Melesatnya Karir Donnarumma: : Memulai Debut Saat 16 Tahun, Juara Euro dan Gabung PSG

Gilabola.com – Gianluigi Donnarumma barangkali salah satu dari pesepak bola yang karir melesat bak meteor dalam waktu singkat.

Diungkapkan The Sun, setelah memulai debutnya di AC Milan saat usianya masih 16 tahun 242 hari, ia kemudian jadi bintang di Timnas Italia saat mereka menjadi juara Euro 2020. Kini, kiper 22 tahun itu pindah ke jawara Liga Prancis yang juga semi-finalis Liga Champions musim lalu, Paris Saint-Germain.

Stopper bertubuh jangkung itu juga menjadi kiper termuda ke dua yang bermain di sebuah pertandingan Serie A, saat dia membela Milan di laga melawan Sassuolo di San Siro. Menjadi pengganti kiper legendaris Italia, Gianluigi Buffon, Donnarumma pun menjadi instrumen penting saat Gli Azzuri menjuarai Piala Eropa yang baru lalu.

Advertisement
QQCepat
QQCepat
Totobet
Totobet
978Bet
978Bet

Pemain berpostur 1,96 meter itu bahkan menerima penghargaan Pemain Terbaik dalam turnamen itu, sekaligus menjadi KIPER PERTAMA yang secara resmi memenangkan gelar tersebut.

Musim depan, Donnarumma akan memulai babak baru dalam kehidupannya di PSG, setelah ia tinggalkan Milan – klub masa kecilnya, di mana ia pernah tampil dalam 251 pertandingan di usianya yang masih sangat muda.

Tahun-tahun Awal Karirnya

Kiper andalan Timnas Italia ini memulai karirnya bersama Napoli, di mana ia dilahirkan di luar kota di Castellammare, Stabia. Pada tahun 2013, saat usianya masih 14 tahun, ia tinggalkan Napoli untuk gabung Rossoneri yang membayar sekitar Rp 4 Milyar untuk pemain remaja tersebut. Kakaknya, Antonio, saat itu sudah bergabung dengan Milan, sehingga dia tak sendirian.

Sebagai bagian dari pemain akademi, Donnarumma kecil naik pangkat ke Giovanissimi (tim U-14), lalu membela tim Allievi (U-17) dan akhirnya ke Primavera (tim U-19 yang bermain di Milan B) yang kini sudah punah dan sempat berikan banyak pengalaman kompetitif kepada para pesepak bola muda yang berusia antara 15 hingga 19 tahun.

Ia memang selalu bermain untuk tim-tim di atas usianya. Hingga tak mengherankan, saat ia kemudian dipanggil skuad utama.

Memulai Debut

Menjelang musim 2015/16, mantan pelatih Milan Sinisa Mihajlovic mempromosikan Donnarumma ke skuad utama, tepatnya sebagai kiper ketiga di belakang Diego Lopez dan Christian Abbiati.

Namun, setelah pramusim yang gemilang, dia berhasil menyodok masuk dalam pemikian Mihajlovi. Hingga akhirnya, di bulan Oktober, ia pun terpilih untuk bermain di depan Lopez dalam laga melawan Sassuolo. Saat itu, usianya masih 16 tahun 242 hari – hanya terpaut 13 hari dari rekor yang dibuat Giuseppe Sacchi 73 tahun sebelumnya.

Setelah itu, Diego Lopez yang berhasil disainginya mengatakan kepada wartawan, kiper remaja tersebut akan menjadi ‘masa depan Milan dan sepak bola Italia’.

Dari Pahlawan Berubah Jadi Bandit

Tak lama setelah Donnarumma berhasil memantapkan dirinya sebagai kiper nomor wahid AC Milan, perselisihan kontrak masa depannya pun dimulai. Setelah diwakili super agen, Mino Raiola, ia menolak perbarui kontraknya dengan Rossoneri di tahun 2017.

Ia ramai dimaki para suporter yang marah, yang bahkan tega melemparinya dengan ratusan lembar uang kertas palsu di lapangan, saat ia bermain untuk Timnas Italia U-21 di laga melawan Denmark.

