Tebas Kecam Manchester City dan PSG, Kritik Doping Finansial

Tebas Kecam Manchester City dan PSG, Kritik Doping Finansial

Gilabola.com – Presiden La Liga Javier Tebas mengatakan, ‘doping finansial’ jadi masalah utama dalam sepakbola hari ini, seiring secara halus ia mengkritk Manchester City dan struktur pembelanjaan dana PSG.

The Citizens dan PSG keduanya dimiliki perusahaan-perusahaan kaya asal Timur Tengah, serta suntikan dana dari para pemilik klub hingga membuat kedua klub itu menikmati banyak kesuksesan di kompetisi domestik dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, Tebas percaya kedua klub itu telah merusak permainan sambil menyerukan redistribusi kekayaan di antara klub.

“Salah satu masalah utama dalam sepakbola Eropa terkait dengan doping [finansial]. Karena ketika kita memiliki klub yang dibiayai negara, maka itu berdampak pada gaji,” katanya pada peluncuran TV LaLiga.

Advertisement
NelayanBet
NelayanBet
Mimpi 4D
Mimpi 4D

“Itu berarti di negara lain dengan kontrol ekonomi yang lebih ketat seperti klub Spanyol dan Jerman tidak dapat benar-benar meminta negara untuk pembiayaan tambahan untuk membayar gaji tersebut,” tambahnya.

“Organisasi dan institusi memiliki tanggung jawab untuk mendistribusikan kembali kekayaan yang kita hasilkan. Kita semua, Liga Spanyol, Premier League, UEFA, FIFA. Saya tidak berpikir kita membantu sepakbola dengan cara apa pun jika kita menghasilkan kekayaan dan itu akan langsung kembali ke klub-klub besar,” ujar Tebas.

“Pada akhirnya, alih-alih memiliki 12 (mobil) Ferrari, mereka punya 15. Kita berurusan dengan klub-klub besar yang menghasilkan banyak uang. Jadi target kami adalah, mendistribusikan kembali kekayaan itu,” ungkapnya.

Sejak City diambil alih Abu Dhabi United Group pada 2008, mereka telah memenangkan empat gelar Liga Inggris, dua Piala FA, empat Piala Liga, dan tiga Community Shields.

PSG juga menikmati kesuksesan yang sama setelah Qatar Sports Investments mengakuisisi klub itu pada 2011silam. Mereka mengklaim enam gelar Ligue 1, empat Piala Prancis dan lima Piala Liga.

Kedua klub telah mendatangkan sejumlah pemain besar, yang memungkinkan mereka untuk menantang dan seringkali mengalahkan klub-klub mapan yang ada di puncak di negara masing-masing.

Namun kedua klub belum dapat menemukan kesuksesan di Eropa, gagal memenangkan Liga Champions meskipun dengan kualitas skuad yang mereka miliki.