Tak Ada Tekanan Liga Champions, Thomas Tuchel Minta PSG Sabar

Thomas Tuchel memohon kesabaran Paris Saint-Germain ketika pelatih berusia 44 tahun itu mencoba menerapkan filosofinya di juara Liga Prancis tersebut.
Berita Terkini - Thomas Tuchel memohon kesabaran Paris Saint-Germain ketika pelatih berusia 44 tahun itu mencoba menerapkan filosofinya di juara Liga Prancis tersebut.

Gilabola.com – Thomas Tuchel memohon kesabaran Paris Saint-Germain ketika pelatih berusia 44 tahun itu mencoba menerapkan filosofinya di juara Liga Prancis tersebut.

Thomas Tuchel mengatakan dia belum diberitahu bahwa dia harus memenangkan Liga Champions saat pelatih kepala baru PSG itu bersikeras masih terlalu dini untuk berpikir tentang kesuksesan di Eropa.

Mantan bos Borussia Dortmund Tuchel diresmikan menjadi pelatih PSG pada hari Minggu. Pelatih asal Jerman itu menggantikan Unai Emery setelah pemenang Ligue 1 tersebut kembali tersingkir di ajang Liga Champions.

PSG terdepak di babak 16 besar musim ini, seperti yang mereka alami pada musim 2016-17, setelah berhasil masuk ke perempat final selama empat musim sebelumnya.

Advertisement
advertisement
advertisement
Ratu Casino 77
Ratu Casino 77

Klub ibu kota Prancis itu tampil dominan di kompetisi domestik dengan lima gelar Ligue 1 dalam enam musim, namun trofi Liga Champions adalah apa yang diinginkan pemilik klub.

Tapi Tuchel meminta kesabaran ketika pelatih berusia 44 tahun itu mencoba menerapkan filosofinya di Les Parisiens.

“Sangat berbahaya untuk memiliki cara berpikir seperti ini,” kata Tuchel kepada SFR Sport ketika ditanya tentang harapan di Liga Champions. “Karena jika ambisi Anda terlalu tinggi, Anda tidak akan pernah bisa memuaskan mereka.”

“Berapa banyak klub yang berpotensi memenangkan Liga Champions? Mungkin 12, 13, 14 dan pada akhirnya hanya ada satu klub yang mengangkat trofi. Ini terlalu dini untuk membicarakan hal itu. Ini adalah perasaan terdalam saya. Dan saya tidak [hanya] berbicara tentang Liga Champions, tapi [juga] yang lainnya. Itu terlalu cepat.”

“Pertama-tama butuh kerangka kerja. Lalu menciptakan semangat tim. Kami harus bekerja keras untuk itu. Dan ketika kami mendapatkannya, kami harus merawatnya setiap hari sejak bulan Juli, dan dalam setiap harinya.”

“Hanya jika proses ini dijalankan, jika itu dilakukan di dalam tim dan setiap pemain mengabdikan dirinya untuk itu dan meyakini pemikiran ini, maka pada saat itu kami akan melalui selangkah demi selangkah sampai ke puncak.”

“Hanya dengan cara ini kami akan dapat memenangkan gelar terbesar. Saya percaya dengan itu. Ini adalah tantangan terbesar. Dan saya akan mulai dengan itu.”

“Saya tidak pernah diberi tahu ‘Anda harus memenangkan ini, itu dan itu’. Kami ingin menciptakan sesuatu yang istimewa di sekitar tim dan gaya permainan kami. Bahwa setiap pendukung yang hadir di stadion atau di depan layarnya merasakan semua itu. Sesuatu yang spesial bisa terjadi.”

“Saya tidak ingin berbicara tentang semifinal Liga Champions. Masih terlalu dini untuk membicarakan hal itu. Tanyakan kepada saya pertanyaan itu di musim semi jika kami siap.”

“Dan jika kami siap, kami telah bekerja keras sebelumnya. Saya ingin pemain mengatakan pada dirinya sendiri bahwa pertandingan piala liga melawan tim divisi kedua sama pentingnya dengan yang ada di Liga Champions, dan hanya dengan kondisi pikiran seperti ini kami dapat mencapai hal-hal hebat.”

“Jangan tetapkan prioritas. Jika semua orang benar-benar didedikasikan untuk proyek ini, untuk keinginan ini untuk memajukan tim, maka kita akan mencapai kesuksesan.”

“Tetapi pastinya saya berada di Paris untuk menang dan target kami adalah yang tertinggi. Tidak ada yang memiliki ambisi lebih besar daripada saya untuk para pemain dan tim. Tapi itu akan dilakukan selangkah demi selangkah.”