Perlakuan tersebut membuat Donnarumma seketika hancur, hingga ia tampil buruk di Kejuaraan Eropa U-21 dan hal itu cukup merusak pasarnya. Namun ia dan Raiola dapatkan apa yang mereka inginkan, karena satu bulan setelah itu ia teken kontrak baru berdurasi empat tahun di Milan yang nilainya sekitar Rp 100 Milyar per tahun.

Sebuah klausul juga diselipkan dalam kontraknya, bahwa Milan harus merekrut Antonio – kakaknya, yang saat itu bermain di klub Yunani, Asteras Tripolis, sebagai kiper pelapis dengan gaji yang mencapai Rp 20 Milyar per tahun.

Pecahkan Rekor Italia

Setelah lakukan langkah besar di Milan dan Timnas Italia U-21, wajar jika Donnarumma kemudian mendapat pengakuan internasional secara penuh. Pada tahun 2016, ia memulai debutnya di laga melawan Prancis, di mana ia bermain sebagai kiper pengganti Buffon di babak pertama, yang sayangnya Italia alami kekalahan 3-1.

Debut itupun membuat ia mencatatkan sejarah sebagai PENJAGA GAWANG TERMUDA yang pernah tampil untuk tim nasional di usianya yang baru 17 tahun 189 hari.

Saat Buffon pensiun di Timnas Italia pada tahun 2018, Roberto Mancini tak sulit untuk memilih siapa pengganti kiper Juventus tersebut.

Donnarumma pun segera dinobatkan sebagai kiper nomor satu Gli Azzuri dan tampil sebagai starter di seluruh pertandingan Uefa Nations League musim 2018/19.

Satu Lagi Perselisihan Kontrak

Jelang musim 2020/21, Milan ngotot meminta kiper mudanya itu agar memperpanjang kontraknya. Namun keinginan Raiola terbukti tak realistis untuk sebuah klub yang tengah berjuang mengatasi masalah keuangan di masa pandemi saat ini, seperti yang juga banyak dialami klub-klub sepak bola besar lainnya.

Intinya, Raiola meminta agar gaji kliennya itu naik hingga sekitar Rp 17 Milyar per bulan, plus Rp 342 Milyar untuk komisi sang agen. Pada bulan Mei, dia kemudian menarik diri dari semua negosiasi karena tahu betul keinginannya tak akan tercapai.

Direktur Sepak Bola Milan, Paolo Maldini, kemudian mengonfirmasikan, Donnarumma akan tinggalkan Milan saat kontraknya selesai pada 30 Juni 2021, hingga banyak tim papan atas Eropa langsung pasang radar.

Kemenangan di Euro 2020

Walau berlaga di ajang Euro dengan masa depan yang tak menentu di klubnya, kiper muda ini tetap bisa menjadi semangatnya di lapangan. Ia tunjukkan penampilan yang meyakinkan di turnamen musim panas tersebut, hingga Azzuri berhasil melaju kencang.

Donnarumma tampil heroik di laga melawan Spanyol dan Inggris, masing-masing di fase semi-final serta final, dan menunjukkan bagaimana sulit mengalahkannya dari titik putih.

Setelah laga final di Wembley, ia pun dinobatkan sebagai Pemain Terbaik di Euro 2020. Penghargaan resmi itu baru ada sejak tahun 1996, di mana sebelumnya dimenangkan Matthias Sammer, Zinedine Zidane, Theo Zagorakis, Xavi, Andres Iniesta dan Antoine Griezmann.

Dalam situs resminya, Uefa juga mengumumkan peraih penghargaan Player of the Tournament tahun 1984, 1988 dan 1992, yang masing-masing dimenangkan Michel Platini, Marco van Basten dan Peter Schmeichel. Namun, saat itu penghargaan tersebut belum resmi diberikan, hingga Donnarumma pun menjadi kiper pertama yang sah memenangkannya.

AHABET
AHABET
HKINDO
HKINDO