Gilabola.com – Mimpi buruk Mohamed Salah di Piala Afrika bersama Mesir kembali berlanjut saat harapannya sekali lagi harus dikubur dalam-dalam usai kekalahan 1-0 dari Senegal yang diperkuat Sadio Mane.
Kekalahan di semifinal ini tentu saja memperpanjang catatan pahit Salah yang belum pernah mengangkat trofi Piala Afrika bersama Mesir meski meraih hampir semua gelar di level klub.
Kelalahan ini juga terasa semakin berat dan menyesakkan dada karena terjadi di laga emosional melawan mantan rekan setimnya, Sadio Mane, yang justru sekali lagi jadi penentu bagi Senegal.
Di laga itu, Mesir memang kalah dominan dari Senegal. Turun dengan formasi 4-4-2 berlian di mana Salah berduet dengan Omar Marmoush di lini depan, El Pharaos gagal memberi ancaman berarti sepanjang laga.
Menurut statistik, Mesir hanya menguasai 35 persen penguasaan bola, empat percobaan dan hanya satu tembakan tepat sasaran, sementara Senegal melepaskan 11 tembakan dengan empat di antaranya tepat sasaran.
Bagi Salah, kekalahan ini memperpanjang daftar kegagalan di turnamen yang selama ini menjadi satu-satunya kekosongan besar dalam lemari prestasinya, sebuah ironi mengingat status Mesir sebagai negara tersukses dalam sejarah Piala Afrika dengan tujuh trofi.
Tentu saja, di balik prestasinya yang luar biasa di level klub bersama Liverpool di mana dia telah memenangkan berbagai trofi mayor, kegagalan di level internasional akan memberi noda bagi karirnya yang cemerlang.
Rivalitas Lama yang Kembali Menyakitkan
Sementara itu, pertemuan ini juga menambah daftar panjang pertemuan antara Mohamed Salah melawan Sadio Mane di ajang internasional, dan sekali lagi duel berhasil dimenangkan Mane.
Sebelumnya Mane sudah beberapa kali memberikan rasa sakit bagi Salah, mengalahkan Mesir di final Piala Afrika 2021 dan kemudian menyingkirkan mereka di laga play-off Piala Dunia 2022.
Mesir sejatinya datang ke turnamen ini dengan harapan tinggi lantaran mereka adalah tim terbesar dalam sejarah Piala Afrika dengan tujuh koleksi gelar, terbanyak dari negara manapun.
Sebelum semifinal, Salah sempat menegaskan ambisinya menjuarai turnamen ini, menilai bahwa Piala Afrika sebagai satu-satunya gelar besar yang belum pernah dia raih bersama negaranya.
So, ucapan itu kini terasa semakin menyakitkan pasca kekalahan ini, di mana kegagalan ini mungkin tidak hanya menunda, tapi juga bisa mengakhiri harapan Salah memenangkan Piala Afrika dengan usianya kini sudah 33 tahun.
Mesir sendiri masih harus menjalani laga perebutan tempat ketiga, melawan pemenang Maroko vs Nigeria, yang membuat kepulangan Salah ke Liverpoo; tertunda dan menambah beban fisik serta emosional setelah laga berat ini.
Pendapat Kami
Kegagalan Salah di Piala Afrika sekali lagi jelas akan terasa sangat menyakitkan, apalagi itu sekali lagi terjadi melawan Mane dan Senegal. Dia memang sudah memenangkan banyak trofi bersama Liverpool, tapi tanpa Piala Afrika, luka itu akan tetap terbuka dan menjadi bayang-bayang yang sulit dilepaskan dari karirnya.

