Site icon Gilabola.com

Mesir Menang Atas Pantai Gading, Mohamed Salah Jadi Simbol Kebangkitan di Piala Afrika

Hasil Mesir vs Pantai Gading di Piala Afrika

Gilabola.com – Mohamed Salah kembali menjadi simbol kebangkitan Timnas Mesir setelah memimpin timnya meraih kemenangan 3-2 atas Pantai Gading di perempat final Piala Afrika, sebuah penampilan yang dianggap sebagai performa terbaik Mesir sejak era kejayaan 2008.

Kemenangan dramatis itu terasa lebih dari sekadar tiket ke semifinal. Bagi Mesir, ini adalah malam yang menghidupkan kembali memori masa lalu, ketika mereka menjadi kekuatan dominan Afrika. Penampilan melawan Pantai Gading pada Sabtu lalu disebut-sebut sebagai performa terbaik sejak kemenangan 4-1 atas lawan yang sama di semifinal Piala Afrika 2008 di Ghana.

Mesir Lebih dari Sekadar Lolos Semifinal

Mesir memang sempat mencicipi dua kali kualifikasi Piala Dunia setelah era tiga gelar Piala Afrika beruntun berakhir pada 2010. Mereka juga tampil di dua final Piala Afrika pada 2017 dan 2021 (digelar 2022). Namun, kemenangan kali ini terasa berbeda.

Jika sebelumnya Mesir lebih dikenal lolos dengan susah payah dan bermain pragmatis, kali ini mereka benar-benar tampil berani. Menghadapi salah satu raksasa sepak bola Afrika, Mesir tidak sekadar bertahan, tetapi mampu mengontrol jalannya laga dengan efisien dan penuh keyakinan.

Bayang-bayang pertemuan masa lalu memang tak terelakkan. Pelatih kedua tim pernah berada di sisi berlawanan saat Mesir mengalahkan Pantai Gading lewat adu penalti di final Piala Afrika 2006 di Kairo. Namun, laga ini lebih mengingatkan pada semifinal 2008, ketika Mesir menang telak 4-1 dan menunjukkan superioritas mutlak.

Empat menit pertama laga sudah memberi isyarat. Seperti Kolo Touré yang kebingungan menghadapi Amr Zaki pada 2008, Odilon Kossounou pun terjebak saat Omar Marmoush melesat dan membawa Mesir unggul lebih dulu.

Kejutan Taktik dan Peran Mohamed Salah

Performa impresif ini terasa istimewa karena datang setelah perjalanan Mesir yang kurang meyakinkan di fase sebelumnya. Mereka terlihat kaku, dan pelatih Hossam Hassan sempat kesulitan memaksimalkan potensi Marmoush. Skema 4-3-3 yang sebelumnya mengantar Mesir lolos kualifikasi Piala Dunia pun ditinggalkan.

Setelah sempat mencoba formasi tiga bek di fase grup dan babak 16 besar—di mana Mesir harus bermain hingga perpanjangan waktu untuk menyingkirkan Benin—Hassan kembali melakukan perubahan besar saat menghadapi Pantai Gading.

Mesir tampil dengan formasi 4-3-1-2, formasi yang juga membawa kesuksesan bagi Nigeria di turnamen ini. Emam Ashour berperan sebagai penghubung di belakang Salah dan Marmoush, dan pendekatan ini terbukti efektif.

Meski hanya menguasai bola kurang dari 30 persen, Mesir sangat berbahaya dalam serangan balik. Gol ketiga lahir dari skema tersebut, ketika Mohamed Salah menuntaskan umpan terukur Ashour. Kemenangan ini sebenarnya bisa lebih nyaman jika Mesir tidak rapuh menghadapi situasi bola mati dari Pantai Gading.

Energi Baru, Mengingatkan Era Keemasan

Salah satu aspek paling menonjol adalah cara Mesir melakukan pressing. Tidak terus-menerus, tetapi tepat sasaran. Gol pertama bermula dari Hamdy Fathy yang merebut bola dari Franck Kessié di lini tengah sebelum Ashour mengirim Marmoush ke ruang bebas.

Gol kedua dicetak Rami Rabia lewat sundulan memanfaatkan sepak pojok Salah, yang sendiri tercipta setelah Marmoush menekan bek kanan Pantai Gading, Guéla Doué.

Energi dan kecerdikan permainan ini mengingatkan publik pada era emas Mesir, yang berakhir di tengah krisis politik nasional setelah 2011. Setelah itu, Mesir bahkan gagal lolos ke tiga edisi Piala Afrika berturut-turut.

Kini, di bawah arahan pemain veteran dari generasi sukses tersebut, Mesir kembali menunjukkan identitas lamanya. Pantai Gading sekali lagi menjadi saksi.

Menanti Duel Sarat Sejarah: Mesir vs Senegal

Kemenangan ini juga memastikan laga semifinal yang penuh muatan sejarah. Mesir akan menghadapi Senegal, mempertemukan kembali Mohamed Salah dengan mantan rekan setimnya di Liverpool, Sadio Mané.

Pertemuan ini mengingatkan pada final Piala Afrika 2022 di Yaoundé, ketika Mané menjadi penentu kemenangan Senegal lewat adu penalti, serta playoff kualifikasi Piala Dunia sebulan setelahnya, di mana skenario serupa kembali terulang.

Mohamed Salah memang tetap menjadi pusat perhatian, namun yang lebih penting adalah bagaimana seluruh tim bermain dengan energi, disiplin, dan kecerdikan yang dulu membuat Mesir disegani di Afrika. Ujian sesungguhnya kini menanti melawan Senegal, sekaligus kesempatan untuk menebus sejarah yang belum berpihak.

Exit mobile version