia” dalam bahasa Indonesia. Meski tidak ada tulisan yang jelas-jelas mengaitkan Qatar dengan tulisan itu, semua orang tahu yang dimaksud adalah tuan rumah Piala Dunia 2022 tersebut.

Menarik mengamati konsistensi sikap Jerman dan Norwegia jika mereka akhirnya lolos ke putaran final di Qatar. Pada satu sisi mereka memprotes soal pelaksanaan hak asasi di negeri Teluk itu, tapi pada sisi lain bersedia pergi ke lokasi Piala Dunia 2022 itu, mencicipi semua hospitality tuan rumah dan bertanding di stadion yang dibangun dengan mengorbankan nyawa ribuan buruh.

Menurut berbagai laporan, ada sekitar 6500 pekerja asing, terutama dari kawasan Asia Selatan, yang meninggal dunia dalam proses pembangunan sejumlah stadion baru dalam empat atau lima tahun terakhir, demi mengejar tenggat agar mereka diizinkan menggelar hajatan sepak bola empat tahunan tersebut.┬áKemarin Norwegia merupakan tim pertama yang menggelar protes itu pada kaos mereka bertuliskan “hak asasi manusia, di dalam dan di luar lapangan”.

Menurut laporan dari Amnesty International, salah satu isu terbesar hak asasi di Qatar adalah sistem “kafala” atau sponsor yang menyebabkan majikan mendapatkan hak luar biasa besar untuk jam kerja dan bahkan nasib serta nyawa si buruh. Ada lebih dari dua juta pekerja asing di Qatar dengan sekitar 1 juta di antaranya bekerja di sektor konstruksi dan 100.000 sebagai pekerja rumah tangga. Sistem “kafala” tadi menyebabkan majikan berkuasa penuh, mencegah si buruh melarikan diri, berganti pekerjaan atau bahkan pulang kembali ke negerinya dalam situasi ketika mereka merasa diperbudak atau disiksa.┬áSelain itu juga persoalan yang sama menimpa kaum wanita dan kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBTQ).

Itulah sebabnya muncul kecurigaan bahwa ada skenario untuk mempermalukan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Agar tidak dibilang munafik maka saat negara-negara Eropa tersebut dipastikan lolos ke ajang kompetisi terbesar di muka bumi tersebut, mereka akan mengumumkan tidak ikut serta alias batal pergi. Jika tidak demikian maka semua aksi protes melalui kaos ini tidak ada gunanya.